
"Jadi kamu memilih membela Nami daripada hormat padaku?" tanya mama mencoba terlihat tenang di balik keterkejutannya.
"Tentu. Saya seratus persen berada di pihak istriku, Nyonya," kata Yugi. Nami yang sejak tadi membeku dan tertegun mendengar kenyataan ini mulai melihat ke arah mereka.
"Y-yugi, kamu ... Mama! Dia sangat kurang ajar! Mbak Nami, kamu itu sangat durhaka. Kamu enggak membela mama sedikit pun. Lihatlah harga diri kita di injak-injak oleh suamimu ini. Seharusnya kamu itu ikut bicara untuk membela kami!" Vera langsung memarahi Nami.
"Maaf, nona dan Nyonya. Saya tidak mengenal Anda. Usir mereka, Mas. Aku pusing melihat mereka ada di sini," ujar Nami seraya mengibaskan tangannya.
"Baik sayang." Yugi menjauh dari sofa dan melebarkan pintu depan. "Silakan Anda berdua keluar dari rumah ini. Karena saya juga tidak ada kepentingan lagi dengan Anda." Kata-kata Yugi langsung menunjukkan kalau mereka adalah orang lain.
"Kalian berdua ..." Vera meradang dan ingin marah, tapi mama langsung menahan putrinya.
"Sebaiknya kita pergi," ajak mama.
"Tapi Ma ..."
Mama tetap mengajak Vera untuk keluar. Yugi langsung menutup pintu setelah kaki mereka melangkah dari rumah. Setelah itu Yugi mendekat ke Nami yang mulai terisak. Yugi memeluk tubuh perempuan ini.
"Kamu dengar apa yang tadi mereka bicarakan?" tanya Nami. Yugi mengangguk. "Aku bukan anak mama. Mama tidak melahirkan aku. Lalu aku anak siapa? Kenapa mama baru mengatakan sekarang?" Suara Nami terdengar tertelan oleh isak tangisnya.
"Mungkin seperti ini lebih baik, sayang. Mereka terlalu sering menyakitimu."
"Tapi aku ... tapi aku ... Aku enggak punya keluarga. Aku sebatang kara. Apa yang lebih baik, Mas?"
"Sstt ... ssst ..." Yugi menenangkan istrinya. Yugi menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut. Mencoba mendapat perhatian penuh dari istrinya. "Kamu itu punya aku. Punya bunda, ayah dan Mbak Yana. Mereka keluargamu."
"Aku tahu. Tapi aku ... ingin bertemu keluargaku yang sebenarnya, Mas. Aku ingin bertemu mereka." Air mata Nami terus saja mengalir.
"Iya aku mengerti. Sekarang tenangkan dulu diri kamu. Jangan menangisi mama dan Vera yang jelas-jelas selalu menempatkan kamu pada posisi salah. Kita akan menelusuri tentang keluarga kamu." Yugi mengelus pelipis dan menghapus air mata di pipi istrinya.
Tangisan mulai mereda. Mendengar Yugi bicara, Nami mulai tenang.
"Tapi ... darimana kita tahu siapa ... keluargaku?"
"Pasti banyak cara. Sekarang sebaiknya kita duduk dulu. Kamu kan bilang tidak enak badan," pinta Yugi. Perempuan ini mengangguk. Yugi membimbing istrinya duduk.
"Sebaiknya aku meminta orang untuk menjaga rumah ini. Jika Vera dan mama datang lagi, dia bisa mengusirnya." Yugi mulai cemas mereka akan muncul di rumah ini lagi.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa."
"Tidak. Aku yang cemas," potong Yugi cepat. Nami diam.
"Baiklah. Mas bisa taruh orang untuk berjaga." Nami mengalah.
"Aku mau mandi, lalu kita pergi keluar. Kita akan jalan-jalan supaya kamu terhibur." Yugi mengecup kening istrinya.
"Mau mandi?" tanya Nami masih dengan suara serak karena tangis. Pria itu mengangguk.
"Iya. Apa kamu mau kita mandi bersama?" tawar Yugi membuat Nami terkejut. "Memijit bisa meringankan lelah. Bahkan pusing di kepala bisa enteng jika kita melakukannya. Jadi aku saranin untuk pijat-pijat." Yugi sedang mencoba mencari alasan.
Nami tersenyum. "Aku tahu." Nami bangkit dari duduknya. Yugi menaikkan alisnya. Dia menunggu kalimatnya selanjutnya. "Aku mau mandi sama Mas Yugi."
