
Yugi pun ingin tahu lebih jelas.
"Sepertinya perut istri Anda tidak terbentur sangat keras ketika jatuh, tapi ketika ibu mengalami syok, bayi di dalam kandungan juga mengalaminya. Hingga kejadian ini menimbulkan kontraksi dini pada kandungan istri Anda," jelas dokter.
Yugi mendengarkan dengan baik apa yang di katakan dokter. "Jadi apa yang harus di lakukan Dok?" tanya Yugi.
"Ini yang membuat bayi harus dilahirkan meski belum waktunya. Bayi akan dilahirkan secara prematur demi keselamatan keduanya," kata Dokter.
"Ya. Silakan lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya," kata Yugi pasrah. Reno memegangi tubuh Sifa yang bergetar. Wanita itu mulai menitikkan air mata.
"Baik. Silakan Anda isi form dan administrasi. Perawat akan mengantar Anda. Sementara itu, saya akan bersiap untuk proses persalinan."
"Ya. Terima kasih." Tidak banyak yang bisa di lakukan kecuali pasrah. Dokter lebih tahu apa yang baik untuk istrinya. Jadi Yugi cukup berdoa dan berharap semua menjadi baik. "Tetap di sini, aku akan mengisi form persalinan Reno."
__ADS_1
"Ya. Tenangkan diri mu, Bro. Semua akan baik-baik saja." Reno menepuk punggung Yugi pelan untuk memberi semangat.
"Ya. Aku berharap begitu."
"Mari saya antar," ujar perawat mempersilakan. Yugi mengangguk.
Setelah kepergian pria itu, perhatian Reno kini tertuju penuh pada Sifa yang masih syok. Wanita itu berjalan mondar-mandir tidak tenang. Sesekali bibirnya berdecih kesal.
"Sifa, duduklah. Jangan mondar-mandir seperti itu," tegur Reno peduli.
"Itu bukan salah mu, Sifa." Reno mendekat pada perempuan ini. "Yugi juga tidak menyalahkan mu. Dia tahu ini kejadian yang tidak di sangka-sangka."
"Ren, aku takut terjadi apa-apa pada Nami dan bayinya. Jika aku tidak mengajaknya ke mall, mungkin semua ini tidak terjadi. Aku lah yang membuat Nami harus bertemu dengan Vera." Lagi-lagi Sifa menyesalkan acara jalan-jalan mereka yang sebenarnya adalah ide darinya. Dia bahkan sampai menarik kemeja Reno karena emosional.
__ADS_1
Pria ini mengangkat tangan Sifa dari kemejanya dan menggenggamnya. "Aku tahu, tapi coba tenanglah," ujar Reno dengan mencoba menatap mata Sifa dalam. Bola mata Sifa mengerjap mendapati tangannya di genggam Reno.
"K-kenapa kamu menggenggam tangan ku?" tanya Sifa tiba-tiba. Reno menunduk dan melihat tangannya. Dia agak terkejut juga. Spontan ia melepaskan tangan Sifa. Rupanya tangannya bergerak lebih dulu daripada hatinya.
Sifa hendak melepaskan tangannya dari genggaman Reno, tapi pria ini lebih dulu menangkapnya.
"Hei. Apa ini?" ketus Sifa.
"Melihat perempuan yang aku sukai panik dan tegang, aku ingin menenangkannya. Karena itu aku memang ingin menggenggam tanganmu," ujar Reno jujur.
"A-apa?" tanya Sifa gugup dan terkejut.
"Ini waktu yang tidak tepat, tapi aku perlu mengingatkan mu lagi. Aku pernah mengatakan kalau aku tertarik padamu bukan?" Reno sungguh cekatan. Dalam situasi ini, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. "Aku datang kesini tidak hanya untuk menemani Yugi. Aku juga datang karena mencemaskan mu, Sifa."
__ADS_1
Sifa mengerjapkan bola matanya tidak menduga akan muncul kalimat itu dari bibir Reno.
...____...