
"Iya. Aku ingin segera menggendongnya." Nami meremas tangan Sifa karena membayangkan betapa menggemaskannya nanti ketika ia bebas menyentuh bayinya.
"Ya. Aku juga bisa membayangkan itu akan menyenangkan," respon Sifa sambil ikut tersenyum. Kemudian dia melihat tempat makan di tangan Yugi. "Masih makan ya? Sini aku yang suapin Nami," pinta Sifa pada Yugi. Ia meminta tempat makan yang di pegang Yugi. Pria ini setuju. Dia menyerahkan tempat makan berbahan stainless pada Sifa.
"Kalau begitu, aku keluar sebentar dengan Reno," kata Yugi.
"Kemana?" tanya Nami.
"Tidak jauh, hanya kantin rumah sakit," jawab Yugi sambil mengelus kepala istrinya sebentar.
"Baiklah."
"Biar Nami aku yang nemenin," kata Sifa yang sepertinya tahu mereka akan membicarakan apa.
"Ya, tolong jaga istriku. Aku keluar dulu ya ..."
"Ya," sahut Nami.
**
Mereka berdua menuju cafe di depan rumah sakit karena kantin ramai siang ini.
__ADS_1
"Bagaimana dengan tugasmu?" tanya Yugi seraya menyeruput minuman di depannya.
"Aku sudah mengumpulkan semua bukti yang di butuhkan untuk menuntut mereka."
"Apakah itu cukup bisa membuat mereka di penjara?"
"Bisa. Itu penganiayaan terencana, Gi. Aku juga sudah memberitahu pada pengacara yang kamu tunjuk."
"Baguslah. Aku tidak tenang jika Vera masih berkeliaran."
"Tenang saja. Pengacara akan menyelesaikan semuanya." Reno menepuk pundak Yugi. "Sebenarnya hari ini aku akan mempertemukan mu dengan pengacara itu."
"Siap."
"Jadi ... kamu benar-benar sudah menyatakan perasaanmu pada Sifa?".
"Hahahaha ... Kenapa? Kamu penasaran?" Reno tertawa Yugi akhirnya bertanya juga.
"Tidak terlalu. Hanya saja itu mengejutkan. Karena baru beberapa hari yang lalu kalian masih belum ada apa-apa."
"Iya. Itu kejadian yang terjadi tiba-tiba." Reno ingat ketika masih dalam keadaan panik dan tegang ketika Nami masih Harau berjuang dalam persalinan. Namun Reno tidak perlu mengatakannya. Karena saat itu adalah saat Yugi begitu terguncang.
__ADS_1
**
Di rumah Vera.
Dia masih merasa tidak tenang. Wanita ini terus saja merasa ada yang akan mendatanginya. Ia bahkan tidak berani keluar kamar. Tetap saja meringkuk di dalam kamar dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Seakan-akan dia sedang bersembunyi.
Pintu kamar terbuka dari luar. Muncul mama yang datang dengan raut wajah kesal melihat tingkah putrinya.
"Masih saja seperti itu," keluh mama. Perempuan ini masuk sambil membawa nampan berisikan makanan. Lalu menoleh pada tirai jendela yang tertutup. Beliau meletakkan nampan di atas nakas. Lalu berjalan menuju jendela. "Kenapa tirai ini tertutup lagi."
"Jangan di buka, Ma!" cegah Vera.
Mama menoleh. "Jangan di buka gimana? Ini sudah siang. Jadi semua gorden harus di buka," bantah mama. "Padahal tadi pagi mama sudah membukanya agar matahari masuk menyinari kamar kamu." Mama tidak menggubris penolakan Vera.
"Aku tidak mau ada yang tahu aku ada di sini, Ma." Vera meringkuk lagi.
"Siapa yang mau mencari mu? Ayo buka selimut ini." Mama memaksa Vera keluar dari selimutnya, tapi perempuan itu makin menarik selimutnya untuk menutupi keseluruhan tubuhnya. "Hei! Ayo singkirkan selimut ini dari tubuhmu, Vera!" Mama memaksa menarik selimut itu dari tubuh Vera. "Vera!" teriak mama kesal.
Akhirnya selimut itu terlepas dari tubuh Vera. Mama terlihat lelah. Napas beliau naik turun karena berebut selimut dengan putrinya.
..._____...
__ADS_1