Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 38 : Menyatu


__ADS_3

Ternyata dia membawa Nami menuju ke kamar tidur. Apa yang dibayangkannya barusan terwujud. Meletakkan tubuhnya perlahan di atas ranjang. Bola mata Nami kembali panik. Dia tahu apa yang akan di lakukan pria ini padanya.


Rasa takut muncul di dalam hati Nami. Ia belum bisa memastikan hatinya. Akankah harus terjadi sesuatu dengan mereka pagi ini?


"Yugi, aku ..."


Belum sempat kalimat itu tuntas, Yugi ikut naik ke atas ranjang. lalu mendesakkan bibirnya pada bibir Nami. Keduanya kembali mencecap rasa manis dalam ciuman. Hasr*at Nami kembali naik. Ia bahkan membiarkan Yugi menjajaki lehernya. Nami yang ingin menolak, mulai lupa akan tujuannya.


Ini pertama kalinya tubuhnya disentuh oleh pria. Rasanya sangat dahsyat. Bahkan Nami merasakan tubuhnya mulai tidak bisa di ajak kompromi. Dia ingin bilang tidak. Namun tubuhnya menerima saat tangan pria ini mulai menyusup di balik kaosnya.


Tangan itu mulai menyentuh lembut gundukan kenyal miliknya. Nami merasakan sesuatu yang aneh membuat hawa tubuhnya panas dan gerah.


"Ahhh ..." Lenguhan lirih lolos dari bibir perempuan ini. Sungguh mengejutkan. Nami tidak merencanakan lolongan sen*sual tadi. Itu murni dari dirinya yang sedang menikmati sentuhan Yugi. Nami terbuai.


Pria ini menghentikan tangannya yang mengguncang inti gundukan kenyal itu. Nami mengatur napas. Ia merasakan napasnya naik turun.


"Yugi ...," lirih Nami dengan suara yang mirip desa*han. "Bisakah ..."


"Sebenarnya aku tidak bisa menunggu Nami. Aku menginginkanmu," bisik Yugi. Nami mengerti pria ini tidak bisa menghentikan gairahnya. Yugi men*cerup lagi bibir Nami yang ranum. Membuat gel*ora dan hasr*at melebur menciptakan keinginan untuk menyatu yang begitu besar.


Tangan Yugi menahan punggung Nami dan menariknya. Hingga perempuan ini terduduk. Nami kebingungan melihat Yugi yang menggenggam ujung kaos yang di pakainya. Rupanya Yugi meminta Nami melepas kaos yang di pakainya.

__ADS_1


"Aku ingin kulit kita bersentuhan," pinta Yugi.


Nami tidak menolak. Sorot mata Yugi mulai berkabut. Mungkin sudah lama pria ini menahan diri untuk tidak menjamahnya. Akhirnya Nami membiarkan suaminya Melu*cuti kaosnya. Hingga keduanya polos tanpa sehelai kain yang menutupi.


Nami menutupi wajahnya. Ia panik karena ini pertama kalinya ia dan Yugi tampak polos. Dengan lembut pria ini merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang lagi. Nami masih memejamkan mata. Ini terlalu mendadak. Ia tidak mampu menatap Yugi dengan mata terbuka.


Tiba-tiba punggung Nami melenting dengan gerakan sen*sual tanpa sadar, saat Yugi kembali mengguncang inti gundukan miliknya. Apalagi sekarang kaos yang jadi penghalang itu tidak ada. Jadi Yugi sekarang menyentuh tubuh Nami tanpa adanya helaian kain yang menutupi.


Tangan Nami berusaha kuat menutup bibirnya agar tidak mengeluarkan desa*han. Yugi tahu itu. Dia melepaskan bekapan tangan Nami dari bibirnya.


"Tidak apa-apa, Nami. Jangan malu. Biarkan suaramu keluar dengan bebas," pinta Yugi memohon. Perlahan tangan Nami lepas dari bibirnya. "Buka matamu," pinta Yugi lagi.


"A-aku malu Yugi," ucap Nami jujur.


"A-aku tidak memakai apapun ... Aku ... Oh,Yugi!" Punggung Nami melenting lagi saat ia merasakan rasa dahsyat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sepertinya pria ini sudah menyentuh pusat inti bawahnya yang sensitif.


Nami membuka mata pelan-pelan. Yugi sudah mendekatkan wajahnya lagi.


"Aku akan melakukannya. Apa aku boleh?" tanya Yugi yang sudah berge*lora ingin menyatu dan me*lebur bersama. Itu terlihat dari tatapan pria ini yang mulai berkabut. Namun ia perlu ijin. Dia tidak ingin ini terjadi karena terpaksa. Nami akhirnya mengangguk setuju. "Terima kasih, Nami." Yugi mengecup kening Nami.


Penyatuan pun terlaksana. Ha*srat yang di kurung lama, kini mulai bangkit tanpa bisa di kendalikan. Yugi menggeram di atas Nami. Merasakan kenikmatan yang ia tunggu-tunggu. Bi*bir Nami yang tadinya menutup, kini terbuka.

__ADS_1


"Oh, Yugi ... Yugi ..." Sepertinya mereka sudah mendaki menuju kenikmatan yang tiada tara bersama-sama.


Yugi menjatuhkan tubuhnya di samping Nami. Keduanya sama-sama tak berpakaian. Nami meringkuk malu. Memunggungi tubuh suaminya. Yugi yang tahu itu, langsung memeluk tubuh Nami dari belakang. Mengecup punggung yang terbuka seraya mengucap, "Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Yugi mengecup punggung polos itu.


***


Suasana usai melebur tadi.


Penyatuan mereka masih menyisakan rasa malu yang besar untuk Nami. Hingga saat merasa pegangan lengan Yugi mengendor, ia langsung kabur ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rupanya ada rasa perih yang dia rasakan di bawah sana. Mungkin itu karena hasrat Yugi yang didesakkan padanya.


Nami terdiam dengan shower menyala.


Apa yang terjadi padaku? Pada kita? Melakukan itu? Oh tidak.


Nami menutup wajahnya karena malu jika ingat apa yang telah dia lakukan dengan Yugi. Apalagi rasa itu masih terekam di dalam kepala. Rasa aneh yang pertama kali ia rasakan. Bahkan sekarang ia merasa merinding saat ingat lagi. Rasa nikmat yang dia sendiri tidak paham.


Inikah yang namanya malam pertama? Meski di bawah guyuran shower, Nami merasa tubuhnya panas.


..._________...

__ADS_1



__ADS_2