
Nami melirik. Dia senang. Meskipun awal perjumpaan mereka tidaklah baik, tapi kini justru menjadi teman baik.
"Sebaiknya kita lewat pintu lain saja." Sifa meraih lengan Nami dan membimbingnya ke pintu lain. Mumpung belum terlihat oleh dua orang itu, mereka balik arah.
Mereka terhindar dari dua manusia berhati jelek itu. Sifa langsung menggila saat tiba di counter pakaian.
"Wahh ... ini yang aku lagi cari. Untung dapat di sini." Sifa memeluk blus berwarna salem itu.
"Bukannya mal ini dekat. Kenapa enggak cepat kesini buat hunting baju ini?" tanya Nami.
"Ini yang ke berapa kalinya aku ke sini, tapi belum dapet. Bersama bayi ini aku beruntung." Sifa mengelus perut Nami dengan lembut. Itu membuat bayi itu bereaksi.
"Hei, Nami! Dia bergerak!" seru Sifa girang. Nami menunduk melihat bayinya bergerak. Itu membuat perutnya berbentuk aneh. "Hei, perutmu jadi aneh. Hahaha." Sifa malah tertawa geli melihat perut Nami.
Nami tersenyum. "Elusan mu di respon sama anakku."
"Benar, benar. Dia mengenalku." Sifa tersenyum senang melihatnya.
"Ya, dia tahu kalau kamu pernah mendekati ayahnya," canda Nami.
"Heiiii ..." Sifa protes. Nami ketawa. "Kan itu dulu. Aku sudah enggak minat sama Yugi. Eh, bukan enggak minat, tapi lebih tahu diri karena bakal di tolak, hahahaha."
__ADS_1
Setelah bagian fashion dewasa, kini tiba di tempat baby. Nami sedang melihat-lihat.
"Enggak sekalian beli?" tanya Sifa.
"Enggak. Aku enggak mau menghilangkan keseruan mencari baju bayi dengan suami," jawab Nami.
"Yey, yang punya suami ...," ledek Sifa. "Lucu sekali ya baju-bajunya." Sifa ikut menyentuh baju-baju bayi yang imut.
"Sepertinya sudah waktunya kamu menikah karena suka lihat baju bayi," canda Nami.
"Belum ada calon," jawab Sifa singkat. Rupanya Sifa merespon. "Lagian susah sekali cari pria baik seperti Yugi."
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Sifa heran.
"Reno."
"Kamu mau di ajak jalan denganku karena da misi jodohin aku dan dia ya?" selidik Sifa.
"Enggak." Nami menggelengkan kepala.
"Pasti Yugi yang memintamu untuk bicara soal Reno," desak Sifa.
__ADS_1
"Bukaannn. Ini pemikiran ku sendiri. Lagipula ngenyel banget bilang aku di suruh Yugi." Nami menepuk lengan Sifa pelan. Wanita ini tiba-tiba diam.
"Karena dia sempat nyuruh aku sama Reno juga. Terus ... Reno juga pernah bilang naksir," kata Sifa pelan.
"Hah? Yang bener? Waahh ..." Nami tertawa bahagia.
"Sudah. Kalau enggak beli kita pergi saja. Kalau enggak, aku bisa di ledekin terus nih." Sifa memaksa pergi.
"Iyaaa, ayok. Aku mau beli macam-macam buah saja."
Namun sungguh takdir, saat keluar dari toko mereka justru bertemu dengan duo manusia jahat.
"Ternyata kamu bisa bersenang-senang ya ..." Vera memulai. Sifa melirik tajam. Nami sudah tidak mau memedulikan mereka, tapi Vera malah menghalangi jalan Nami. Ini membuat Nami dan Sifa terpaksa berhenti.
"Hei, kenapa menghalangi jalan orang sih?!" tegur Sifa jengkel.
"Aku bukan sedang berurusan sama kamu. Jadi diamlah." Vera langsung menyuruh Sifa diam.
"Apa kamu bilang?" tanya Sifa hampir saja meledak kalau tangan Nami tidak segera menahan Sifa.
...____...
__ADS_1