
Semua orang di kantor Yugi melihat heran. Tidak biasanya Yugi datang ke kantor membawa istrinya. Namun Reno yang sudah di beritahu tidak begitu banyak reaksi.
Nami yang merasa menjadi pusat perhatian langsung menyapa mereka dengan ramah. Mata Nami tertambat pada Sifa yang memperhatikannya sejak tadi. Bukan tatapan heran seperti yang lain, wanita itu menatap penuh selidik ke arahnya.
"Halo Sifa, ini kedua kalinya kita bertemu." Nami berinisiatif mendekat lebih dulu.
"Ah, ya benar." Sifa terpaksa mengulurkan tangan menyambut tangan Nami.
"Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa istriku datang ke tempat ini. Istriku akan bekerja di sini," ungkap Yugi.
"Ohhh ... begitu." Semua langsung berseru bersamaan.
**
Setelah perkenalan singkat, Nami langsung duduk di depan komputer. Mengerjakan sesuatu yang sangat sederhana di komputer. Bukan tidak bisa. Bagi Yugi, Nami akan tetap sebagai istrinya meskipun sedang bekerja. Karena dia tidak akan membuat istrinya kesulitan dan sebagainya.
Sifa sejak tadi memperhatikan Nami yang duduk di sebelahnya.
"Ada perlu denganku, Sifa?" tegur Nami. Karena mendadak, Sifa tidak siap untuk memalingkan wajah terlebih dahulu. Jadi dia tertangkap basah tengah memperhatikan Nami. "Sejak tadi kamu melihat ke arahku."
"Emmm, sedikit." Sifa mengaku.
"Tanyakan saja. Jika bisa, aku akan menjawabnya." Nami membuka hati untuk membiarkan Sifa mengatakan sesuatu. Dia tidak membenci perempuan ini. Hatinya terbuka untuk sebuah pertemanan.
"Kenapa kamu berhenti dari tempat kerjamu?" tanya Sifa dengan mata? menyipit ingin tahu.
"Oh, itu." Nami tergelak. "Yugi tidak ingin aku bekerja di perusahaan orang lain. Jadi dia memintaku berhenti. Dia lebih suka aku disini bersamanya," jelas Nami seraya berbisik saat mengatakan kalimat terakhir. Seakan itu adalah poin utama yang menjadi alasan dia kerja di perusahaan ini.
"Pengantin baru memang selalu kena sindrom seperti itu. Selalu ingin berdua terus," ujar Sifa seraya mendengus.
"Itu bagus bukan?" tanya Nami.
"Yaaa ... paling bertahan di awal saja." Sifa mengatakan itu seolah tengah mencemooh Nami dan Yugi.
"Hihihi ... Benarkah? Aku kurang tahu sih. Namun tentu kita akan berbeda. Oh, ya coba saja kamu menikah, kamu akan mengerti bagaimana rasanya," nasehat Nami yang mampu membungkam mulut Sifa.
Reno yang ada di meja lain mendengar itu. Dia menggelengkan kepalanya.
"Kamu sudah mengerjakan yang kemarin Sif?" tanya Reno. Suaranya agak keras saat bertanya. Pria itu sengaja untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Sifa menoleh dengan kerutan di keningnya. "Ya, ini aku sedang mengerjakannya," sahut Sifa ketus.
__ADS_1
"Jangan lama-lama. Aku butuh itu." Reno langsung bicara dengan tegas. Padahal dadanya berdegup kencang lantaran pertanyaan Sifa waktu sepulang dari rumah Yugi, "Orang lain yang punya perhatian untuk aku itu, apa kamu?" tebak Sifa mengejutkan waktu itu.
"Ih, Reno," gerutu Sifa pelan. Nami memperhatikan mereka berdua.
"Hei, Sifa. Menurutku, dia pria baik. Semoga kalian berjodoh," ucap Nami.
"Tidak mungkin." Sifa memalingkan wajah. Dia langsung mengerjakan apa yang di tanyakan Reno padanya tadi. Nami tersenyum.
Mendadak kepala Nami pening.
"Nami, kamu kenapa?" tanya Sifa yang melihat Nami memegangi kepalanya. Mendengar suara Sifa yang panik, Reno ikut menengok ke meja Nami.
"Aku pusing," jawab Nami.
"Kamu sakit? Padahal baru saja kita bicara seperti biasa," kata Sifa heran. Nami meringis sambil menahan rasa sakit.
