
Nami berdiri di taman gedung advertising milik Yugi dengan mama Vera. Sungguh bodoh saat Nami tetap saja mau di ajak bicara meskipun sudah banyak riwayat buruk dari mama dan putrinya ini.
Namun sebagai anak yang sudah pernah di asuh bertahun-tahun lamanya, dia tidak mungkin tega jika membiarkan mama Vera jika hanya ingin bicara.
"Katakan apa yang di inginkan mama." Nami melipat tangan.
"Oh, ternyata kamu tidak lupa kalau aku sudah mengasuh mu sejak kecil ya. Kamu masih tahu balas budi juga." Mama Vera tersenyum dengan menarik ujung bibirnya. Mirip tertawa penjahat.
Nami tidak bereaksi.
"Kamu harus bisa membujuk Rico untuk kembali pada Vera. Kurang ajar sekali pria itu berani menggugat cerai Vera. Padahal Vera sudah berkorban banyak untuknya," kata mama Vera geram.
Dua alis Nami bertaut. Dia merasa perempuan yang ia sebut mama ini sungguh menjijikkan. Bagaimana bisa dia menyuruh Nami membujuk suami Vera yang notabene adalah mantan kekasih yang sudah di rebut oleh Vera.
Bahkan berkata Vera sudah banyak berkorban.
Apa yang sudah di korbankan oleh perempuan itu? Bukankah dirinya yang sudah banyak berkorban?
__ADS_1
"Kenapa harus aku? Bukankah itu urusan Vera sendiri?"
"Rico tidak bisa dihentikan untuk menceraikan Vera kalau bukan olehmu. Pria itu sungguh menjengkelkan. Untung saja dia kaya, meskipun tidak sekaya suami mu," kata Mama Vera melirik gedung milik Yugi.
"Apapun yang Rico lakukan, itu tidak ada hubungannya dengan ku. Bahkan kalaupun dia menceriakan Vera, tetap saja aku tidak bisa mencegahnya. Itu sudah jalan yang dipilih olehnya. Seharusnya Vera tahu, kalau jalannya tidak mulus karena sudah merusak hubungan orang lain," kata Nami panjang.
"Huh, jangan sok menasehati. Kamu dapat Yugi saja karena mama dan Vera. Sudahlah. Kamu memang tidak bisa di ajak bicara," dengus mama.
Nami mengerutkan kening dan menghela napas melihat kelakuan mama Vera.
"Karena sudah terlanjur datang, sebaiknya kamu memberi mama uang untuk pulang," kata mama tidak malu-malu.
"Baiklah, aku akan memberi mama uang. Lalu pulanglah. Jangan mengganggu disini," kata Nami. "Aku masuk dulu ambil uang."
"Kamu memang jadi berlagak karena Yugi, Nami. Tidak salah kalau Vera sudah menjambak rambut mu, bahkan memaki mu." Lagi. Mulut mama sungguh tidak tahu aturan. Semua yang di katakannya adalah sampah.
Nami hanya mendengus saja. Mencoba mengabaikan perempuan gila ini. Saat hendak masuk, Yugi muncul.
__ADS_1
"Mas Yugi?"
Sekuriti yang ada di sana membungkuk memberi hormat.
"Kamu tidak apa-apa? Apa mama Vera melakukan kekerasan padamu seperti Vera?" tanya Yugi langsung saat mereka bertemu.
Khawatir dan cemas begitu menyelimutinya saat tahu ada keluarga lama Nami di sini.
"Tidak. Mama tidak melakukan apa-apa. Aku baik-baik saja." Nami tersenyum.
"Oh, Yugi!" sapa mama Vera.
"Kenapa datang ke perusahaan ku?" tanya Yugi mengabaikan ramah tamah mama Vera yang palsu.
"Kamu ini ... Mama tentu kangen dengan putri mama. Kamu juga kenapa bersikap sopan pada mertua mu?" Mama Vera tetap tidak tahu diri.
"Anda tidak pantas di hormati. Juga, Anda bukan mertua saya. Karena itu berhenti sok baik kepada saya," ketus Yugi.
__ADS_1
..._____...