Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 105 : Putusan hakim


__ADS_3

Nami tidak hadir dalam sidang karena masih dalam pemulihan setelah melahirkan. Jadi hanya ada Yugi bersama pengacara. Karena persidangan ini terbuka untuk umum, Reno dan Sifa juga datang melihat jalannya persidangan. Mereka duduk di kursi belakang. Sifa juga di perbolehkan merekam jalannya persidangan untuk Nami.


Keputusan hakim sudah ada.


“ ... mengadili dan menyatakan terdakwa Vera dan Puspaningrum telah terbukti secara sah dan meyakinkan tindak pidana terhadap saudara Nami dengan pidana penjara dua tahun delapan bulan ... “


Pengacara mengangguk puas seraya menoleh pada Yugi yang ada di sampingnya. Akhirnya, batin Yugi. Vera tampak menunduk dan meremas tangannya sendiri. Ia berusaha kuat untuk menahan tangis mendengar putusan hakim. Seakan dia sudah siap menerima hukuman  yang di sebutkan.


Berbeda dengan keadaan Vera yang tenang meski sebenarnya takut. Kondisi mama Vera begitu kalut. Perempuan paruh baya ini terus saja berteriak tidak terima pada putusan hakim.


"Tidak. Aku tidak bersalah. Justru Nami-lah orang jahat!” teriak mama Vera. “Kalian semua tidak tahu, akulah yang merawat Nami dari kecil hingga dia dewasa seperti sekarang. Seharusnya dia menghormati ku, bukan menuntut ku! Aku tidak terima!" teriak mama Vera.


Vera diam saja tidak ingin mendengarkan ocehan mamanya. Dia hanya ingin segera pergi dari sini dan menjalani hukuman dengan cepat. Karena ia ingin bertemu dengan putrinya segera.

__ADS_1


"Vera! Jangan diam saja! Seharusnya kamu mendukung mama bukan malah mengaku salah. Kita ini tidak salah! Dia yang seharusnya sengsara. Karena dia hanya anak angkat mama!" teriak mama menggila kini menunjuk-nunjuk putrinya dengan marah.


“Maaf, Ma. Aku ...”


“Dasar anak kurang ajar! Kamu itu bisa menjadi sekarang karena siapa? Karena aku! Orang yang sudah melahirkan mu! Aku tidak rela harus masuk penjara karena Nami dan kamu!” Mama Vera langsung menarik rambut putrinya dengan kuat. Semua terkejut.


“Aw! Lepaskan!” teriak Vera kesakitan. Beberapa petugas segera mendekat dan melepaskan tangan mama Vera dari rambut putrinya. Akhirnya Mama Vera di giring ke kepolisian dengan cekatan lebih erat karena terus memberontak.


Semua orang melihat dengan ngeri ke arah mama Vera.


 


 

__ADS_1


Nami sedang berada di kamarnya sendirian. Bayi-nya sedang di tidurkan oleh mbak Yana di ruangan lain. Dia sengaja menyendiri untuk melihat jalannya sidang yang sudah di kirim oleh Sifa padanya.


Dia menghela napas lega mendengar putusan hakim. Akhirnya dua orang yang membencinya itu telah mendapat hukuman. Meskipun lega, sebenarnya dia masih menyimpan rasa sedih.


Tak terasa air mata Nami berderai.


Bagaimana hatinya tidak sedih. Dua orang itu adalah orang yang dulu paling dekat dengannya. Mereka adalah keluarganya. Dia yang dulunya adalah anak dari panti asuhan, bisa merasakan keluarga berkat mereka.


Namun ia berharap, semuanya akan berakhir setelah adanya hukuman ini.


Sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut. Nami pikir itu mbak Yana, tapi ternyata bukan. Itu bunda Yugi.


“B-bunda?” Nami terkejut. Tangan Nami terangkat untuk menyeka air matanya. Namun ternyata bunda lebih cepat darinya. Beliau mengusap air mata Nami dengan lembut dan penuh kasih.

__ADS_1


“Bunda sudah tahu kamu pasti akan menangis seperti ini kalau mendengar putusan hakim,” ujar Bunda. Rupanya diam-diam bunda Yugi mendatangi kamar menantunya. Lalu beliau melihat Nami sesenggukan di kamarnya setelah melihat video hasil sidang.


...____...


__ADS_2