
“Ah, sudah. Sudah,” lerai mama yang merasa Vera akan kalah adu bicara dengan mantan kekasihnya ini. Jadi mama memilih melerai.
Anak ini. Dia terus saja menyerang ku dan menekan Vera. Padahal dia hanya karyawan biasa. Apa yang bisa di banggakannya jika berhadapan dengan Rico? cibir mama di dalam hati.
"Vera dan Rico akan menikah. Mama harap kalian berdua sebagai keluarganya ..." Mama menjelaskan segala hal yang isinya soal Nami yang harus mendukung Adiknya untuk melangsungkan pernikahan dengan tenang.
Bibir Nami terdiam. Perlahan suara mama tidak terdengar. Bibir perempuan paruh baya itu hanya bergerak-gerak tanpa bisa di dengarkan olehnya. Bola mata Nami melihat satu persatu dua manusia di depannya. Vera dan Rico. Dua orang yang membuat dirinya pada titik mengalah seperti sekarang.
Wajah Vera tampak begitu bahagia saat membicarakan pernikahan ini. Menikah dengan pilihan sendiri tentu sangat membahagiakan. Itu membuat Nami meremas tangannya sendiri. Karena keadaannya berbanding terbalik. Raut wajah bahagia itu menyesakkan untuknya. Ini terasa tidak adil.
Yugi melirik. Ia menyaksikan Nami melihat ke depan dengan mata nanar dan penuh amarah. Mungkin semua hal di depannya terlihat memuakkan baginya. Yugi paham itu.
"Sudah selesai, Ma?" tanya Nami tiba-tiba dengan muak. Semua terkejut. Karena mama masih bicara saat Nami bertanya. Vera mengernyitkan kening melihat kakaknya.
"Apa maksud kamu Nami?" tanya Mama ikut mengerutkan keningnya.
"Sakit kepala kamu kambuh lagi?" tanya Yugi tiba-tiba menyela. Nami menoleh pada pria itu dengan heran. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan pria ini. "Kamu bisa kembali ke kamar."
"Ada apa Yugi?" tanya mama ingin tahu. Nami masih tidak mengerti apa yang di maksud Yugi.
"Nami memang mengeluh sakit kepala tadi, Ma. Aku sudah menyuruhnya istirahat sejak tadi, tapi dia memaksa tetap di sini karena mama mau bicara. Nami bisa kembali ke kamar kan, Ma?" tanya Yugi setelah menjelaskan pada mertuanya.
Apa Yugi menyuruhku kembali ke kamar untuk lepas dari obrolan memuakkan ini? tanya Nami di dalam hati seraya menatap Yugi lama. Namun bibirnya tetap membisu. Mama memperhatikan Nami yang diam saja.
"Ya, baiklah. Kembalilah ke kamar Nami. Pembicaraan ini pun sebenarnya tidak perlu mama bicarakan denganmu," kata mama seakan keberadaan Nami percuma. Ini membuat Nami melangkah tanpa berpamitan pada beliau. Dia tidak peduli pada semua yang ada di ruang makan. Dia ingin kembali ke kamar. Menyendiri disana.
__ADS_1
Vera berdecih saat melihat Nami berjalan melewatinya. Tatapan Rico juga mengikuti langkah Nami. Namun segera tersenyum ke arah Vera, saat perempuan ini melihat ke arahnya.
"Kalau memang tidak penting, sebaiknya Yugi juga menemani Nami saja Ma. Sepertinya dia lebih butuh bantuan Yugi karena sakit," ujar Yugi berpamitan. Dia juga enggan di antara mereka.
Tanpa menunggu persetujuan mertua, Yugi sudah beranjak dari kursi dan mengejar Nami. Dia mengikuti langkah istrinya menuju ke kamar.
Rico kembali tertegun melihat sikap Yugi yang terlihat penuh perhatian.
"Apa-apaan itu? Dasar mereka. Suami istri sama-sama tidak sopan. Seharusnya mama marahi Mbak Nami itu, Ma. Dia berlagak. Masih jadi istrinya Yugi saja dia sudah sepertinya nyonya. Huh," cibir Vera.
