
“K-kamu ...” Mama ingin marah tapi di tahannya. Beliau segera keluar dari ruangan meninggalkan mereka. Wanita ini pasti terluka hatinya.
“Nami ... “ Yugi sedikit menundukkan kepala untuk melihat keadaan Nami. Wanita ini masih menunduk. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Yugi lembut. Yang ia lihat sekarang adalah air mata Nami berderai. Wanita ini sejak tadi menahan tangis. Yugi langsung memeluk Nami erat. Kemudian mengusap rambut perempuan ini dengan penuh kasih sayang.
Tangisan Nami masih belum tuntas. Yugi mempererat pelukannya seraya memejamkan mata sekejap. Ia mengerti rasa sakit di hati Nami. Ia paham.
Baru setelah sekitar sepuluh menitan, Nami mulai lelah untuk menangis. Yugi mengajak wanita ini duduk.
"Maaf aku tidak langsung masuk kesini saat mendengar mama kamu bicara tidak karuan. Aku tidak boleh gegabah. Bagaimana pun beliau itu orang tua," ujar Yugi.
"Tidak apa-apa. Kamu masuk di waktu yang tepat, Yugi," kata Nami sambil mengusap matanya yang masih terasa berair. Yugi ikut membantu mengusap sisa air mata di mata dan pipi perempuan ini.
"Mama sungguh aneh jika menyalahkan kamu yang dulu dekat dengan Rico. Aku tidak habis pikir dengan itu. Ternyata mama dan Vera sama saja." Rasa marah Yugi masih ada.
Apakah pantas dia merasa bahagia ketika Yugi marah pada keluarganya? Karena Nami senang melihat itu. Pria ini terlihat begitu percaya padanya, dan nyatanya ada rasa hangat saat mendengar Yugi membelanya.
Nami tersenyum. "Terima kasih tadi."
"Aku wajib melakukannya. Karena mama sudah keterlaluan." Masih tercetak dengan sangat jelas wajah geram Yugi pada mertuanya. Nami tahu kata-kata mama makin merendahkannya. Juga menganggap dirinya hina, seolah-olah dia tidak pantas berada dalam lingkaran keluarga itu.
"Kita harus pulang. Kamu tidak setuju pun aku akan memaksamu pulang. Percuma kamu menghormati mereka tapi keluargamu menginjak-injak kamu terus, Nami. Aku tidak terima." Yugi tegas mengatakannya.
__ADS_1
"Iya. Bawa aku keluar dari sini Yugi. Mungkin aku bukan bagian mereka." Nami tidak harus berlama-lama di tempat ini. Dia akan segera pulang.
Tanpa pamit, Yugi membawa istrinya pulang. Dia tidak peduli bagaimana pendapat mertuanya. Toh, Nami seringkali tidak di anggap. Yugi segera menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
Dalam perjalanan pulang, Nami terlelap di kursi sebelahnya. Wajahnya sembab karena air mata. Ada rasa sakit yang menganga saat melihat wajah sedih perempuan ini. Yugi menggeram sebentar saat ingat lagi yang terjadi tadi.
“Keluarga kurang ajar. Bisa-bisanya aku tertarik dengan wajah cantik Vera. Padahal dia iblis. Hhh ... Untung saja aku menemukan perempuan ini. Dia berharga. Dia istimewa.” Yugi menyentuh pinggiran wajah Nami. Perempuan hanya bergerak pelan. Yugi menarik tangannya. “Aku harap kamu membuka hatimu segera, Nami. Aku menunggu.”
Yugi memacu mobil agak cepat. Hingga akhirnya mobil itu tiba di rumah. Saat menoleh ke samping, istrinya masih terlelap dengan nyaman. Yugi tidak tega membangunkannya. Ia memilih turun dan membuka pintu mobil. Nami masih memejamkan mata.
Perlahan tangan Yugi menyelusup di bawah tumit Nami. Tubuh Nami bergerak. Tangan pria ini yang lainnya berada di belakang kepala Nami. Dengan satu tarikan yang kuat, tubuh itu terangkat ke dalam pelukan pria ini. Yugi menggendong tubuh Nami untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
"A-apa yang ..." Nami kebingungan.
"Tenanglah. Aku akan membawamu masuk ke dalam rumah."
"Aku tidak perlu di gendong, Yugi. Aku bisa jalan sendiri," lirih Nami dengan wajah di benamkan karena malu.
"Tidak apa-apa. Aku yang ingin menggendong mu. Eratkan pelukanmu," pinta Yugi mengejutkan. "Ini jalanan agak naik,” kata Yugi sambil tersenyum.
"Oh." Nami terkejut. Ia langsung mengikuti arahan Yugi. Tangannya melingkar ke leher pria ini. Takut berat di tubuhnya membebani pria ini. Yugi tersenyum senang.
__ADS_1
Yugi meletakkan tubuh itu tepat di depan pintu. Tidak mungkin dia bisa membuka pintu kalau menggendong istrinya. Nami mengusap wajahnya yang panas karena malu. Ia segera berjalan menuju ke kamar.
Nami merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa malu di gendong pria itu masih terasa. Tidak ada suara Yugi lagi di luar. Apa pria itu ke kamar mandi? Atau kemana?
Tok! Tok! Pintu kamar di ketuk. Muncul Yugi dari balik pintu. Lalu masuk seraya membawa clutch bag miliknya.
"Aku mengambil ini di mobil barusan,” kata Yugi sambil meletakan tas itu di atas meja. Nami jadi tahu suasana sunyi tadi. “Berbaringlah agar nyaman. Aku ambilkan minum dulu."
Kepala Nami mengangguk. Pria ini keluar dari kamar. Masih ingat dengan jelas saat mama mengatakan bahwa Rico adalah mantannya.
Suara pintu kamar di buka. Nami yang berbaring bergerak untuk bangun. Yugi masuk membawa air minum untuknya.
"Minumlah," pinta Yugi. Nami mengangguk. Menerima sodoran gelas berisi air itu dan meneguknya perlahan. Kerongkongannya mulai sejuk karena air tadi membasahi. "Apa kamu mau langsung tidur?" tanya Yugi dengan raut wajah yang menunjukkan rasa perhatiannya. Pria ini berhati hangat. Nami merasa tenang.
..._______...
...
...
__ADS_1