
Berangkat kerja kali ini selalu menyenangkan karena Yugi selalu menyelipkan ciuman manis di keningnya. Namun pagi ini terasa aneh karena tiba-tiba suasana di kantor lumayan aneh. Semua orang berbisik dan menatapnya dengan tatapan aneh.
Nami pikir itu hanya perasaannya saja, tapi saat di toilet, tak sengaja ia mendengar orang-orang berbicara buruk tentangnya.
"Ih, enggak tahu malu ya. Sudah jadi suami adiknya, tapi masih di goda aja. Kan dia juga sudah punya suami."
"Benar. Aku pikir Nami itu orangnya baik dan jauh dari hal begitu. Enggak tahunya dia seperti itu. Huh, berlagak suci saja."
Aku? Mereka membicarakan aku? Tanpa menunggu mereka pergi, Nami langsung membuka pintu toilet. Mereka yang sedang membicarakannya terkejut.
"Apa yang kalian bicarakan?" tegur Nami dengan wajah sengit. Dia tidak perlu menunggu besok atau nanti untuk menanyakan itu. "Apa yang kalian bicarakan barusan tentangku?"
Mereka sedikit gugup karena orang yang di bicarakan tenyata ada di sana.
"K-kenapa bertanya? Kamu kan sudah menguping pembicaraan kita, jadi kamu pasti tahu dong apa yang kita bicarakan." Rupanya merasa tidak bersalah sudah berkata buruk tentangnya tanpa tahu faktanya.
"Berlagak suci? Itu yang kalian katakan. Memangnya kalian tahu apa tentangku? Jadi seenaknya saja mengatakan itu."
"Kami tahu dong. Kan adikmu sendiri yang bilang. Bukankah Vera itu adikmu?"
"Benar. Kita mana tahu kamu bagaimana di luar. Karena yang bicara itu adikmu, ya tentu kita percaya dong."
Adik? Vera? Apalagi yang sudah dia katakan?
Nami melesat ke luar. Dia marah. Jelas sekali Nami marah. Karena yang mereka dengar itu fitnah.
Menggoda suami? Siapa yang sedang menggoda suami orang? Kalau menggoda kekasih orang, Vera-lah pelakunya.
Sekembalinya Nami ke ruangan, ia melihat kursi Vera kosong. Perempuan itu tidak ada di tempatnya.
"Nami. Kamu dari toilet?" tanya Mila. Nami tidak menjawab. Karena saat ini ia melihat Vera ada di ruangan Rico. Langsung saja ia melesat ke ruangan Rico.
"Nami sepertinya marah. Apa dia sudah dengar gosip yang kita bicarakan barusan?" tanya Ina. Mila mengawasi ruangan Pak Rico yang terlihat dari meja kerja mereka.
__ADS_1
"Ya. Kayaknya Nami sudah mendengar kabar yang membicarakan dia dengan buruk itu. Lihatlah." Mila menggerakkan dagunya melihat ke arah Nami yang sudah berada di pintu ruangan Rico.
Tok! Tok!
"Masuklah."
Nami membuka pintu. Orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu bersamaan. Alangkah kagetnya Rico dan Vera saat tahu itu Nami.
"Selamat siang, Pak," sapa Nami formal. Rico menoleh pada Vera sebentar. Vera melihat Nami dengan angkuh. Seakan kedatangan Nami sangat mengganggu dirinya.
"Siang Nami. Ada apa?" tanya Rico.
"Saya sedang ada perlu dengan Vera," ujar Nami menunjuk Vera. Rico menoleh pada Vera.
"Aku? Memangnya ada perlu apa denganku?" tanya Vera heran.
"Sebaiknya kita bicara di luar," kata Nami dengan wajah seriusnya.
"Kamu bisa bicara dengan Nami, Vera. Aku tidak apa-apa," kata Rico sengaja membuat jalan Nami bicara dengan adiknya terbuka. Vera menipiskan bibir. Dia sadar bahwa Rico sengaja.
