
Bola mata Yugi turun ke bibir Nami. Beberapa detik diam menatap disana. Lalu kembali naik ke mata perempuan ini. Menatap Nami yang menggerakkan bola matanya karena gugup.
"Lepaskan aku," kata Nami lirih. Yugi menundukkan kepala untuk mengecup punggung tangan Nami. Ini membuat bola mata Nami melebar.
"Sepertinya masih butuh waktu yang lama untuk membuka hati," kata Yugi melepas tangan Nami perlahan. Perempuan ini diam. Sepertinya Yugi sedang membicarakan dirinya. Hati Nami.
Tidak ada yang salah dengan pria ini. Dia tampan dan baik. Namun Nami belum tahu pasti bagaimana sebenarnya Yugi. Bisa di katakan, Nami baru mengenal pria ini. Setelah menjadi istrinya. Dia masih perlu tahu lebih banyak lagi tentang Yugi.
***
Ada orang lain yang tidak asing baginya di ruang makan. Itu Rico. Nami yang baru saja selesai membantu bibi di dapur, melihat dengan sorot mata tajam dan juga heran ke arah pria itu.
Nami pikir dia tidak akan bertemu lagi dengan Rico di rumah ini. Dia pikir pria ini lenyap entah kemana. Namun sungguh mengejutkan bahwa dia menemukan Rico di meja makan pagi ini.
"Kamu ada di sini? Kamu menginap?” tegur Nami seraya mengernyitkan keningnya. Ini sangat aneh.
Rico tersenyum tipis.
Nami melongok ke belakang tubuh pria ini. Ke arah pintu dapur untuk melihat ada siapa di sana. Namun tidak ada siapapun yang mengikuti. "Apa tujuanmu datang ke rumah ini?" tanya Nami kembali melihat ke arah Rico.
"Kamu masih ingin tahu tentangku?" tanya Rico yang begitu menjengkelkan di telinga Nami.
"Jangan terlalu percaya diri," tepis Nami.
"Ya, kamu tidak mungkin ingin tahu tentangku karena kamu sudah menikah." Rico menyadari rasa benci Nami. "Aku hanya sedang bertamu.”
"Bertamu?”
"Ya," sahut Rico.
"Sejak kapan kamu bertamu ke rumah keluargaku? Setahuku aku tidak mengenalkan mereka kepadamu," tanya Nami mulai menangkap sesuatu yang busuk.
"Aku enggak tahu kalau Mbak enggak bisa menjaga diri seperti ini," tegur sebuah suara di ambang pintu membuat Nami menoleh cepat. Bahkan dengan tertegun. Rico ikut menoleh ke belakang.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Nami merasa heran. Ia ingin menyangkal ketidakberesan ini.
"Ya barusan ... Mbak Nami sama Mas Rico." Vera mendekat. Rico melirik dengan gelisah.
"Apa maksud mu, Vera?" tanya Nami ingin tahu lebih jelas.
__ADS_1
"Mungkin kakak belum tahu. Jadi sekalian aku akan kenalkan. Dia kekasihku," kata Vera bangga. Dia memeluk lengan Rico. Nami melirik ke arah lengan yang di peluk oleh Vera.
"Kekasihmu?" tanya Nami terkejut. Bola matanya langsung menatap Rico terkejut.
"Eh, itu ..." Rico kebingungan menjelaskan ini.
"Ya. Kita akan menikah sebentar lagi," imbuh Vera dengan senyum penuh kebanggaan. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Rico yang menggaruk kepalanya.
Nami mencerna lagi situasi ini.
"Jadi bayi di dalam perut kamu itu ... benih pria ini?" tunjuk Nami dengan lambat. Sorot matanya pedih dan marah.
"Benar," sahut Vera tegas.
"Jadi kalian melakukannya di belakangku? Kamu melakukannya saat aku masih denganmu? Kamu mengkhianati aku dan berhubungan dengannya?" tanya Nami bertubi-tubi dengan rasa tidak percaya. Amarah mulai menjalari seluruh nadinya.
"Hei, Mba Nami. Jangan sembarangan dong. Apanya yang mengkhianati? Kapan Mbak Nami dan Mas Rico pacaran?" sembur Vera sengit. Di hadapan keluarganya, Nami memang tidak pernah pacaran dengan Rico. Namun Rico sendiri tahu, bahwa dia dan Nami punya hubungan asmara.
