
"Aku tahu, tapi kenapa kamu menggendong ku? Bukankah kamar mandinya ada di sini?" tunjuk Nami heran saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar mandi.
"Ya. Karena aku mau ikut mandi juga," sahut Yugi membuat Nami terkejut.
"K-kita akan melakukannya?" tanya Nami bagai gadai polos. Yugi mengecup bibir Nami lalu tersenyum. Tanpa adanya jawaban dari Yugi pun, sebenarnya Nami tahu apa yang akan di lakukan suaminya.
Mereka akan mandi bersama dan melakukan hal mesra lainnya.
**
Setelah mengunjungi mama waktu itu, Nami makin sering ke sana. Karena beliau ingin selalu melihat keadaan menantunya yang sedang hamil. Tidak begitu merepotkan karena Nami juga menyukai bertemu dengan mertuanya.
Ketika itu Yugi melihat istrinya sedang melakukan sesuatu di pantry.
Saat ini perempuan itu tengah berada di pantry. Nami menyeduh susu ibu hamil yang ia letakkan di dalam laci miliknya. Jadi ia bisa menyeduhnya kapan saja. Lagipula, ini kan perusahaan milik suaminya. Itu artinya dia adalah pemilik juga.
Sebenarnya Nami bisa meminta tolong pada office boy untuk membuatkannya. Namun dia tidak ingin merepotkan orang lain.
Ada keseruan tersendiri saat menyeduh susu. Jadi ia menikmatinya. Hitung-hitung sebagai olah raga. Karena, itu artinya dia akan berjalan agak jauh dari ruangannya.
__ADS_1
Bola mata Yugi berbinar melihat istrinya. Dia tersenyum. Lalu berjalan mendekat.
"Halo, sayang ...," sapa Yugi yang langsung memeluk Nami dari belakang.
"Mas Yugi?" Nami terkejut.
"Iya, ini aku." Yugi mengatakan itu sambil mencium rambut Nami yang beraroma bunga. Harum. Yugi suka.
"Jangan cium-cium begini ... " Nami menggerakkan badannya. Berusaha menghindari ciuman Yugi. Namun pria sudah mengunci tubuhnya agar bisa di cium dengan mudah.
"Kenapa?" tanya Yugi malah menggoda.
"Nanti kalau ada yang lihat, gimana?" tanya Nami menoleh ke samping.
"Meskipun begitu, masa seenaknya sendiri sih. Kalau di rumah sih boleh-boleh aja," kata Nami.
Yugi menggeser tubuh istrinya ke dinding. Jika berdiri di sini, orang di luar tidak akan melihat keberadaan Nami karena terhalang dinding.
Nami pikir Yugi akan berhenti memesrai istrinya, tapi Nami salah. Justru Yugi mencium bibirnya. Pertautan pun terjadi.
__ADS_1
Terdengar suara langkah orang-orang di lorong. Kemungkinan mereka akan masuk ke pantry. Karena ujung jalan ini adalah pantry. Tidak ada tujuan lain.
"Halo, Pak Yugi," sapa mereka yang melihat bahu Yugi di balik dinding. Ternyata benar mereka ada perlu ke pantry. Yugi langsung melepas ciumannya. Dia menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata ada 3 pria. Yugi tersenyum.
"Ya halo. Mau minum kopi?" tanya Yugi.
"Ya, kita ..."
"Duduk saja di sana. Aku akan buatkan." Yugi segera menawarkan diri. Dia menahan mereka masuk. Karena dia tidak ingin orang lain tahu ada Nami di dalam pantry.
"A-apa Pak?" tanya mereka heran. Kalimat yang Yugi ucapkan mungkin sudah jelas, tapi mereka perlu menanyakan lagi karena ini tidak biasa.
"Aku akan membuatkan kalian kopi," ulang Yugi.
"Tidak perlu, Pak. Kami bisa buat sendiri," tolak mereka.
"Jangan menolak. Duduk saja di sana," kata Yugi tetap menahan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, Pak." Mereka terpaksa setuju. Karena tidak berani menerima kebaikan pemilik perusahaan. Jadinya mereka mundur dan duduk di kursi tepat di depan pantry.
...____...