"Ugh." Nami menutup mulutnya. Perutnya terasa bergolak.
Melihat raut wajah Nami agak pucat, Sifa cemas. "Aku panggil Yugi ya?"
"Ada apa?" Reno mendekat karena sepertinya ada hal gawat.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Reno langsung melesat ke ruangan Yugi. Brak! Tanpa permisi Reno membuka pintu ruangan Yugi.
"Reno? Ada apa? Kenapa membuka pintu tanpa permisi?" tanya Yugi heran juga geram.
"Istrimu. Istrimu sakit," ujar Reno.
"Apa?" Ini membuat Yugi begitu terkejut. Dia langsung berdiri. "Dimana istriku?"
"Sifa menemaninya," jawab Reno.
Yugi mematikan mengentikan pekerjaannya. Mereka keluar ruangan bersama. Namun ternyata mereka berdua tidak ada di kursinya.
"Mana istriku, Reno?" Yugi menoleh ke sekitar dengan kebingungan. Rebo juga bingung. Seingat dia, Sifa dan Nami berada di kursi dengan tubuh Nami yang agak membungkuk menahan rasa sakit.
"Tadi Sifa menemaninya di sini, Gi," kata Reno yakin.
"Pak Yugi, istri Anda ada di toilet staff," ujar salah satu karyawan. Dia melihat Sifa membawa istri bos ke sana.
"Toilet?" Yugi langsung berjalan ke pintu. Dia ingin segera ke toilet tempat istrinya berada. Rasa cemas makin melanda Yugi. Kakinya melangkah lebar-lebar dan cepat.
__ADS_1
Sementara itu Sifa menemani Nami yang muntah-muntah di kloset.
"Keluarkan saja isi perutmu. Itu akan merasakan mual," kata Sifa seraya memijit tengkuk Nami. Tubuh Nami terasa lemas. Dia sudah selesai mengeluarkan semua isi perutnya. "Mau kemana?" tanya Sifa saat melihat tubuh Nami perlahan beranjak dari kloset.
"Mau cuci muka," sahut Nami lemah.
"Aku pegangin." Karena melihat tubuh Nami berjalan dengan gontai, Sifa berinisiatif.
"Terima kasih." Nami berjalan menuju wastafel. Berkumur dan membasuh wajahnya yang kuyu. Karena muntah berkali-kali, air mata Nami sampai keluar.
"Perutmu sudah enakan?" tanya Sifa. Nami mengangguk. Terdengar derap langkah terburu-buru di luar toilet. Lalu lanjut terdengar teriakan seseorang.
"Nami! Nami!" panggil Yugi. Nami yang sedang menghadap ke cermin, kini menengok ke pintu.
"Ya," sahut Nami lemah. Itu tidak sampai ke luar karena terlalu pelan.
"Ya, Nami ada di dalam toilet Yugi! Kamu bisa masuk!" jawab Sifa menggantikan Nami. Yugi langsung mendorong pintu toilet.
"Nami!" seru Yugi panik saat melihat wajah pucat Nami. Sifa melepas pegangannya saat Yugi menghampiri Nami dengan cepat dan memeluknya. Reno juga muncul dari belakang Yugi. "Ada apa dengan mu?" tanya Yugi khawatir.
"Aku ... pusing," lirih Nami.
"Tiba-tiba dia bilang pusing dan muntah-muntah. Lebih baik segera ke dokter, Yugi," jelas Sifa.
"Ya, aku akan segera membawanya ke dokter." Yugi mengangguk.
"Jangan lupa ke dokter spesialis," lanjut Sifa.
"Dokter spesialis?" tanya Yugi dengan heran.
"Hei, apa yang kamu bicarakan?" tegur Reno merasa Sifa salah bicara. Sifa hanya melirik ke Reno dengan tajam.
"Karena si sepertinya dia bukan sekedar masuk angin. Istrimu itu sedang hamil sepertinya," kata Sifa mirip dokter.
"Benarkah?" tanya Yugi tidak percaya. Reno juga ikut melihat ke arah Nami yang masih di peluk Yugi.
"Jangan sembarangan," kata Reno menyenggol lengan Sifa.
"Apa yang sembarangan? Coba saja lihat nanti. Kalau sudah bersuami, kemungkinan hamil itu pasti ada," sungut Sifa. "Apalagi mereka pengantin baru." Sifa menjelaskan dengan baik.
..._____...
__ADS_1