Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 59 : Hamil?


__ADS_3

Kata-kata Sifa soal Nami terus terngiang di kepalanya. Dokter wanita yang sedang memeriksa Nami muncul dari balik bilik pemeriksaan. Lalu di ikuti oleh perempuan itu di belakangnya.


"Bagaimana dokter? Apa istriku hamil?" tanya Yugi menggebu. Nami melirik sambil tetap diam.


"Selamat Pak Yugi, istri Anda hamil. Kini sampai pada empat bulan," kata dokter ini lembut.


"Benarkah?" tanya Yugi seraya menoleh pada Nami yang duduk di sampingnya. Perempuan ini mengangguk pelan. "Oh, Nami ... ini berita bahagia." Yugi langsung memeluk Nami.


"Sudah, jangan lama-lama. Kita di lihatin ibu dokter," bisik Nami. Ibu dokter tersenyum mengerti. Namun Yugi akhirnya melepaskan istrinya. Karena wanita ini terus saja melotot minta di lepaskan.


"Jadi sudah empat bulan ya, Dok?" tanya Nami.


"Ya. Kini janin sudah berumur 4 bulan," kata ibu dokter. Meskipun Yugi sudah melepas pelukannya, tapi tangannya sibuk *******-***** tangan istrinya.


"Apakah anakku sehat?" tanya Yugi.


"Ya. Janin di dalam kandungan istri Anda sehat," jawab dokter.


"Kalau istri saya? Apa tubuhnya juga sehat?" Pertanyaan masih keluar dari bibir Yugi. Pria yang akan menjadi ayah ini tampak bersemangat.


"Ya, ibunya juga sehat." Dengan sabar, dokter menjawab pertanyaan Yugi.


"Tapi kenapa istri saya tadi mual dan muntah-muntah?" Yugi menoleh pada Nami dan tersenyum.


"Itu bukan karena tidak sehat. Sudah menjadi kebiasaan ibu hamil selalu ada mual dan muntah yang menyertainya. Karena ada ibu hamil yang tidak menyukai sesuatu hingga menyebabkan perut bergolak," ujar dokter menjelaskan.


Setelah puas mendapat banyak penjelasan dari dokter, mereka pulang. Dalam perjalanan pulang, Reno menelepon. Yugi menekan loud speaker.


"Ya, Reno ada apa?" tanya Yugi. Nami menoleh ke samping.


"Gimana kabar istrimu? Apa semua baik-baik saja?"


"Ya. Semua baik-baik saja. Istriku tidak apa-apa," sahut Yugi.


"Syukurlah." Reno terdengar lega juga. "Jadi gimana? Apa istrimu memang sedang hamil?" tanya Reno selanjutnya.


"Ya, istriku dinyatakan hamil Ren," jawab Yugi sambil tersenyum hangat pada Nami di sebelahnya.


"Benarkah? Selamat ya ..."


"Terima kasih Reno. Aku tidak langsung ke kantor. Kita pulang dulu," pamit Yugi.


"Oke. Hati-hati, Bro."


"Ya." Klik! Yugi menekan tombol memutus sambungan telepon.


"Jadi ... Kita tidak ke kantor?" tanya Nami terkejut.

__ADS_1


"Tentu saja tidak."


"Aku tidak boleh bekerja?" Nami berwajah panik.


"Ya."


"K-kenapa?"


Mendapat pertanyaan itu, Yugi menoleh dengan heran. "Tentu saja karena kamu hamil sayang ..." Yugi menyentuh pipi istrinya.


"Tapi kenapa harus sampai tidak bekerja, Mas?" tanya Nami tidak setuju. Yugi menepikan mobil karena sepertinya mereka butuh bicara agak panjang.


"Sayang ... Bukankah kamu tadi kesakitan saat bekerja. Itu karena kehamilan ini kan? Jadi aku tidak mengijinkan jika kamu bekerja dan kesakitan seperti itu," ujar Yugi.


"Mas, wanita hamil kan memang begitu. Muntah dan mual. Dokter tadi saja bilang begitu."


"Tapi kalau kamu seperti tadi ..."


Nami tersenyum dan menggenggam tangan Yugi. "Dokter kan bilang kalau tadi aku kesakitan itu mungkin karena sesuatu. Aku pikir itu bukan karena aku bekerja, tapi karena tadi ada bau-bauan yang tajam. Tadi aku merasakan bau minyak kayu putih yang menyengat. Jadi mual. Itu memicu perutku bergolak." Nami memberi penjelasan.


