Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 54 : Marah yang salah


__ADS_3

Itu Yugi. Dia sudah datang saat Nami berdiri bersama Rico. Awalnya dia hanya ingin menghubungi Nami lewat ponsel untuk memberitahu bahwa dia sudah datang. Namun saat melihat Rico yang mendekat dan sepertinya ada sesuatu, Yugi memilih langsung mendatangi istrinya.


"Ada masalah, sayang?" Sebuah suara membuat mereka menoleh.


"Yugi." Perempuan itu tersenyum menyambut suaminya.


Tubuh Yugi mendekat dan memeluk pinggang Nami dan menoleh pada Rico. Bola mata Rico sempat melihat itu sekilas. "Hai, Rico. Ada perlu dengan istriku?" tanya Yugi seraya mengulurkan tangan. Bersikap sopan karena mereka tengah melakukan kerja sama.


"Ya. Kita sedang membicarakan sesuatu. " Rico tersenyum dan mengulurkan tangannya menyambut pria ini.


"Jadi aku mengganggu?" tanya Yugi dengan sedikit menaikkan alis ingin tahu. Sekedar menguji. Karena dia tahu, tindak tanduk pria ini tadi sepertinya bukan sedang membicarakan pekerjaan.


"Tidak. Aku bisa membicarakannya saat kita bekerja besok. Masih banyak waktu," kata Rico berusaha tampak bijak meskipun ia masih ingin menguasai Nami.


"Oh, begitu." Yugi mengangguk.


"Terima kasih atas waktunya Nami. Sebaiknya aku pulang. Permisi , Yugi," kata Rico.


"Ya. Silahkan," sahut Yugi yang tidak membiarkan Nami menjawab kalimat pria itu. Rico menggeram pelan melihatnya. Namun dia harus pergi. Percuma kalau Nami bersama Yugi, dia tidak akan punya kesempatan untuk bicara. "Ayo, sayang


Kita juga pulang." Yugi mengajak Nami masuk ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan apapun yang menyangkut soal Rico. Namun setelah Nami selesai mandi dan makan makanan yang di beli sebelum mereka sampai rumah, Yugi mulai menanyakannya.


"Apa yang di bicarakan Rico tadi?" tanya Yugi sambil mengelus rambut Nami yang duduk di sampingnya. Mereka menonton tv. Nami menoleh sebentar. Ia pikir suaminya tidak menanyakan itu. "Aku tahu itu bukan pekerjaan." Yugi langsung memberi tahu kesimpulannya.


Nami menghela napas.


"Soal Vera."


"Vera? Kenapa dengan istrinya?"


"Mereka ... " Nami ragu mengatakannya. "Apa aku boleh mengatakannya ini padamu?" tanya Nami membuat Yugi mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apa kamu ingin merahasiakannya?" tanya Yugi.


"Bukan. Aku enggak mungkin merahasiakan apa-apa dari kamu, tapi ... ini juga tentang kamu, Mas. Aku tidak nyaman."


"Bicara saja. Aku tidak terlalu memikirkannya kalau soal mereka. Hanya ingin tahu saja."


"Mmm ... Rico mendengar cerita soal mama dan Vera yang telah menipunya."


"Menipu?"


"Benar. Rico mendengar, Vera meninggalkan kamu Mas, karena merasa Rico lebih kaya." Nami menjeda kalimatnya. Raut wajah Yugi biasa saja. Jadinya Nami meneruskan. "Namun Vera terkejut saat tahu mas adalah pemilik sebuah perusahaan. Mungkin saat kita bertemu berempat itu. Vera sedikit menyesal. Mereka membandingkan mas dan Rico yang hanya seorang manajer di perusahaan. Jadi dia marah dan sakit hati. Mereka bertengkar sepertinya." Nami merasa sudah mengatakan sejelas-jelasnya.


"Begitu ya."


"Mas enggak kaget?" tanya Nami.


"Enggak. Buat apa?" tanya Yugi dengan wajah datar. Karena itu dia tahu tabiat Vera.


"Oh, enggak." Nami menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu." Nami tidak ingin berspekulasi.


"Aku benar-benar tidak peduli dengan itu, Nami ... Terserah apa yang ada di dalam pikiran Vera dan mamanya, aku tetap bahagia lebih memilih kamu sebagai istriku," kata Yugi sambil menaikkan alisnya menggoda Nami. Bahkan menyentuh bibir Nami dengan bibir miliknya. "Aku ini lebih mencintaimu."


