Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Mimpi tapi nyata


__ADS_3

Karena jalanan macet, Dinda dan Anton pun pulang terlambat. Ketika mereka sampai di rumah, sang nenek sudah tertidur. Dinda memilih untuk tidak makan malam, karena selama di mobil ia ngemil dan minum susu, sehingga membuatnya terasa kenyang. Sedangkan Anton, setelah mandi ia makan malam sendiri dengan di temani simbok.


Dinda yang baru saja mandi keramas, dengan melilitkan handuk di badannya dan di rambutnya. Ia langsung ambruk di ranjang, matanya tak bisa di ajak kompromi, hingga ia lupa kalau saat ini dia sedang di kamar sang kakak.


Ketika Anton masuk ke dalam kamar, dia mendapati Dinda sudah tertidur pulas dengan posisi meringkuk dan handuk masih terlilit di badannya. Anton pun tiba-tiba merasa gugup, karena melihat Dinda yang hampir memperlihatkan daerah sensitifnya.


"Din, bangun! Pakai baju dulu." Anton mencoba membangunkan Dinda.


"Ih.... ngantuk ah!" Rengek Dinda yang tak mau bangun.


Anton mematikan lampu kamar dan AC, karena dia takut Dinda kedinginan. Lalu ia menyelimuti tubuh Dinda dan ia merebahkan badannya di sampingnya. Aliran darahnya mulai memanas, konsentrasinya pudar, Ia mencoba memejamkan matanya tapi bayangan Dinda muncul di benaknya.


"Kenapa panas banget!" Protes Dinda dengan nada khas mengantuk.


Tanpa melihat ke arah Dinda, Anton pun mengambil remote AC yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, lalu ia menyalakan AC nya kembali. Karena dia sendiri merasa kepanasan, menahan kejolak aliran darah yang memanas mengalir ke setiap sudut tubuhnya.


Di saat ia membalikkan badannya, ia melihat Dinda sudah melepas handuk yang melilit tubuh dan rambutnya, sehingga samar-samar ia bisa melihat tubuh Dinda yang tanpa mengenakan selai benangpun di badannya.


Kali ini Anton benar-benar tidak bisa menahannya, ia menyingkap rambut panjang Dinda yang sebagian menutupi wajahnya. Anton mendekatkan tubuhnya pada Dinda, ia terkejut ketika Dinda berbalik arah. Sehingga posisi mereka saling berhadapan, wajah Dinda hampir menyentuh wajah Anton.


"Dinda, kenapa kamu imut sekali. Kamu istri sah ku kan, jika aku melakukan sesuatu kepadamu, tak ada dosa bagi kita." Batin Anton memandang wajah Dinda lekat-lekat.


Mata Anton tak bisa berkedip memandangi wajah Dinda. Bibir merahnya menggoda ingin di mainkan, bulu matanya lentik, menambah daya tarik tersendiri. Perlahan Anton mendekatkan bibirnya ke arah bibir Dinda, ia mengecup ringan dan ia ulangi sampai berkali-kali.


Bibir Anton mulai berani mencium bibir Dinda dengan mesra, sesekali tangannya meraih benda kembar milik Dinda yang kenyal. Ia mulai tidak bisa menguasai diri dan mengganti posisinya menindih Dinda yang masih memejamkan matanya. Anton membuka kaos dan boxer yang ia pakai, menempelkan dada bidangnya ke dada Dinda. Bibirnya mulai beraksi lagi menciumi bibir Dinda hingga lehernya.


Tak ketinggalan, Anton pun melahap benda kenyal yang terletak di dada Dinda. Seperti tidak perduli jika sewaktu-waktu Dinda terbangun, Anton turun ke bawah melihat benda sensitive yang di tumbuhi bulu-bulu halus. Sepertinya Dinda merespon apa yang di lakukan Anton, tapi matanya masih tertutup.

__ADS_1


Karena itu hal pertama bagi Anton, ia pun tidak bisa mengendalikan dirinya dan menumpahkan cairannya di perut Dinda. Anton yang masih lemas pun segera mengambil tisu basah dan membersihkan cairannya di perut Dinda.


"Kenapa aku menjadi pecundang seperti ini!" Batinnya meruntuki dirinya sendiri.


Merasa malu dengan apa yang ia lakukan terhadap Dinda, Anton pun pergi ke kamar mandi untuk mandi besar. Setelah mandi, ia keluar dari kamarnya dan tidur di kamar Dinda. Dia tidak mau menjadi pecundang terhadap sang adik. Karena mereka berdua sudah bersepakat untuk tidak melakukan hubungan suami istri.


