
"Dia mencari mu sepertinya," kata Sifa. Nami tidak menjawab. Dia hanya diam melihat ke arah perempuan yang marah-marah itu dengan perasaan was-was.
Nami merasakan ada firasat tidak enak.
Padahal sejak tadi Nami tidak terpikirkan apa-apa. Namun sekarang dia gelisah melihat perempuan yang menghebohkan orang-orang di lobi ini. Firasat buruk mendadak menyerang benaknya.
"Namun Anda tidak bisa sembarangan bertemu. Anda harus membuat janji," kata sekuriti bermaksud memberi penjelasan. Sepertinya perempuan itu memaksa ingin bertemu Nami.
Yugi sudah memberi perintah larangan masuk untuk menemui Nami. Jadi sekuriti sedang melaksanakan perintah atasannya.
"Aku ini adik Nami! Istri bos kalian!" Perempuan itu berkata dengan pongah. Mereka sedikit terkejut dengan apa yang mereka dengar. Adik?
Saat mendengar itu, Nami langsung paham siapa yang sedang marah-marah di lobi itu. Nami harus mendekat demi meredam amarah perempuan itu pada sekuriti.
Melihat Nami mendekat, Sifa mengikutinya.
"Ada apa muncul di sini, Vera?" tegur Nami. Sekuriti membungkuk memberi hormat. Kepala Nami mengangguk menerima sikap hormat sekuriti padanya.
Vera membalikkan badan dan menatap Nami dengan sinis.
__ADS_1
“Ibu kenal wanita ini?” tanya sekuriti. Nami menganggukkan kepala pelan. Sekuriti mempersilakan istri atasannya bicara. Vera melirik tajam pada sekuriti.
"Oh, kamu sudah muncul sendiri ternyata," sahut Vera.
"Tidak. Aku bukan muncul karena ada kamu, tapi aku tidak sengaja lewat barusan.” Nami tidak mau di anggap tengah sengaja menemui Vera. "Saat melihat ada yang membuat sedang keributan, aku mendekat."
"Huh, berlagak jadi bos rupanya," kata Vera sengit. Sifa terkejut. Semua orang pun terkejut melihat sikap dan perkataan perempuan itu.
Bola mata Sifa melirik Nami. Ingin melihat reaksi istri Yugi ini.
Namun Nami yang sudah mengira akan berujung keributan jika bertemu dengan Vera, sudah siap. Dia tampak tenang. Sifa yang mendadak gelisah melihat situasi ini ikut tenang.
"Bisa ya sekarang bersikap seperti itu padaku," dengus Vera tidak suka. Nami diam tidak menjawab.
Vera tampak sibuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Lihat ini." Vera melempar kertas ke arah Nami. Tanpa sengaja kertas itu berhasil di tangkap olehnya. "Lihatlah kertas itu!" teriak Vera marah.
Karena sudah terlanjur berada di tangannya, Nami berusaha membaca. Surat gugatan cerai. Sifa yang ikut mengintip bisa ikut membacanya. Dia terkejut. Namun tidak mengerti maksud dari kertas yang sudah lusuh itu. Dia melihat Vera dengan heran.
__ADS_1
Apa Yugi menggugat cerai Nami? Tidak mungkin. Saat ini mereka sedang berbahagia karena Nami hamil, Sifa mencoba menduga.
"Sudah aku lihat dan baca. Lalu apa?" tanya Nami tenang. Dia tahu Rico selalu berkata akan menceraikan Vera, tapi dia tidak tahu kalau itu akan di lakukan setelah perempuan ini melahirkan. Pria itu benar-benar melakukannya!
"Lalu apa?! Kamu tidak merasa bersalah karena itu?" tanya Vera mengerutkan keningnya. Semua orang yang tidak bisa membaca isi dari selembar kertas tadi ikut mengerutkan kening sedang berpikir.
"Bersalah? Ini surat gugatan cerai dari suami kamu, kenapa aku harus ikut merasa bersalah?"
Semua menganggukkan kepala tanpa sadar karena akhirnya paham isi dari kertas itu.
"Bukankah ini semua karena dia masih mencintaimu? Mas Rico masih menaruh harapan untuk kembali padamu!" tunjuk Vera marah.
"Itu bukan urusanku. Itu perasaan dia, jadi dia yang punya hak. Aku hanya perlu tidak menggubrisnya kan?" tanya Nami seakan sengaja membuat Vera kesal.
"Kurang ajar. Dasar wanita tidak tahu di untung!" hardik Vera meninggikan suaranya. Suasana lobi terlihat tegang. Pertengkaran yang mendadak muncul ini menjadi konsumsi mereka yang haus akan gosip.
"Tidak tahu di untung?" tanya Nami mendengus pelan. Dia tersenyum. Vera tidak senang karena Nami seperti meremehkannya.
"Iya. Karena papa ku memungut mu dari panti asuhan, kamu bisa hidup menjadi orang punya. Kalau saja mama ku tidak setuju merawat mu waktu itu, kamu tidak akan bisa berlagak seperti sekarang," dengus Vera.
__ADS_1
..._____...