Nami tersenyum. Mendengar kata cinta itu, Nami bahagia.


"Terima kasih sudah mencintaiku," kata Nami penuh dengan syukur. Lalu melingkarkan lengannya pada tubuh Yugi. Pria ini pun menyambutnya dengan pelukan hangat.


***


"Mbak Nami!" panggil seseorang dengan nada tinggi di lorong menuju ruang kerja mereka. Nami menoleh cepat karena terkejut. Ternyata itu Vera. Perempuan itu berjalan mendekat ke arahnya dengan raut wajah marah.


Nami tidak sendiri. Dia sedang bersama Ina dan Mila. Mereka pun ikut menoleh dengan cepat.

__ADS_1


"Mbak ini kesal ya karena kita bukan saudara kandung? Jadi Mbak melampiaskan pada mas Rico agar mas Rico kesal sama aku," kata Vera dengan nada jengkel yang sangat kentara.


"Kamu bicara tanpa memikirkan dulu apa yang keluar dari mulutmu, ya?" tanya Nami membuat Vera melebarkan matanya.


"Jangan bertingkah, Mbak. Mbak ini masih menginginkan Mas Rico kan?" tuduh Vera. Dua orang yang sudah mengerti soal hubungan Nami dan Rico dulu, mengernyitkan kening mendengar itu.


Ina dan Mila menipiskan bibir geram mendengar itu. Menilai dari kisah Nami, posisi Vera-lah yang bermasalah. Perempuan ini penyebabnya, bukan Nami. Sebenarnya kedua perempuan ini sudah ingin menyerbu Vera, tapi mereka mencoba diam demi menghormati Nami yang bertindak tenang.


"Soal apalagi, Vera?" tanya Nami yang sudah terbiasa dengan tingkah perempuan yang pernah di anggap adiknya ini.


"Mas Rico tidak mau kembali ke rumah dan memilih tinggal sendiri. Ini karena Mbak Nami!" Telunjuk Vera menunjuk Nami dengan kasar. Ina dan Mila yang menyaksikan ini jadi paham kalau mereka tengah ada kemelut.


"Padahal kita berdua sudah menikah dan aku mengandung. Kenapa dia tetap tidak berpaling padaku?"


"Seharusnya kamu tanyakan itu pada dirimu sendiri. Bukan kesal padaku, Vera. Lagipula, bukannya mulut kamu dan mama sendiri yang membuka fakta busuk di balik pengkhianatan Rico. Kalian menipu Rico dan membuang Yugi, demi mendapatkan pria yang lebih kaya." Nami mengatakannya dengan sadis.


Mila dan Ina menganggukkan kepala setuju dengan kalimat Nami. Mereka tentu mendukung penuh perlawanan Nami. Karena mereka tahu siapa sebenarnya yang bersalah di sini.


"Jaga mulut kamu ya ...." Vera marah besar. Sampai-sampai embel-embel 'Mbak' tidak lagi diucapkannya.


"Bukan aku yang perlu menjaga mulut, tapi kamu dan Rico. Bilang pada Rico untuk tidak membuka aib kalian sendiri. Karena aku tidak perlu tahu dan tidak butuh," balas Nami.


"Berlagak ya ... karena Yugi punya perusahaan. Ingat, kalau bukan karena aku menggoda Mas Rico, kamu pasti tidak akan bisa menikah dengan Yugi. Jadi kamu punya Yugi itu karena aku," tunjuk Vera pada dirinya angkuh.


"Oh, ya. Aku selalu ingat itu. Kalau Rico tidak berselingkuh denganmu sampai kamu hamil, mama tidak akan memaksaku untuk menggantikan mu menikah dengan Yugi. Jadi terima kasih. Terima kasih sekali Vera. Yugi memang pria yang baik," kata Nami sambil membungkukkan badannya sedikit. Memberi penghormatan yang tinggi untuk Vera.


Mila dan Ina mengangguk puas. Mereka mencibir tanpa sadar.


Namun itu menjadi suatu penghinaan bagi Vera karena terkesan mengolok-olok dirinya.


"Kamu ..." Tangan Vera melayang ingin menampar Nami. Namun sebuah tangan lain berhasil menangkapnya.


..._____...

__ADS_1



__ADS_2