Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 52 : Aku tidak ada hubungannya dengan kalian


__ADS_3

Tiba-tiba saja lengan wanita ini melingkar di leher Yugi perlahan. Membuat Yugi menoleh sekilas ke arah kedua lengan Nami. Ia heran.


“Aku sangat menginginkannya. Aku menginginkan ciuman itu," ujar Nami seraya berjinjit dan menekan tengkuk Yugi hingga bibir mereka kembali bertautan. Nami menciumnya!


Sepertinya, ini pertama kalinya Nami mencium bibirnya terlebih dahulu. Meski sebentar, ini mengejutkan. Yugi takjub. Dada mereka pun berdebar bersamaan.


"Istriku mulai terobsesi padaku, ya?" goda Yugi sambil mencubit dagu Nami.


Bibir Nami mencebik manja. "Mas harus tahu, kalau sekarang aku sangat peduli dengan semua hal tentangmu. Lain kali beritahu aku. Emm ... Tidak, tidak." Nami menggelengkan kepala. "Aku yang akan selalu bertanya. Jadi jangan lelah untuk menjawab semua pertanyaan ku," pesan Nami.


"Tidak mungkin aku lelah dengan semua pertanyaan istri tercintaku, ini," kata Yugi sambil memeluk Nami dan mencium pucuk kepala istrinya. Nami tersenyum senang.


"Ah!" teriak Nami terkejut karena Yugi menggendongnya. Pria ini kerap melakukannya. Lalu Yugi meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang yang empuk dengan hati-hati dan sayang.


"Karena sudah seperti ini ..." Yugi mendekatkan bibirnya di dekat telinga Nami. "Bisakah kita bercinta, sayang?" bisik Yugi seraya menggigit cuping telinga Nami dengan lembut.


Nami belum menjawab. Karena gigitan itu mulai berubah menjadi ciuman yang turun ke leher dan tulang selangka. Nami tidak punya waktu untuk bicara. Hasrat mulai menguasainya. Wanita ini pun memejamkan mata menikmati sentuhan dari bibir suaminya.


Dada mereka sama-sama bergemuruh. Tubuh mereka memanas. Saat ini bukan hanya Yugi yang menginginkan penyatuan. Tubuh Nami pun sejak tadi panas dan bergolak. Ia ingin menikmati sentuhan Yugi di setiap inci tubuhnya. Mereka menyatu demi menggapai puncak kenikmatan yang sama.


...****...


Pagi hari di perusahaan.


Sejak tadi pagi, Rico sudah berada di ruangannya. Setelah pertengkaran semalam dengan Vera, ia enggan tidur dengan wanita itu. Rasa marah karena merasa di manfaatkan membuatnya keluar dari rumah keluarga Vera dan pulang ke apartemennya.


Padahal rencananya, ia akan memboyong perempuan itu untuk tinggal di sini. Namun setelah tadi malam mendengar kebenaran yang mencengangkan, ia gagal melakukan itu. Jadi ia kembali ke apartemennya tanpa Vera.


Bayangan Nami terus saja menari-nari di benaknya. Ia ingin mendekati wanita itu. Bicara banyak dan mengatakan semua kebusukan keluarganya. Agar Nami perlu hati-hati.


Tok! Tok!


"Masuk," kata Rico tanpa menoleh.

__ADS_1


"Mas Rico." Suara perempuan menyapa.


Rico mendongak dan terkejut saat muncul Vera dari balik pintu. Bola mata Rico menatap perempuan itu lurus-lurus.


"Mau apa kamu?" tanya Rico tidak bersahabat.


"Kita harus bicara."


"Keluar. Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Vera," desis pria ini.


"Jika kita tidak bisa berdamai, bagaimana dengan anak yang ada di dalam perutku ini Mas?" tanya Vera dengan raut wajah bingung.


"Jangan khawatir soal anak itu. Aku akan bertanggung jawab. Namun aku tidak sudi jika harus kembali padamu."


"Tidak bisa seperti itu, Mas. Bayi kita harus punya kedua orangtua yang utuh." Vera panik Rico mengambil keputusan tiba-tiba.


"Berhenti bicara. Aku sudah bersedia bertanggung jawab penuh atas anak itu setelah lahir. Jadi soal itu urusanmu. Jadi sekarang keluarlah," usir Rico.


Tok! Tok!