Yugi berbinar mendengar keinginan istrinya yang mengejutkan. Ini pertama kalinya Nami meminta kegiatan intim. Tanpa basa-basi, Yugi meraih tubuh Nami untuk masuk dalam gendongannya.
"Ahhh!" teriak Nami terkejut. "Mas." Nami memukul lengan Yugi.
"Kamu mau mandi sama aku, kan? Ayo, kita lakukan segera." Yugi mengecup bibir Nami pelan dan segera membawa tubuh itu ke kamar mandi.
Esok hari. Perusahaan Nami.
"Kamu bertengkar dengan Yugi?" tanya Yuli.
"Enggak," jawab Nami terkejut.
"Em ... Apa Vera?" tanya Yuli tepat.
"Kenapa?" Nami justru bertanya.
"Sejak tadi adikmu melirik tajam," kata Yuli memberitahu. Nami mencari gadis itu. Benar. Vera tengah menatapnya tajam.
Huh. Siapa yang salah, siapa juga yang marah. Dasar Vera. Sama saja seperti mama. Ah, bukan. Dia bukan mamaku.
__ADS_1
"Kalian ada masalah?" tanya Yuli sambil menyeruput jus. Saat ini mereka di kantin. Perempuan itu entah kenapa justru muncul di sini. Padahal biasanya tidak nampak. Mungkin pria itu yang membuatnya turut serta makan siang di sini. "Ya ... Selain gosip soal kamu menggoda Pak Rico." Yuli juga dengar soal itu.
"Sejak awal kita ada masalah. Sejak aku harus menikah dengan Yugi," jawab Nami.
"Ya, ya soal itu juga masalah."
"Aku dan Vera bukan saudara kandung," ungkap Nami akhirnya.
"Hah? Kalian?" tanya Yuli terkejut. Nami mengangguk pelan. Ada rasa sakit dan sedih saat mengatakannya, tapi ia harus bisa menerima kenyataan. Nami harus mulai membiasakan status itu dari sekarang. "Kamu enggak apa-apa, Nami?" tanya Yuli khawatir. Ia menyentuh punggung tangan Nami dan menggenggamnya.
"Jelas tidak." Nami berkata jujur. Yuli menipiskan bibir mencoba ikut dalam kesedihan ini. "Namun aku mencoba baik-baik saja. Yugi bilang lepas dari status persaudaraan dengan mereka mungkin lebih baik. Karena selama ini, selalu aku yang di salahkan dalam banyak hal."
"Mungkin Yugi benar."
"Aku percaya itu karena aku memang mengalaminya. Mungkin ini awal hidupku jadi lebih baik tanpa mereka," kata Nami. Meski mencoba terlihat kuat, tapi kenyataan bahwa keluarga yang ia anggap adalah 'rumah' selama ini ternyata bukanlah keluarga kandungnya tetaplah menyakitkan. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Yuli menghapus air mata itu. Nami tersenyum pedih sambil ikut mengusap air mata.
"Benar. Ini awal yang baik, Nami." Yuli melepaskan genggaman tangannya. "Selanjutnya bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku ingin memenangkan diri dulu. Namun perlahan akan mencari keluarga kandungku. Yugi tidak ingin aku melakukannya dalam waktu dekat. Karena aku agak kurang sehat."
"Ya. Wajahmu pucat. Aku pikir karena kamu mendengar gosip tentangmu di kantor." Yuli melihat wajah Nami pucat, tapi ia urung bertanya karena merasa tahu jawabannya.
"Soal itu aku enggak peduli. Terserah." Nami mencomot Cwie Mie Yuli dengan sumpit miliknya. Perempuan ini mendekatkan mangkuk miliknya agar memudahkan Nami mengambilnya.
"Ya. Bersikaplah seperti kamu biasanya. Nggak peduli dengan hal yang bikin kamu pusing kepala." Yuli mendukung sikap Nami.
"Yul ... Perutku kok enggak nyaman ya ...," keluh Nami seraya memegangi perutnya.
"Napa? Ingin BAB?" tanya Yuli.
"Bukan. Aku ingin muntah habis makan itu," kata Nami menunjuk mie ayam yang ada di mangkuk Yuli.
"Ini enggak beracun. Aku enggak apa-apa. Kenapa kamu merasa perutmu enggak nyaman?" tanya Yuli heran dan cemas.
..._____...
__ADS_1