Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 106 : Air mata


__ADS_3

Sebelum bunda masuk ke dalam kamar Nami dan menemukan perempuan itu menangis.


Bunda sedang menimang cucu di ruang tengah. Sebenarnya beliau hendak masuk ke dalam kamar menantunya, tapi ketika tepat berada di depan pintu yang tidak tertutup sempurna, beliau melihat Nami menangis. Jadi beliau urung dan kembali ke ruang tengah.


Saat itu Yana yang keluar dari kamar menghampiri Bunda.


"Mana Nami, Bun?" tanya Yana seraya melongok Nami ke arah kamarnya.


"Ada. Dia ada di kamarnya."


"Lagi tidur?" tanya Yana.


"Enggak."


"Mmm ... Aku mau ke kamar Nami. Aku mau ..."


"Lebih baik kamu jaga keponakanmu ini," cegah Bunda. Ini membuat Yana heran. Jika biasanya dia harus berebut menggendong bayi ini, tapi sekarang justru bunda menyerahkan bayi itu begitu saja padanya.


"A-ada apa, Bund?" tanya Yana heran dan bingung seraya menerima bayi dari gendongan bundanya. Ada yang aneh dengan Nami sampai bunda ingin menyerahkan bayi yang menggemaskan ini padanya.

__ADS_1


"Bunda mau menemui Nami. Jangan ikut. Biar mama yang kesana sendirian."


"Ada apa Bun?" tanya Yana lagi menghentikan langkah bundanya.


"Nami sedang menangis, Yana ...”


"Benarkah? Apa itu karena ... sidang putusan keluarganya?" tanya Yana langsung paham. Bunda mengangguk.


"Ya." Bunda mengecup pipi cucunya lebih dulu. "Bunda ke kamar dia dulu ya?" kata Bunda seraya menepuk pundak Yana.


"Iya bun." Yana membiarkan beliau menuju ke kamar Nami.


 


 


“Bunda sudah tahu kamu pasti akan menangis seperti ini kalau mendengar putusan hakim,” ujar Bunda.


“M-maafkan Nami, Bunda. Nami hanya ... Nami hanya ...” Lidah perempuan ini mendadak kelu. Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Rasa sedih makin memburunya. Itu membuatnya tidak kuasa menahan air mata berderai lagi.

__ADS_1


Bunda menjulurkan tangan beliau untuk merengkuh tubuh menantunya. Dalam sekejap, Nami berada dalam pelukan mertua. Perempuan ini menangis di dalam pelukan beliau. Bunda membiarkan istri putranya ini mengeluarkan semua air matanya.


Setelah beberapa menit Nami menangis, kini bunda melepas pelukannya. Karena tangisan Nami mulai mereda.


"Jangan meminta maaf. Apa yang membuat kamu untuk meminta maaf pada Bunda? Kamu tidak salah. Tidak ada yang salah pada dirimu sayang ..." ujar Bunda seraya mengelus kepala Nami. Juga menyapu anak rambut yang jatuh ke pipi menantunya. "Meskipun kamu setuju untuk menuntut mereka, bunda tahu kamu pasti sedih. Namanya juga mereka keluarga mu. Jadi untuk apa sebenarnya kamu meminta maaf pada Bunda? Enggak apa-apa kok kamu menangis."


Nami tersenyum tipis dengan wajah sembabnya.


"Bunda memang baru belakangan ini tahu kalau mereka itu bukan keluarga kandung mu, tapi tetap saja mereka adalah keluarga kan?"


Kepala Nami mengangguk samar.


"Enggak apa-apa kamu menangis karena mereka. Jangan sembunyi-sembunyi lagi dari Bunda tentang mereka. Jangan malu juga. Bunda mengerti kok," kata bunda sambil memegang pundak Nami.


"Nami tidak tahu lagi harus bagaimana berterima kasih pada Bunda," ujar Nami seraya menghapus sisa air mata.


"Lho, berterima kasih gimana? Bunda enggak ngapa-ngapain kok." Bunda tergelak pelan. Suasana tidak begitu sendu ketika Nami sendirian.


"Nggak. Bunda sudah menerima Nami dengan semua permasalahan keluarga angkat Nami yang amburadul. Itu merupakan kebahagiaan yang tidak bisa di ungkap dengan kata-kata. Nami sangat bersyukur bisa menemukan mertua seperti Bunda yang menganggap Nami anak sendiri."

__ADS_1


..._____...


__ADS_2