Nami menatap adiknya dengan tatapan penuh amarah.
"Aku enggak setuju dong kalau Mbak Nami menuduh Mas Rico itu berkhianat," kata Vera menjengkelkan.
"Ada apa ini? Pagi-pagi kok rame?" tanya mama yang muncul dari depan.
“Tidak ada apa-apa, Ma.” Rico ingin usai. Ponselnya bergetar. Pria ini melihat ke layar ponsel. “Aku harus menerima telepon. Ini penting,” kata Rico beranjak dari kursi.
“Ya.” Vera memperhatikan punggung pria itu yang makin menghilang di balik pintu. Kemudian Vera kembali melihat ke arah Nami. “Ini Ma. Mbak Nami.” Vera justru mengadu.
“Ada apa Nami?” Mama melihat ke Nami. Bertanya perihal keributan yang sekilas di dengar beliau. Nami tidak segera menjawab. Lagi-lagi ia merasa tatapan mama padanya aneh. Mama seakan ingin menyalahkan Nami meski belum tahu ada apa.
“Tidak ada,” jawab Nami tidak ingin membahas.
“Mbak Nami mendekati Mas Rico. Jadi Vera kasih tahu kalau Mas Rico itu kekasih Vera,” kata Vera membuat Nami mendongak cepat. Lalu menatap adiknya itu dengan tajam.
“Hhh ... Nami. Mama memang belum kasih tahu kamu. Sebenarnya mereka berdua akan menikah. Jadi mama harap kamu tidak mengganggu mereka.”
__ADS_1
Menikah? Tentu saja. Dengan adanya bayi itu di dalam perut Vera, mereka harus menikah.
“Mengganggu? Apa mama tidak salah bilang ke Nami kalau jangan mengganggu?”
“Kamu ini kok membantah. Ayo panggil suami kamu ke sini. Sekalian sarapan. Pagi-pagi kok sudah ribut. Hhh ... Mama heran.” Beliau menghela napas seakan Nami beban keluarga.
“Ya,” sahut Nami datar. Sekarang ia tidak ingin berdebat. Tidak ingin mengatakan apa-apa. Karena semakin ia banyak bicara, mama akan makin menyakitinya.
...***...
"Ya. Besok siang kita bertemu di tempat itu. Tidak apa-apa." Setelah berbincang dengan orang penting lewat telepon, Rico yang tadinya ada di ruang tamu ingin kembali ke ruang makan. Ponselnya berbunyi lagi. Ternyata sebuah pesan.
Duk! Tidak sengaja Rico yang menunduk karena melihat ke layar gawai pipih di tangannya, menabrak Yugi yang baru saja turun.
“Oh, maaf,” kata Rico merasa salah.
“Enggak apa-apa.” Yugi mengangguk mengerti.
“Kamu siapa? Setahu ku Vera enggak punya saudara laki-laki. Dia hanya punya satu saudara perempuan saja.” Sepertinya tadi malam, mereka belum bertemu sama sekali. Bahkan tidak sempat bertegur sapa. Karena setelah bertemu dengan Nami di dapur, mama Vera menyuruhnya kembali ke kamar.
“Ya. Mbak Nami mereka memang tidak punya saudara laki-laki.”
“Apa kamu anggota keluarga dari mama Vera? Sepupunya?” tanya Rico.
“Mmm ... ya,” sahut Yugi mengiyakan saja. karena kenyataannya dia memang bukan anggota keluarga mama Nami. Dia menantu.
“Kenalin, aku Rico. Calon suami Vera.” Rico yang ramah mengenalkan diri.
“Ah, kekasih Vera ya ...” Yugi menganggukkan kepala.
“Benar.”
“Ternyata di sini. Darimana tadi? Mama mencari. Beliau menyuruhku mengajakmu sarapan,” kata Nami yang muncul mencari pria itu tanpa basa-basi. Keduanya menoleh pada perempuan ini.
“Oh, baiklah,” sahut Rico tanpa menyadari bahwa Nami sedang berbicara dengan pria di depannya.
“Aku tidak mengajakmu bicara, Rico.” tegas Nami seraya mendekat. Rico mengerjap. Kemudian tanpa komando, wanita ini memeluk lengan Yugi. “Aku sedang bicara dengan suamiku,” kata Nami. “Iya, kan sayang?” tanya Nami dengan sedikit manja.
__ADS_1
...______...