Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 82 : Masa tegang usai


__ADS_3

Kemudian perempuan ini menunduk tanpa menarik tangannya lagi. Reno bisa mengartikan itu adalah sikap menerima. Setelah beberapa detik diam, Sifa mendongak dengan wajah marah. Reno mengerjapkan mata. Dia menyiapkan diri untuk di sembur.


"Keterlaluan. Nami sedang berjuang di dalam, kamu malah seperti ini," kata Sifa lirih tapi sorot matanya tajam.


"Aku juga berharap Nami dan bayinya selamat, Sifa. Karena mereka adalah orang kesayangan sahabat ku. Bukan begitu?" Reno mencairkan suasana sambil tersenyum. Sifa menghela napas dan membuang muka. Sifa tidak bisa berkata-kata.


Cara ini mungkin ampuh untuk menenangkan dia yang panik karena Nami. Karena itu dia terlihat lebih tenang daripada tadi, karena sekarang pikirannya tertuju pada Reno.


***


Kamar perawatan.


Sejak ada kabar bahwa bayi selamat begitu juga ibunya, Yugi tak henti-henti mengucap syukur. Saat ini ia terus saja menggenggam tangan Nami dengan erat. Rasa gelisah dan takut yang berkecamuk di hati sudah hilang. Namun tetap saja Yugi belum tenang karena masih tidak melihat bayinya.


Mata Nami masih terpejam setelah proses persalinan. Tampak wajah Nami yang pucat dan lelah. Yugi mengusap kepala istrinya dengan sayang.

__ADS_1


Aku harap anak kita baik-baik saja, Nami. Aku masih belum melihatnya karena mencemaskan mu.


Bayinya masih perlu mendapatkan perawatan intensif di ruangan Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Perawatan intensif harus segera dilakukan hingga kondisi bayi sudah stabil.


Dia juga belum memberi kabar pada orangtuanya soal Nami. Dia masih tidak ingin di temui banyak orang. Kondisi Nami belum benar-benar boleh di jenguk banyak orang. Apalagi bundanya akan panik jika mendengar keadaan menantunya.


Pintu kamar terbuka perlahan. Kepala Reno muncul dari balik pintu.


"Kita boleh masuk?" tanya Reno hati-hati. Yugi mengangguk. Setelah di beri ijin, Reno masuk. Di ikuti oleh Sifa di belakangnya.


"Ya, tapi dia masih lemas karena lelah proses persalinan," jawab Yugi.


"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Sifa ingin tahu.


"Aku belum melihatnya lagi setelah lahir dan di bawa langsung ke ruangan lain, tapi dokter bilang anak kami tidak apa-apa. Namun anakku masih perlu perawatan intensif karena lahir prematur." Yugi menjelaskan dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku akan mencoba melihatnya setelah ini," kata Sifa ingin membantu.


"Ya, tolong lihat anakku. Aku belum bisa meninggalkan Nami saat dia belum pulih dengan benar," pinta Yugi dengan wajah ikut lelah. "Mungkin nanti aku akan kesana untuk melihatnya lagi."


Kedua orang itu mengangguk mendengar Yugi bicara.


"Bagaimana soal Vera dan mamanya?" tanya Sifa.


"Pelankan suaramu, Sifa," tegas Yugi setengah berbisik. Bahkan dia melirik pada Nami yang masih tertidur. Seperti tidak ingin perempuan itu mendengar lagi nama Vera. Sifa dan Reno ikut menoleh pada ranjang. "Sebaiknya kita bicara di luar." Yugi menunjuk pintu dengan dagunya. Mereka setuju untuk keluar. Tangan Yugi menutup pintu dengan pelan dan hati-hati. Dia tidak ingin Nami terbangun karenanya.


"Kenapa kita harus bicara di luar? Apa kamu tidak akan membicarakan ini dengan Nami?" tanya Sifa yang melihat Yugi terlihat mencoba sembunyi dari istrinya.


"Tidak. Sudah cukup aku bersabar menghadapi keluarganya. Ini saatnya aku mengambil cara ku sendiri untuk memberi mereka hukuman," kata Yugi yang mulai duduk di kursi yang di letakkan di depan kamar perawatan VIP ini.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2