"Baiklah kalau Mbak Nami memaksa. Bicara saja di sini. Kita tidak perlu keluar. Bukankah hanya bicara saja?" Vera juga tidak mau kalah. Dia tidak mau mengikuti Nami. Jadi ia sengaja membuat wanita ini membatalkan rencana ingin bicara dengannya.
"Kalau memang itu mau mu, baiklah aku akan bicara di sini," kata Nami memilih duduk di dekat Rico. Vera terkejut. Rico sendiri tidak menduga kalau Nami akan duduk di dekatnya.
"Apa yang Mbak Nami lakukan?" tegur Vera. Ia meradang.
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk karena sudah di persilakan untuk bicara di sini," sahut Nami tidak peduli.
"Tapi Mbak Nami ..." Vera sudah ingin bilang untuk Nami menjauh dari samping Rico, tapi pria itu justru menyuruh Vera diam.
"Sudah. Kalau mau bicara, bicara saja Nami," kata Rico. Pria itu justru membiarkan wanita ini berada di dekatnya.
"Apa yang kamu maksud menggoda itu adalah seperti ini?" tanya Nami sambil menunjukkan dekatnya dia duduk dengan pria ini. Rico melirik. Vera mengerutkan keningnya. "Lihat baik-baik dengan kedua mata kamu, Vera. Apa kamu tidak bisa membedakan mana yang menggoda mana yang tidak?" geram Nami.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang di maksud Mbak Nami," kata Vera tidak peduli.
"Kamu tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?" Nami mengembalikan kata-kata Vera. "Sepertinya kamu sengaja ingin menggangguku. Membuat diriku buruk di depan teman-teman kantorku."
"Apa yang kamu katakan, Nami?" Rico merasa perlu ikut campur.
"Dia. Istrimu ini sudah menghasut semua orang dengan mengatakan aku ini senang menggoda mu. Mereka semua menggunjing di belakangku karena mulutnya. Mulut perempuan ini," tunjuk Nami marah.
Rico menoleh pada Vera.
"Tidak. Aku tidak melakukannya. Jangan bicara sembarangan dong, Mbak," sungut Vera berpura-pura di tuduh.
"Lihatlah dirimu, Vera. Kamu bersembunyi setelah melakukan keburukan. Berpura-pura tidak tahu padahal semua orang mengatakan kamulah yang memberitahu mereka. Mereka percaya karena kamu adikku," kata Nami emosional.
Wajah Vera masam. Dia tidak senang di tunjuk oleh tangan Nami. Pun saat bola mata Rico mengikuti melihat ke arahnya dengan tatapan ingin marah.
"Apa yang kamu lakukan, Vera?" tanya Rico pada istrinya.
"Mas kok tanya gitu sih, ke aku? Mungkin saja Mbak Nami yang lebay. Jadinya dengerin omongan orang yang enggak-enggak," kilah Vera.
"Aku tahu siapa Nami, Vera. Dia tidak akan seperti ini kalau enggak punya bukti," bela Rico yang membuat Vera meradang.
"Mas Rico ini gimana sih? Kok malah belain Mbak Nami. Aku ini yang istri Mas Rico, bukan Mbak Nami ... Lagipula aku juga hamil. Enggak baik kan kalau Mas Rico marah-marah ke aku seperti itu?" tanya Vera mulai memasang wajah polosnya.
Nami mulai menyadari sesuatu. Ternyata andalan Vera untuk mengendalikan Rico adalah kehamilannya. Lihat saja Rico mulai berwajah bingung.
"Aku tahu kamu hamil. Justru dengan itu aku ingin bayi ini tahu, bahwa ibunya harus menjadi orang baik. Biar dia juga enggak menjadi seperti kamu," tuduh Rico.
"Mas ... teganya kamu." Wajah Vera merah. Antara marah dan malu jurusnya di mentahkan oleh suaminya. Nami mengerjap. Meskipun berharap Vera kalah, tapi dia tidak menduga kalau Rico mengalahkannya dengan kalimat yang menyesakkan.
...____...
__ADS_1