
Bola mata Reno menoleh pada Sifa yang membeku. Yugi melihat ke arah ponselnya. Sepertinya ada yang menelepon.
"Iya, halo." Yugi menerima telepon. Dia membawa kopi dan menjauh dari pantry.
"Apa yang kamu tanyakan Sifa?" tanya Reno yang sepertinya mengerti perempuan ini punya perasaan khusus pada Yugi.
"Hanya pertanyaan simpel," jawab Sifa seenaknya.
"Itu bukan pertanyaan simpel, Sifa. Kamu tahu kamu itu kelewat batas. Kamu keterlaluan." Reno menasehati. Pria ini sampai perlu menegur karena menurutnya sudah tidak tepat.
"Aku tidak bisa tenang, Reno. Ada yang salah dengan pernikahan Yugi. Aku merasa ada sesuatu yang membuat Yugi menikah dengan terburu-buru seperti ini. Ada yang di sembunyikan."
"Itu urusan mereka, Sifa."
"Aku tidak rela, Ren. Tidak rela." Sifa menunjukkan emosinya. Reno tertegun. "Aku yang sudah menunggunya lama, tapi perempuan itu yang langsung di nikahinya."
"Itu berarti perempuan itu jodohnya, bukan kamu Sifa," jelas Reno.
"Aku tidak bisa terima itu."
"Lalu kamu maunya apa?" Reno pun sepertinya gemas.
"Aku ingin kita bertamu ke rumah Yugi."
"Bertamu?"
"Tolong atur beberapa orang untuk di ajak ke rumah Yugi sepulang kerja nanti. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya hubungan dia dengan istrinya."
"Itu gila, Sifa. Jika Yugi tahu, dia akan marah. Dan itu akan berpengaruh pada hubungan pertemanan kalian." Reno mengatakan ini dengan tegas. Dia tahu siapa Yugi.
"Tolonglah, Ren. Aku juga ingin memastikan ini jika ingin hatiku tenang. Kamu tahu aku mencintai Yugi. Aku tidak bisa merelakan dia dengan perempuan yang tidak baik. Kamu pikir mencintai seseorang hanya perlu waktu satu hari dua hari? Tidak kan? Dan sepertinya pernikahan mereka bohong."
"Kamu memang sedang menggila, Sifa. Gila. Kenapa mengulik pernikahan Yugi yang sudah sah?"
"Aku mencintai Yugi, Ren."
"Ganti cintamu ke orang lain yang masih bisa kamu cintai. Bukan mengurusi Yugi yang tidak bisa di miliki." Reno memberi pengertian untuk perempuan ini agar menyerah.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak bisa." Sifa merapatkan tangan-tangannya untuk memohon. "Tolong ya, Ren."
"Hhhh ... " Reno menghela napas berat.
...***...
Karena permintaan Sifa, Reno merencanakan kedatangan ke rumah Yugi secara mendadak.
"Berkunjung ke rumah ku?" tanya Yugi sedikit terkejut.
"Ya. Kita kan belum pernah nih datang ke rumah pak Bos yang baru. Apalagi yang sekarang sudah menikah. Kita juga ingin mengenal istri Pak Bos. Betul kan teman-teman?" tanya Reno melemparkan pertanyaan pada yang lain.
Suara berisik mereka menjawab, membuat Yugi berpikir sejenak. Sifa diam saja menunggu respon Yugi. Wanita itu memperhatikan.
"Bisa. Hanya saja istriku sepertinya masih ada di tempat kerja. Jadi kalian harus menunggu sebelum bisa langsung ke rumahku. Aku harus menjemput istriku lebih dulu," kata Yugi.
"Istrimu bekerja?" tanya Reno yang belum tahu terkejut.
"Ya," jawab Yugi.
"Namun tetap menerima kita jika kita datang ke rumah kamu, kan?" tanya Sifa. Yugi menoleh pada Sifa.
"Tentu. Istriku bukan orang yang berpikiran sempit hingga tidak mau bertemu dengan orang-orang. Apalagi tamu itu adalah teman suaminya. Silakan saja kalian datang ke rumah." Yugi memberikan undangan terbuka bagi semuanya. "Hanya saja kalian harus tahu waktu. Karena kita pengantin baru." Kalimat terakhir di sambut dengan sorakan yang riuh oleh semua orang.