*****


Suara Adzan berkumandang, Avril terbangun dari tidurnya yang tanpa memakai baju. Ia teringat kalau dia belum sempat memakai baju, ketika ia selesai mandi. Dia menoleh ke arah kanan dan tidak melihat keberadaan sang kakak. Lalu Dinda turun dari ranjang dan melilitkan handuk di tubuhnya. Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.


Ketika ia memasuki kamarnya, di lihatnya sang kakak sedang tidur di atas ranjangnya. Melihat sang kakak, tiba-tiba Dinda teringat mimpinya yang sedang berciuman dengan sang kakak.


"Wah... kenapa mimpiku mesum begini? Mana sama kakak lagi, kalau sama Rizal mah gak apa-apa, lah ini sama kakak sendiri, ih... mesum banget nih otak!" Batin Dinda mengingat mimpinya.


Sebenarnya itu nyata, bukanlah sebuah mimpi. Hanya saja semalam Dinda tidur terlalu lelap, sehingga ia hanya merasakan seseorang menciumnya dan meraba tubuhnya. Tetapi mata Dinda sangat berat untuk di buka, samar-samar ia melihat sang kakak. Jadi Dinda menganggap itu hanyalah mimpi belaka.


"Kak! Cepetan bangun, sudah puji-pujian tuh!" Kata Dinda membangunkan sang kakak.


"Oh... cepet banget sudah Subuh!" Sahut Anton yang langsung terbangun dari tidurnya.


Anton langsung pergi ke Masjid, sementara Dinda Sholat di rumah. Setelah selesai Sholat, Dinda turun ke bawah untuk melihat sang nenek, karena semalam ia tidak melihatnya, karena sang nenek sudah tidur. Ketika Dinda masuk ke kamar sang nenek, di lihatnya Simbok sudah duduk di tepi ranjang menyuapi sarapan untuk nenek.


"Nenek......" Sapa Dinda masuk ke kamar.


"Oh sayang, semalam pulang jam berapa?" Tanya sang nenek.


"Sekitar jam sembilan nek, soalnya ada kecelakaan, jadi hampir macet total." Jawab Dinda menjelaskan.

__ADS_1


Di saat Dinda dan sang nenek mengobrol di kamar, tiba-tiba Anton masuk juga ke kamar dan menyapa sang nenek. Anton memeluk sang nenek sambil meminta maaf karena semalam mereka pulang terlambat.


Seperti itulah kedekatan mereka, Anton dan Dinda sangat menyayangi sang nenek. Di masa tua sang nenek, Anton ingin sekali membahagiakannya dan memberikan apapun yang nenek inginkan.


"Nenek, saat ini nenek ingin apa? Pasti Anton akan kasih!" Kata Anton menawari.


"Iya Nek! Nenek bilang saja ingin apa, nanti pasti kita turutin! Apapun itu!" Sahut Dinda dengan yakin.


Sang nenek tersenyum mendengar cucu-cucunya yang sangat perduli dengannya. Apalagi Dinda, yang biasanya membangkang, tapi akhir- akhir ini dia sangat penurut, hal itu membuat sang nenek bahagia. Sebenarnya tidak banyak yang di inginkan sang nenek, hanya satu hal saja.


"Beneran kalian akan kasih apapun yang nenek minta?" Tanya sang nenek memastikan.


"Pasti Nek! Nenek katakan saja!" Jawab Dinda tersenyum.


"Nenek hanya minta Buyut dari kalian!" Nenek mengatakan keinginannya.


Deg!


Deg!


Seketika Anton dan Dinda terdiam ketika mendengar sang nenek mengutarakan keinginannya. Tidak mungkin mereka memiliki anak, sedangkan mereka sudah bersepakat untuk tidak melakukan hal itu. Seperti pecundang jika Anton mau melakukan hal itu dengan Dinda.


Bak di sambar petir, Dinda masih terkejut dengan perkataan sang nenek. Dia belum menikmati masa mudanya, belum pernah berpacaran, bahkan belum sempat menyatakan cintanya terhadap Rizal. Jika ia dan Anton melakukan hubungan suami istri dan memiliki anak, itu artinya Dinda sudah kehilangan harapannya untuk menikah dengan orang yang ia cintai.


Itulah harapan terakhir Dinda, walaupun ia tidak bisa menikmati masa mudanya, setidaknya setelah cerai dengan si kakak, ia bisa menikah dengan orang yang ia cintai. Tapi sepertinya harapan itu hanya omong kosong belaka.


Dinda berdiri dari duduknya, keluar dari kamar sang nenek. Sedangkan Anton masih di dalam kamar, menjelaskan sesuatu kepada sang nenek. Seperti orang linglung, Dinda berjalan menaiki anak tangga. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, apakah harus mengorbankan harapannya sendiri demi sang nenek? Atau tidak memperdulikan keinginan sang nenek dan membiarkannya sakit-sakitan di masa tuanya?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2