Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 94 : Mencoba membujuk


__ADS_3

"Aku masih dengan Vera meski tahu dia dengan pria lain. Karena aku juga meragu. Hingga akhirnya aku hanya menjalani hubungan kita untuk memastikan hatiku. Apa benar aku mencintai Vera atau tidak? Atau aku hanya ingin terus melihat Nami di rumah keluarganya itu?"


"Ternyata kamu malah oleng ke Nami?" ledek Yana. Yugi tersenyum.


"Ya. Aku jatuh cinta padanya." Yugi mengaku lagi. Atmosfir keduanya mulai melunak.


"Aku harap Nami justru bersyukur kamu bisa menikahinya kalau dia mendengar kisah mu ini." Yana menepuk punggung adiknya pelan.


"Aku yakin tentang itu. Karena aku benar-benar tulus padanya, Mbak." Senyum dan sorot mata teduh Yugi menyakinkan Yana semua akan baik-baik saja. "Apa lebih baik aku diam saja?"


"Jangan. Mendengar ketulusan mu, lebih baik kamu kasih tahu saja semuanya. Mendengar dia bicara tentang pernikahan kalian tadi, sepertinya dia begitu ingin tahu bagaimana kamu bisa mencintainya seperti ini. Walaupun sebenarnya tidak perlu. Namun jika Mbak Yana ada pada posisinya, pasti Mbak Yana juga begitu. Perempuan itu kadang suka aneh, sudah tahu pria menikahinya masih tanya cinta apa enggak." Mbak Yana begitu ekspresif ketika mengatakannya. Yugi tersenyum.


"Tapi aku yakin kisah Nami berbeda," kata Yugi seakan membela istrinya.

__ADS_1


"Ya. Mbak mengerti. Karena dia di kelilingi banyak orang toxic jadi dia bersikap seperti itu."


Suara pintu terbuka mengejutkan mereka. Walaupun pasti itu bukan Nami, tetap saja mereka terhenyak kaget.


"Lagi bicara apa, sampai begitu terkejut saat aku muncul?" tegur suami Mbak Yana sambil tersenyum meledek.


"Mau tahu aja, Mas ini." Mbak Yana langsung berdiri dan mendekat pada suaminya.


Tanpa bicara, Yugi segera masuk. Dia lupa tadi tidak pamit pada istrinya. Melihat Yugi muncul, wajah Nami tampak senang dan lega. Bibirnya perempuan itu tersenyum.


"Darimana kamu?" tanya ayah.


"Ada perlu sedikit," sahut Yugi yang langsung duduk di dekat istrinya. Menyentuh punggung tangan Nami dan menepuknya pelan beberapa kali. "Maaf," lirih Yugi. Nami mendongak terkejut. Saat ingin bertanya, pandangannya menunduk. Ia melihat tangan Yugi menggenggam jari-jarinya. Dengan ini, Nami sudah merasa lebih baik daripada tadi. Ia tidak perlu menanyakan kata maaf yang Yugi ucapkan.

__ADS_1


***


Yugi sudah bertemu dengan pengacara. Dia menceritakan semua cerita penganiayaan Vera. Bukti-bukti untuk menguatkan itu juga sudah di serahkan.


"J-jadi kamu akan tetap menuntut Vera dan mama?" tanya Nami terbata. Yugi mengangguk pelan. "Lalu? Lalu bagaimana mereka jika kamu menuntutnya?"


"Sudah jelas mereka akan masuk penjara, sayang." Yugi mengatakannya dengan hati-hati dan lembut. Nami menunduk. Ia larut dalam pemikirannya sendiri. Tangan Yugi menyentuh dagu istrinya. "Lihat aku sayang."


Tangan Yugi memaksa istrinya menatap ke arahnya dengan lembut. Wajah Nami terangkat dan menatap Yugi dengan tatapan bingung dan cemas.


"Aku tahu kamu pernah jadi bagian mereka. Dan itu bukan waktu yang sebentar. Pasti ada rasa sayang di hati kamu untuk mereka. Mama dan Vera adalah keluargamu. Namun perlu kamu ingat, sekarang mereka sudah tidak lagi menganggap kamu adalah keluarga mereka. Karena apa? Karena keluarga, tidak akan pernah mencelakai diri kita, sayang."


...___...

__ADS_1


__ADS_2