Sifa menipiskan bibir. Gelar pengantin baru seperti sengaja di sematkan. Itu memperjelas bahwa hubungan mereka begitu hangat dan romantis. Reno melirik perempuan ini lagi. Sifa tengah memandang Yugi. Masih dengan sorot mata yang sama. Tatapan yang penuh cinta.
Reno menghela napas lalu menggelengkan kepala melihat tingkah Sifa.
...______...
Yugi melambaikan tangan pada Nami yang berdiri di depan gedung perusahaan. Perempuan itu tersenyum tipis. Kemudian mobil Yugi mendekat. Nami membuka pintu dan masuk.
"Maaf. Sudah lama menunggu?" tanya Yugi.
"Enggak. Barusan saja. Maksudnya ada tamu sebentar lagi itu, siapa?" tanya Nami yang sudah di beritahu oleh Yugi lewat pesan.
__ADS_1
"Teman-teman kerja. Mereka ingin mengunjungi rumah dan sekalian kenal dengan kamu," ujar Yugi sambil menoleh ke samping.
"Kenapa mendadak?" tanya Nami sedikit gusar. Karena ia saja baru pulang dari kerja. Jika ada tamu, itu perlu menyiapkan banyak hal. “Kita akan kerepotan karena tidak ada waktu,” imbuh Nami. Yugi yang sudah menyalakan mesin mobil menatap perempuan ini dari samping.
"Kamu tidak mau bertemu mereka?" tanya Yugi.
"Bukan itu. Aku hanya bilang, ini waktunya sangat mepet untuk menerima tamu. Sementara menerima tamu itu butuh persiapan banyak. Termasuk jamuan makan. Kamu akan malu pada mereka jika tidak punya persiapan.” Ternyata Nami khawatir tentang dirinya. “Apa aku harus belanja dan memasak secara live di depan mereka saat mereka datang sebentar lagi?" tanya Nami kocak.
Yugi tergelak.
"Tidak perlu. Jangan menyusahkan diri kamu," kata Yugi.
"Lalu, apa kita tidak perlu menjamu mereka? Syukurlah kalau begitu." Ada nada kesal di sana.
"Bukan." Yugi tersenyum. "Kamu tidak mungkin sejahat itu pada tamu. Lebih baik kamu tenang saja. Jangan terlalu berpikir banyak untuk hal ini. Cukup tersenyum saja. Kita bicarakan nanti di rumah."
"Heh. Cukup tersenyum saja ya ... Bagus." Nami melipat tangannya. Lalu memilih melihat keluar jendela daripada pusing-pusing memikirkan tentang apa yang harus di lakukan nanti, saat tamu datang.
***
Baru saja Nami dan Yugi sampai, teman-teman kerja Yugi sudah muncul di belakang mereka. Nami terkejut saat mereka menyapa. Ia sempat berjingkat.
"Selamat malam ...," sapa mereka hampir bersamaan.
"Ma-malam," sahut Nami mengangguk sopan. Bola mata Sifa memperhatikan perempuan yang ada di sebelah Yugi itu. Ini pertama kalinya ia melihat wanita ini tanpa riasan tebal seperti di pelaminan.
Tidak terlalu buruk, batin Sifa.
"Aku terkejut kalian benar-benar menepati janji untuk datang ke rumah ku saat pulang kerja. Aku tidak punya waktu untuk menyiapkan segala macam," kata Yugi dengan raut wajah takjub pada orang-orang. Semua tertawa. Karena Yugi sungguh-sungguh tidak punya waktu untuk bersiap kalau seperti ini. "Ayo masuk." Yugi akhirnya mempersilakan mereka semua masuk ke dalam rumah, setelah meminta istrinya masuk terlebih dahulu.
"Wahhh ... interior rumah Pak Yugi bagus," puji mereka.
"Iya, Pak. Jadi ingin tinggal."
"Kalau kalian tinggal di rumah ini, gimana kehidupan Yugi dan istrinya? Mereka kan baru saja jadi pengantin baru," celetuk Reno sambil menggerakkan alisnya pada Yugi. Bibir Yugi tersenyum.
..._______...
__ADS_1