"Jangan begitu. Mungkin Nami memang lagi sakit," bela Rico yang merasa ingin ikut Nami dan menemaninya.
"Mas Rico belain Mbak Nami, ya?" tanya Vera tidak senang.
"Sudah, sudah ... Enggak baik untuk kesehatan kehamilan kamu Vera," kata Mama membuat Rico menghela napas berat. Gara-gara kesalahan besar itu, dia akhirnya membuatnya terjebak dalam situasi ini. "Kalau bisa ... Jaga mental Vera juga, Nak Rico. Karena itu bisa berpengaruh pada kehamilannya. Kasihan anak kalian nantinya." Mama menasehati.
"Saya tahu," jawab Rico datar.
"Ya sudah. Terima kasih kalau Nak Rico tahu. Mama sudah selesai makannya. Kalian bisa tuntaskan makan kalian pelan-pelan." Mama tersenyum pada mereka dan memberi kode pada bibi di rumah ini untuk membersihkan piring yang kotor.
"Mas Rico," kata Vera manja seraya membawa tangan Rico ke arah perutnya yang belum membuncit. "Mas harus sayang sama anak kita. Supaya lahirnya sehat. Jadi enggak akan nyusahin orangtuanya," kata Vera kemudian tersenyum.
"Tentu saja aku harus sayang sama benih yang sudah aku tanam di sana. Namun aku akan tetap tidak setuju kalau kamu menyerang Nami."
"Menyerang apa, Mas?" tanya Vera berwajah masam.
__ADS_1
"Ya, seperti tadi. Bagaimana pun dia itu tetap kakak kamu. Kamu harus bisa sopan sama dia," nasehat Rico.
Vera melipat bibir lagi. Sialan. Rico masih sayang sama dia. Ini sangat menyebalkan, batin Vera. Ia menghela napas kesal.
..._______...
Yugi mengikuti langkah Nami menuju ke kamar. Dari belakang, ia bisa melihat punggung itu rapuh. Dengan semua keadaan ini, bagaimana mungkin perempuan itu masih bisa berdiri. Itu sakit yang teramat dalam.
Tepat di depan pintu, Nami menghentikan langkahnya. Yugi ikut berhenti.
"Jangan ikuti aku. Aku ingin sendiri," pinta Nami tanpa menoleh ke belakang. Yugi diam tidak menjawab. Setelah yakin, pria di belakangnya itu paham apa yang diutarakannya barusan, Nami membuka kenop pintu dan masuk.
Ia butuh sendiri untuk menenangkan diri dengan keadaan yang terjadi dengannya. Jika masih ingin waras, ia harus bisa meredakan marah yang ada.
Yugi menatap pintu yang tertutup itu dengan mata tenang. Beberapa menit, ia diam di depan pintu tanpa melakukan apa-apa. Yugi menunggu. Menunggu ia siap untuk menerjang tembok yang di pasang oleh Nami.
Oke. Aku harus masuk.
Klek! Tanpa mengindahkan permintaan Nami untuk meninggalkan dia sendiri, Yugi terus bergerak maju untuk mendobrak kekakuan yang mendera di antara mereka berdua.
Mendengar suara pintu terbuka, Nami terkejut. Ia yang sedang duduk di atas ranjang menoleh cepat. Bola mata Nami melebar karena terkejut pria ini muncul begitu saja. Yugi melihat mata Nami berkaca-kaca. Perempuan ini menangis. Punggung tangan Nami segera terangkat untuk menyeka air mata.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nami dengan mata merah karena tangis juga marah. Dia terusik. Yugi diam. "Aku tanya. Apa yang kamu lakukan Yugi?" desis Nami.
Yugi masih diam seraya mendekat.
Melihat itu, Nami akhirnya berdiri. "Bukankah aku sudah bilang jangan mengikuti ku. Keluar kamu sekarang," tunjuk Nami ke pintu dengan marah.
"Aku tidak mau," tegas Yugi. Nami melebarkan mata. Dia tidak menyangka Yugi akan membantahnya. Langkah pria ini makin mendekat ke bibir ranjang. Nami kebingungan. Dari bola matanya, pria ini sepertinya sudah bertekad untu mendekatinya.
..._________...
__ADS_1