
Lagi. Vera membuat semua orang tahu status Nami di dalam keluarganya. Nami hanya diam. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ekspresi terkejut.
Nami tidak tersakiti. Sekarang dia bisa menerima kalau dia memang bukan bagian dari keluarga Vera. Dia tidak peduli semua orang tahu bahwa dirinya hanya anak dari panti asuhan.
Yang terpenting buat Nami sekarang adalah Yugi bisa menerimanya. Pria itu sudah menerimanya tanpa peduli dengan semua itu. Jadi tidak ada lagi yang perlu di takutkan.
"Bisa saya usir perempuan ini sekarang, Bu?" tanya sekuriti tidak tahan dengan tingkah Vera. Dia juga wajib melindungi istri bos-nya dari hal semacam ini.
"Tidak. Tidak perlu." Nami tersenyum.
"Oh baiklah." Meski dia ingin segera mendorong wanita ini keluar, tapi ternyata istri bos-nya merasa baik-baik saja. Dia harus patuh dengan tetap siaga kalau-kalau perempuan ini melakukan hal gila.
"Kalau begitu, kenapa tadi menyebut diri kamu adalah adikku kalau memang aku hanya anak pungut keluargamu? Bukankah itu pengakuan kalau aku kakakmu?" tanya Nami. Vera menipiskan bibir kesal.
"Aku hanya sekedar bicara," sahut Vera.
__ADS_1
"Meskipun begitu aku tidak merasa senang. Aku justru kesal kamu menyombongkan diri mengaku menjadi adikku di perusahaan milik suamiku ini," ujar Nami.
"Suami mu? Hahahaha ... Kamu memang pintar." Vera tertawa menjengkelkan. Semua melihat ke arah Vera dengan aneh. Berbisik-bisik yang isinya pasti "Kalian semua tahu, bos kalian itu dulunya adalah kekasih ku. Namun sekarang dia menikah dengan perempuan ini. Dan sekarang dia berlagak sombong karena sudah merebut kekasih ku."
Bola mata semua orang melirik ke arah Nami. Fakta baru lagi.
Mereka menatap Nami dengan tatapan menyelidik. Nami menghela napas.
"Merebut? Kamu yakin sedang membicarakan aku?" tanya Nami.
"Ya. Bukankah Yugi adalah tunangan ku, tapi ternyata dia menikah denganmu," tunjuk Vera.
"Lalu? Apa yang perlu di debatkan? Yugi menyukainya," kata Nami santai. Dia tidak salah. Yugi mencintainya sekarang. Bahkan pria itu sudah menanamkan pada rahimnya.
Tanpa sadar tangan Nami ingin mengelus perutnya. Namun urung melakukannya karena dia sedang berhadapan dengan orang ini.
__ADS_1
"Jangan sombong karena sudah mendapatkan Yugi. Bukankah kamu bisa menikah dengan Yugi karena mama? Kalau saja mama tidak memaksamu menikah dengan Yugi, kamu tidak pernah bisa menjadi istri Yugi!" teriak Vera.
Orang bodoh akan semakin terlihat bodoh di depan orang lain saat mereka berlagak. Vera melakukannya. Dia tidak sadar bahwa kalau itu mengatakan tentang dirinya juga. Sekali lagi Vera mengungkap fakta dan aib di dalam keluarga mereka.
Nami tidak habis pikir dengan perempuan ini. Dia menggelengkan kepalanya samar.
Seruan pelan terdengar dari sisi kanan, kiri dan belakang Nami. Mereka pasti menggunjing.
"Ya. Mama memaksaku menikah dengan Yugi karena kamu yang menjadi tunangan Yugi, tidak bisa mengemban tanggung jawab itu. Kenapa? Karena kamu justru hamil dengan pria lain. Kekasihku ...," ungkap Nami.
Semua mata orang-orang di lobi perusahaan yang tidak begitu besar melebar. Kebenaran dari bibir istri atasan mereka sungguh mengejutkan di indra pendengaran masing-masing.
Tidak ada lagi seruan terkejut seperti tadi. Kemungkinan orang-orang ini syok mendengar apa yang di katakan Nami barusan hingga hanya bisa membiarkan mulutnya menganga.
Sifa di samping Nami menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Dia menatap perempuan ini dengan tidak percaya.
__ADS_1
Di paksa menikah? Nami dan Yugi?
..._____...