"Tapi aku tetap cemas," kata Yugi tetap bersiteguh dengan pendiriannya.


"Tentu saja. Mas harus tetap cemas karena ada anak kita di dalam sini." Nami mengelus perutnya. Tangan Yugi jadi ikutan mengelus perut istrinya. "Tapi perlu juga di perhatikan emosi ibunya."


"Lalu?" tanya Yugi memilih melembutkan pendiriannya.


"Kamu memang pandai merayu ku, sayang ..." Yugi kalah. Kemudian dia mencium kening istrinya. Bagaimanapun juga Yugi ingin istrinya selalu bahagia. "Baiklah. Baik. Namun harus ingat, jangan berlebihan," pesan Yugi.


"Horee ... Eh." Nami terkejut sendiri saat tidak sadar merayakan persetujuan Yugi memperbolehkan dirinya bekerja.


"Hahaha ... Kenapa istriku sekarang jadi imut." Yugi tertawa senang dan memeluknya erat.


"Jangan kencang-kencang. Ada anak kita," pesan Nami.


"Eh, iya aku lupa." Yugi melonggarkan pelukannya.


"Jadi sekarang kita kembali ke kantor?" tanya Nami setelah Yugi melepaskan pelukannya.


"Tidak."


"Tidak?" Nami terkejut. "Tadi Mas bilang aku boleh berkerja." Perempuan ini protes.


"Iya. Hari ini libur dulu. Kita istirahat saja, bagaimana?"


"Aku tetap di bolehkan kerja, kan?" tekan Nami takut suaminya ingkar.


"Iya sayaaaangg ..." Yugi menowel pipi istrinya.

__ADS_1


"Baiklah. Kita istirahat. Aku mau makan buah yang warna oranye," kata Nami tiba-tiba sambil bersandar nyaman di kursi mobil.


"Buah warna jingga?" tanya Yugi terkejut.


"Iya. Tiba-tiba aku ingin makan buah," jawab Nami enteng.


"Buah warna jingga itu apa? Jeruk?" Yugi tidak mengerti.


"Enggak. Aku enggak mau jeruk. Aku mau buah aprikot," kata Nami.


"Aprikot. Hmm ... sepertinya kita harus ke supermarket. Baiklah, ayo kita cari buah itu." Yugi mulai menjalankan mobil menuju ke supermarket. "Kenapa tiba-tiba ingin buah aprikot? Sepertinya kamu jarang dan hampir enggak pernah makan buah itu." Yugi mengingat lagi kesukaan Nami.


"Ya, mendadak saja ingin buah itu," sahut Nami.


Ponsel Nami berdering. Nami mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu membaca nama kontak yang sedang menghubunginya. Bola mata Nami melebar.


Yugi menoleh dan bertanya, "Siapa?" Melihat sikap Nami yang tidak langsung menerima telepon itu, Yugi penasaran. Apalagi wajah terkejut perempuan ini.


"Ee ... Mama."


"Mama? Mama Vera?" tegas Yugi. Dia agak terkejut mendengar itu.


"Ya."


"Kamu tidak menghapusnya?" tanya Yugi sambil melihat ke depan dan Nami bergantian.


"Tidak," sahut Nami dengan wajah agak menunduk. Yugi tidak mempermasalahkan itu. Bagaimanapun mereka adalah ibu dan anak yang sudah lama bersama. Meskipun pada akhirnya hubungan mereka keruh dan menjadi permusuhan.


Karena tidak di terima oleh Nami, mama mengirimkan pesan.


"Apa itu pesan?" tanya Yugi seraya membelokkan mobil menuju supermarket di depan sana.


"Ya." Nami membuka pesan yang mama Vera kirim. Bola mata Nami mengerjap.


"Ada apa? Apa mama membuatmu sakit hati lagi? Abaikan. Mereka orang yang jahat," nasehat Yugi.


"Mama mengabari kalau Vera sudah melahirkan," kata Nami.


"Oh, begitu," respon Yugi biasa. Nami diam. Dia sedang memikirkan sesuatu.


Mobil mereka sudah tiba di depan supermarket yang ada fresh food-nya. Yugi melirik ke samping saat melepaskan sabuk pengaman. Dia melihat wajah sendu istrinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" tegur Yugi yang melihat Nami murung. Nami tersenyum lemah. "Kamu ingin mengatakan sesuatu?"


"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Nami merasa bimbang.


...____...

__ADS_1


__ADS_2