Menikah Dengan Calon Suami Adikku

Menikah Dengan Calon Suami Adikku
Bab. 83 : Yugi mulai bergerak


__ADS_3

Sifa ikut duduk di kursi lainnya. Namun Reno segera menahan lengan Sifa dan membimbing perempuan ini untuk duduk di kursi yang berjarak agak jauh dari Yugi. Sepertinya Reno tidak ingin Sifa duduk berdekatan dengan Yugi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Reno melanjutkan pertanyaan Sifa yang tadi.


"Aku akan memperkarakan masalah ini ke ranah hukum. Dia tidak hanya melakukan penganiayaan, ini juga kekerasan verbal. Tidak hanya sekali, Vera juga melakukan ini berulang kali." Yugi emosional saat mengatakannya.


Reno mengangguk.


"Benar," kata Sifa setuju. Reno dan Yugi menoleh pada perempuan ini. "Kamu harus bisa memenjarakan mereka. Ibu dan anak itu sungguh keterlaluan. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal." Sifa mengatakannya dengan geram.


"Pasti," tegas Yugi.


"Jadi jika Nami tahu, dia tidak akan setuju?" selidik Reno.


"Ya," sahut Yugi.


"Itu pasti, Ren. Aku memang baru saja mengenal Nami, tapi aku tahu dia terlalu baik untuk bisa membalas perbuatan adik dan ibu angkatnya itu. Nami merasa tidak pantas membalas mereka karena bagaimana pun mamanya sudah merawatnya sejak kecil." Sifa mulai terlihat benar-benar seperti sahabat Nami.


"Nami memang seperti itu." Yugi tersenyum mengingat istrinya. Reno mengangguk mengerti. "Jadi kumpulkan bukti untuk menjerat Vera dan mamanya, Ren."

__ADS_1


"Tidak perlu banyak bukti, Yugi. Aku adalah saksi ketika Vera mendorong Nami. Kesaksian ku bisa membuatmu menuntutnya."


"Tidak semudah itu. Aku harus punya banyak bukti dan kesaksian ketika ia melakukan penganiayaan pada istriku," kata Yugi.


"Itu berarti aku harus mulai dari tempat istrimu bekerja?" tanya Reno.


"Ya. Vera pernah melakukan penganiayaan juga di sana." Yugi setuju. "Juga cari apapun yang bisa memberatkannya."


"Siap." Reno siap melaksanakan perintah.


***


Sementara itu di rumah, Vera terus saja gelisah.


"Pelan apa ... Kamu mendorongnya dengan kuat. Makanya Nami sampai terjatuh ke lantai." Mama malah menyalahkan Vera.


"Ma, itu hanya dorongan biasa."


"Tapi kan dia hamil, Ver. Tentu saja dorongan apa saja bisa membahayakan ibu hamil."

__ADS_1


"Mama ini gimana sih? Kok malah membela Nami," tegur Vera tidak setuju.


Mama sepertinya terkejut mendengar teguran putrinya. Tanpa sadar dia malah ada pada pihak anak angkatnya. "T-tidak. Mama bukan membela Nami." Perempuan ini mencari celah untuk mengelak.


"Iya. Seharusnya memang bukan membela dia," sungut Vera.


"Sudah, jangan terlalu memikirkan soal Nami. Sekarang kita sudah ada di rumah. Kamu bisa tenang." Mama mengibaskan tangannya. Rupanya Vera tetap kepikiran pada Nami yang sudah di dorong olehnya tadi.


Meskipun mama sudah menyuruhnya tenang, tetap saja Vera gelisah. Tangannya berkeringat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya mama yang melihat putrinya meringkuk di atas tempat tidur.


"Vera ... cemas. Vera ... takut, Ma," ujar Vera dengan setengah gemetar.


"Aduh, kamu ini." Mama naik ke atas ranjang dan memeluk putrinya. "Kenapa harus cemas?"


"Aku ... aku takut terjadi apa-apa pada Nami." Vera makin menekuk tubuhnya.


"Kenapa memikirkan itu terus?" gerutu mama.

__ADS_1


"Tentu saja aku memikirkan itu terus, Ma!" Suara Vera naik karena ketakutan. Mama menipiskan bibir mendengar Vera berteriak. "Kalau terjadi apa-apa pada kandungan Nami, aku bagaimana? Nasibku bagaimana?" tangan Vera mengguncang-guncangkan tubuh mamanya dengan panik.


...____...


__ADS_2