
Nami sudah mengira pertanyaan itu akan meluncur dari bibir Sifa. Bukannya wanita ini pernah terang-terangan menyukai Yugi. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Dan inilah waktunya.
"Ya. Maaf sudah membohongi kalian," kata Nami sambil menyalakan keran air. Dia membasuh tangannya dengan perlahan. Nami sudah bersiap beribu maaf, jika ada banyak orang yang menanyakan itu.
"Huh, maaf?" Sifa yang sedang memoles bibirnya dengan lipstik dari dompetnya, mendengus. Dia menghentikan kegiatannya dan melihat Nami.
Perempuan yang tengah menunduk untuk melihat tangannya itu, mendongak. Dia melihat Sifa dari pantulan cermin juga.
"Kenapa kamu harus meminta maaf?" tanya Sifa.
"Karena ... sepertinya aku dan Yugi membohongi kalian. Kita mengaku menikah karena cinta dan sebagainya waktu itu, tapi kenyataannya adalah bukan seperti yang kita katakan," jelas Nami apa adanya.
"Aku rasa kamu salah jika mengartikan pernikahan kalian tanpa cinta. Lihatlah perut ini." Sifa mengelus perut Nami. "Dia bukti buah hati kalian. Aku bahkan tidak melihat tanda-tanda kalian menikah karena terpaksa," kata Sifa di luar dugaan.
"Kamu tidak berpikir begitu?" selidik Nami tidak percaya.
"Awalnya iya, tapi saat melihat sorot mata Yugi yang selalu bahagia, aku yakin dia menikahi mu bukan hanya karena terpaksa. Karena aku tahu dia seperti apa." Sifa menjeda kalimatnya.
"Bola mata Yugi terlihat begitu penuh cinta dan ketulusan saat melihat mu." Sifa tahu benar bagaimana Yugi menatap istrinya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Nami seperti tidak sadar manik mata suaminya selalu tertuju padanya.
"Huh, dasar kamu ini. Kamu tidak bisa melihat bagaimana Yugi saat menatap mu ya?" tegur Sifa merasa heran.
Nami tersenyum.
"Aku selalu berdebar jika di tatap oleh Yugi. Jadi aku memalingkan muka ke arah lain karena gugup jika dia melakukan itu," cerita Nami polos.
"Hahaha ... Kamu lucu juga." Sifa terhibur. Suasana di antara mereka mencair.
Sifa mengulurkan tangan.
"Apa?" tanya Nami yang meletakkan tangannya di bawah mesin pengering tangan.
"Kenapa tiba-tiba? Kamu merasa kalah untuk memenangkan hati Yugi?" canda Nami.
"Mungkin, tapi lebih tepatnya ... Aku kasihan kamu enggak punya teman untuk melawan si Vera itu," ujar Sifa berkelakar. "Aku hanya bercanda. Jangan di masukkan ke hati."
"Aku tidak apa-apa." Nami tersenyum merasa lucu. Dia pun mengulurkan tangan menerima tawaran Sifa. "Oke. Kita berteman." Mereka pun sepakat. Lalu bersalaman.
__ADS_1
Mereka tergelak bareng.
"Jadi kamu tidak menghina riwayat pernikahan kita?" tanya Nami ingin tahu.
"Untuk apa?" Sifa kembali menatap cermin sambil memoles bibirnya lagi.
"Bukankah kamu menyukai Yugi?" Pertanyaan Nami tepat sasaran.
Sifa langsung menoleh pada Nami dan berhenti memoles bibirnya. "Hah?! Kamu tahu itu?" Perempuan ini terkejut.
"Ya. Tentu saja. Kamu juga selalu menatap Yugi bukan?" Nami mengingatkan.
"Oughh ... Padahal aku sudah menyembunyikannya agar kamu tidak tahu." Sifa jadi malu. Namun itu segera berlalu karena dia sudah tidak lagi ingin memiliki Yugi.
"Sangat terlihat jelas sekali. Sampai-sampai aku harus selalu waspada padamu." Nami berkata jujur.
Sifa tergelak mendengar itu. Nami juga ikut tergelak. "Maaf, membuatmu cemas." Sifa tulus saat mengatakannya.
"Aku wanita kuat. Serangan itu tidak berhasil." Nami menyombongkan diri dengan jenaka.
__ADS_1
"Ya. Kamu memang wanita yang kuat. Bahkan masih bisa tenang dengan semua hinaan adik angkat mu itu," jelas Sifa sungguh takjub.
..._____...