
"Belum. Aku belum mau tidur." Nami menggelengkan kepalanya.
"Oh, baiklah. Aku akan ambilkan ponselmu atau buku. Mungkin kamu ingin membaca sesuatu. Lalu aku keluar." Yugi berdiri dan mencari ponsel di dalam clutch bag milik istrinya.
"Aku tidak ingin tidur maupun membaca. Aku hanya ingin di temani kamu," ujar Nami. Ini mengejutkan.
Tangan Yugi yang mengaduk isi tas berhenti bergerak. Ia diam sejenak. Lalu menoleh pada Nami yang sudah duduk dengan wajah heran.
"Benarkah?" tanya Yugi dengan keheranan yang kentara.
"Oh, maaf. Mungkin kata-kataku salah." Nami segera menyadari kalimatnya ternyata mampu menghentikan gerakan Yugi. Dari sana ia berpikir mungkin saja ada kalimatnya yang salah. "Aku ... " Melihat itu, ia ingin meralat kalimatnya, tapi Yugi sudah menyanggupi.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku akan temani," sahut Yugi lembut dan cepat. Karena dia tidak ingin Nami berubah pikiran. Dia melepas tangannya dari clutch bag di atas nakas. Nami terkejut pria itu mendekat ke arahnya lagi. Kali ini bukan seperti tadi. Wajah pria ini penuh ekspresi senang yang membuat Nami gelisah.
Yugi duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
"Tanpa di minta pun, aku ingin menemani kamu," kata Yugi yang mampu membuat Nami berdebar karena tatapannya. Selanjutnya membuat Nami kebingungan meletakkan titik fokus pandangannya. Aku harus melihat ke arah lain.
"Ah, iya. Terima kasih." Nami mengucapkannya dengan sedikit menunduk. Menghindari pandangan Yugi yang membuatnya kikuk. Pria ini tersenyum kesenangan saat tahu tatapannya mampu membuat Nami gugup.
Kenapa aku sangat gugup?
Bruk! Tiba-tiba, tanpa sungkan Yugi merebahkan tubuhnya di samping Nami yang duduk.
"A-pa?" tanya Nami curiga sendiri. Ia tidak bisa tidak bertanya. Tubuhnya juga mulai bergerak ingin menjauh.
"Terima kasih sudah memberi aku perhatian yang lebih. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu pun tidak punya rasa belas kasih padaku." Nami tulus saat mengatakannya.
“Aku tidak mungkin seperti mereka,” kata Yugi sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mengatakannya. Semoga saja kita bisa saling membuka hati. Kamu dan aku," lanjut Yugi. Nami langsung menunduk. Selanjutnya pria ini menutup mata. Nami diam sejenak.
Nami melirik. Ia memperhatikan wajah pria yang dulunya dia anggap lebih muda karena pacaran dengan adiknya, kini terlihat begitu dewasa di bandingkan dirinya. Yugi mampu memposisikan dirinya sebagai sandaran untuknya.
__ADS_1
Karena Yugi menutup mata, Nami bisa menikmati wajah pria ini. Sepertinya Yugi terlelap.
Dia memang tampan. Aku terlalu sibuk mengurusi pernikahan yang tidak aku inginkan tanpa tahu dia juga bisa menjadi lelaki yang aku inginkan. Bahkan mungkin melebih Rico yang aku harapkan.
Tangan Nami bergerak di depan wajah Yugi yang terlihat sangat lelap. Dia ingin tahu apa pria ini benar sudah tidur.
"Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku. Sepertinya kamu ada untuk menenangkan aku," lirih Nami karena merasa Yugi sudah tidur.
“Aku mendengarnya,” sahut Yugi pelan tanpa membuka matanya. Nami menutup bibirnya karena terkejut. Matanya mengerjap. Yugi tersenyum.
“Karena kamu tidak tidur, aku ingin penjelasan, kenapa kamu tahu aku pernah punya hubungan asmara dengan Rico?” tanya Nami dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Yugi membuka mata. Lalu mengerjapkan bola matanya. Sekali. “Apa kamu mencari tahu tentangku?” lanjut Nami penasaran.
..._____...
__ADS_1