Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 91 : Nasehat ibu


__ADS_3

Kabar baik berasal dari bayi mereka. Kondisi bayi itu mulai stabil. Bunda Yugi terus saja bergumam bahagia ketika melihatnya.


"Emmm ... lucunya kamu sayang ... Ini uti sayang. Cepat sehat ya ... Biar uti bisa segera gendong kamu," ujar Bunda terlihat begitu antusias. Yugi jadi ikut terlibat bahagia melihat bundanya.


Meskipun anak perempuannya sudah menikah, tapi mereka belum di karuniai seorang anak. Jadi anak Nami dan Yugi adalah cucu pertama beliau.


"Ya, sayang. Ini Uti mu yang baik." Yugi mengenalkan pada putranya dengan nada bercanda. Setelah waktu jam besuk habis, mereka segera keluar. Terlihat dari dinding kaca sakit. Langit di luar pun sudah mulai terlihat gelap.


"Sebenarnya Nami dan keluarganya itu bagaimana? Kenapa bisa mereka melakukan hal buruk begitu padanya?" tanya bunda di lorong rumah sakit ketika pulang dari melihat bayi mereka.


"Hubungan mereka memang tidak baik, Bund."


"Kenapa? Apa kalian kurang sering menjenguk mereka? Atau kamu tidak memberi mereka sedikit dari hasil bekerja mu? Disana kan juga ada ibu dari istrimu. Harusnya kamu bersikap baik juga pada mama Nami." Bunda menasehati. "Bunda tidak ingin kamu itu tidak berbakti pada mertua. Karena apa, ayahmu itu bukan pria yang seperti itu."


Yugi tersenyum.


"Ayah dan Bunda ku memang terbaik," ujar Yugi seraya mengandeng lengan bundanya. Bunda tersenyum seraya memukul tangan putranya pelan.

__ADS_1


"Aduh, jangan mengalihkan pembicaraan. Bunda ini sedang menanyakan soal Nami dan keluarganya."


"Iya. Yugi akan bercerita."


"Iya, ayo. Bunda siap mendengarkan."


"Sebenarnya Nami bukan anak kandung mereka Bund," kata Yugi melalui kisah itu. "Dia hanya anak angkat."


"Benarkah?" Bunda agak terkejut.


"Ya. Aku harap Bunda tetap menerima Nami seperti biasa," pinta.


"Ya, mereka memang punya sifat yang buruk Bund," kata Yugi tidak mengatakan yang sebenarnya secara detail.


"Sedihnya jadi Nami."


"Begitulah." Yugi tahu benar bagaimana sedihnya Nami. Karena dia melihat sendiri perlakuan mama Vera pada wanita yang di cintainya itu.

__ADS_1


"Jadi apa yang mau kamu lakukan pada mereka? Apa kamu tetap akan menuntut mereka? atau kamu akan diam?"


"Sepertinya aku tetap akan menuntut mereka, Bund. Mereka sudah keterlaluan. Perbuatan mereka membahayakan bayi Yugi. Aku takut jika mereka tidak di hukum, kedepannya mereka akan lebih parah memperlakukan Nami." Pria ini mengatakan dengan tegas.


"Meski istrimu tidak setuju?"


"Yugi akan memberi pengertian pada Nami. Dia pasti mengerti."


"Ya. Karena orang seperti itu pasti tidak hanya melakukan sekali, mereka pasti berkali-kali melakukan hal buruk pada istrimu," kata Bunda yang tidak tahu kalau sebenarnya ini sudah keberapa kalinya ibu dan anak itu mencelakai istrinya.


Ponsel Bunda berdering.


"Oh, ayah mu Yugi. Ya, Ayah." Bunda bicara pada ayah di telepon. Setelah bicara banyak, Bunda menutup telepon. "Ayah mu mau ke sini. Sepertinya sama suami Yana juga." Bunda memberitahu.


"Sebaiknya aku segera jemput ayah dan Mas di depan," kata Yugi.


"Mereka sudah ada di lorong. Sudah kita kembali sana ke kamar istrimu. Ayo," ajak Bunda. Mereka pun kembali ke kamar Nami.

__ADS_1


...____...


__ADS_2