
"Setelah makan, sebaiknya kita keluar," kata Yugi mempunyai rencana.
"Y-ya." Nami gugup. Padahal ia mencoba tampak tenang.
"Aku bantu?" tawar Yugi.
"Tidak. Semuanya hampir selesai, tinggal ini saja. Kamu bisa duduk di sana. Tunggu saja dengan tenang." Nami menolak bantuan Yugi. Pria ini tidak memaksa. Dia mengikuti semua yang di katakan Nami, yaitu duduk di kursi menunggu wanita itu menyelesaikan masakannya.
Tidak lama Nami muncul untuk meletakkan makanannya. Yugi memandangi perempuan ini. Dia selalu merasa bahagia memandangi Nami.
"Makanan sudah siap. Kita bisa sarapan," kata Nami mempersilakan. Tatapan itu menyadarkan Yugi untuk segera menyahuti. Itu berarti membuat Yugi harus berhenti memandangi dengan lama.
"Oh baiklah." Yugi tersenyum. Setelah Nami duduk di kursi juga, sarapan pagi pun dimulai. Ada rasa yang tidak biasa pagi ini. Tatapan Nami ke dirinya terlihat berbeda. Wanita itu seperti selalu menunduk saat mata mereka bersirobok. Atau mengalihkan pandangan ke arah lain. Itu bukan kebiasaan Nami sebelumnya. Wanita itu biasanya tidak peduli. "Apa ada hal yang ingin di bicarakan?" tanya Yugi.
__ADS_1
Kepala Nami menggeleng cepat. "T-tidak." Wajah panik langsung ketahuan.
"Apakah ciuman ku membuatmu canggung?" tegur Yugi mengejutkan. Sontak saja itu membuat pipi Nami memerah. Itu pertanda wanita ini malu. Yugi bisa membaca itu berarti benar. Wanita ini malu bertatapan, karena ciuman.
"E, itu ... Bisakah tidak bertanya dengan santai?" protes Nami geram.
"Hahaha ... Maaf, tapi aku harap kamu tidak selalu menunduk saat bertatap mata denganku." Yugi ternyata bukan pria yang suka basa-basi. Dia lebih tenang saat mengatakan semua.
"M-maafkan aku. Aku ..." Nami kebingungan di todong kalimat seperti ini. Langsung saja ia tidak bisa menjawab. Ia langsung meneguk minuman di sebelah tangannya. Yugi melakukannya juga. Setelah itu ia menatap istrinya lagi.
"Yugi!" Nami langsung berdiri. Berjalan memutar untuk sampai di kursi tempat Yugi duduk.
"Hhh ... Aku basah karena menyenggol gelas berisi air. Sungguh ceroboh," kata Yugi menertawai dirinya. Nami meraih lap bersih di atas meja. Lalu membersihkan meja yang basah itu dengan segera.
__ADS_1
"Buka kaos mu dan ganti," kata Nami memberi perintah seraya menoleh sebentar pada Yugi yang masih duduk di kursinya. "Kita makan lagi setelah kamu selesai ganti kaos," lanjut Nami.
"Ini tidak apa-apa. Hanya basah sebagian saja," kata Yugi tidak terlalu mempermasalahkan kaosnya yang basah.
"Tidak, tidak. Kamu nanti masuk angin kalau harus makan dengan kaos basah, Yugi ..." Nami melebarkan mata karena geregetan. Yugi tergelak.
"Itu lucu," celetuk Yugi tetap tidak mau bangkit dari duduknya. Nami pun terpaksa mendekat untuk memaksa pria ini.
"Ayo Yugi ... Berdirilah. Aku harus mengeringkan meja agar kita cepat sarapan lagi." Nami menarik lengan Yugi agar menyingkir dari kursinya. Namun pria itu malah membuat tubuhnya berat hingga Nami tidak bisa menarik tubuhnya.
Yugi tersenyum melihat tingkah istrinya. Tanpa di duga, Yugi justru menarik lengan Nami. Tarikan ini membuat tubuh Nami terpelanting ke arahnya. Lap di tangannya ikut terlempar ke lantai karena ia tidak kuat menggenggamnya.
"Yugi!" seru Nami terkejut bukan main.
__ADS_1
...______...