"Keluarlah. Jangan bikin keributan." Rico sampai harus berdiri dari kursinya untuk mengusir perempuan.


"Keributan? Aku hanya sedang mengajak bicara seorang laki-laki. Dia adalah ayah dari anakku," ujar Vera kesal. Karakter aslinya mulai muncul. "Jangan berlebihan mas Rico."


"Berlebihan katamu? Aku tidak berlebihan, Vera. Aku marah karena ternyata aku di tipu olehmu." Rico menunjuk perempuan ini dengan sinis. "Bukan hanya kamu. Bahkan mamamu juga bersekongkol denganmu untuk menjerat aku."


Tok! Tok!


Pintu di ketuk sekali lagi. Ini membuat suasana kaku barusan lenyap seketika. Rico dan Vera menoleh ke pintu secara bersamaan.


"Masuklah," kata Rico seraya menunggu siapa gerangan yang ada dibalik pintu. Tidak di sangka yang muncul adalah Nami dengan membawa berkas di tangannya.


"Ah, maaf." Nami mengangguk sebentar karena menemukan suami istri ini ada didalam ruangan. "Aku bisa kembali lagi nanti," kata Nami seraya melihat lurus pada Rico. Nami tahu ini situasi yang tidak disukainya. Pasti akan jadi menyebalkan untuknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nami. Urusan Vera juga sudah selesai. Ada apa?" tanya Rico yang memilih mengusir Vera dan menyambut Nami.


Bola mata Nami mengerjap. Dia melirik ke arah Vera. Tampak wajah perempuan itu masam. Matanya melebar terkejut dengan pengusiran ini.


"Haruskah Mas Rico bersikap seperti ini padaku, di depan Mbak Nami?" tanya Vera gusar. Dia mulai tidak bisa menahan amarah.


"Apa?" tanya Rico dingin.


"Mas Rico mengusirku untuk dekat lagi dengan Mbak Nami, kan?" tegur Vera. Ini yang membuat Nami kesal. Perempuan ini selalu saja mengaitkan semua tindakan Rico itu karena dirinya. Padahal dia sudah bersuami.


"Sepertinya kita tidak bisa membahas pekerjaan ini sekarang. Jadi lebih baik aku pergi. Permisi," kata Nami seraya memutar tubuhnya. Memilih berbalik menuju pintu untuk keluar.


"Tunggu Mbak Nami," cegah Vera.


"Jangan pedulikan Vera. Kamu bisa pergi, Nami," ujar Rico. Nami yang hendak menghentikan langkah urung. Dia terus berjalan menuju pintu. Namun Vera berhasil mencegah langkah Nami.


"Aku bilang tunggu Mbak Nami." Vera menahan tangan Nami untuk pergi. "Katakan padanya kalau Mbak Nami tidak mencintainya. Dengan begitu, dia tidak akan terus saja menginginkan Mbak Nami," tunjuk Vera pada Rico.


"Vera!" Hardik Rico.


Nami yang tadinya diam saat mendengar pertanyaan Vera, kini berjingkat karena terkejut. Vera menoleh pada Rico dengan wajah tertegun. Atmosfir ruangan ini begitu berat. Rico berjalan mendekat. Nami melihat keduanya dengan tegang. Ini pertama kalinya Rico terlihat marah dan meninggikan suara. Di tambah dengan sorot mata yang tajam, Rico terlihat begitu berbeda.


Nami tidak bisa bergerak karena ikut tertegun dengan apa yang terjadi saat ini. Ada apa dengan mereka?


"Jika Mbak Nami mengatakan sendiri kalau sudah tidak mencintai Mas Rico, pasti Mas Rico tidak lagi mengejarnya bukan?" Vera sudah kehilangan cara.


"Tutup mulut kamu," hardik Rico. Nami mengernyitkan dahi mendengar suara itu. Sementara Vera menatap Rico dengan mata nanar. "Kamu tidak perlu bicara Nami. Jangan terpengaruh omongan Vera," pinta Rico.


"Perlu di pertegas lagi disini. Aku sudah keluar dari hubungan dengan kalian berdua selain pekerjaan. Aku bukan kekasih Rico. Aku istri Yugi. Kita tidak berhubungan sama sekali. Jadi jangan pernah kaitkan aku dengan apapun tentang kalian berdua. Permisi." Nami mengibaskan tangan Vera yang menangkapnya. Lalu berjalan keluar.


...______...


__ADS_1


__ADS_2