
Seminggu sudah Dinda berada di ruang ICU. Anton masih setia menunggunya dan selalu mendoakannya, agar Dinda segera bangun dari tidur panjangnya. Hasil CT scan mengatakan jika ada kerusakan pada otak Dinda, sehingga membuat Dinda koma. Hal itu menambah kesedihannya Anton yang tak tega melihat sang istri terkulai tak berdaya.
"Bro! Aku mau berbicara sesuatu tentang perusahaan," kata Dimas yang mendapati ketidak beresan pada perusahaannya Anton.
"Memangnya kenapa Bro?" tanya Anton sambil mengerutkan dahinya.
Dimas pun mengajak Anton untuk duduk di kursi tunggu. Sambil memperlihatkan berkas yang berada di tangannya, Dimas mulai menjelaskan letak permasalahannya dengan perusahaan. Dimas memberitahu jika perusahaannya Anton memiliki masalah dari bulan lalu, sepertinya ada orang dalam yang membuat perusahaan Anton amburadul.
Tetapi semua itu belum pasti, Dimas hanya menyimpulkan dari masalah yang terjadi. Anton memberi semua tanggungjawab perusahaannya pada Dimas, karena dia yakin kalau Dimas bisa mengatasi masalah pada perusahaannya.
"Kalau begitu aku pamit dulu Bro! Aku selidiki dulu apa penyebab masalah ini, nanti aku kabari kamu. Oh ya, ini sarapannya! Calon istriku yang memasak!" kata Dimas sambil menyodorkan kotak bekal.
"Terima kasih Bro! Aku percayakan semuanya padamu," sahut Anton pasrah.
Dengan segera, Dimas pergi dari rumah sakit menuju ke kantor. Pikirannya tak berhenti memikirkan masalah perusahaan. Dia yakin jika masalah perusahaan ada sangkut-pautnya dengan jatuhnya Dinda dari tangga.
Tetapi, kali ini Dimas tidak mau buru-buru menyimpulkan. Dia akan menyelidikinya terlebih dahulu dan memastikan permasalahan perusahaan dikarenakan oleh seseorang yang sengaja membuat perusahaan berantakan.
Sesampainya ia di kantor, Dimas langsung memanggil Loren dari panggilan telepon untuk masuk keruangannya dan memintanya untuk membawa laporan yang sudah diperbaharui.
Ceklek!
Loren berjalan masuk kedalam ruangan.
"Dim, aku menemukan kejanggalan pada laporan bulan lalu dan bulan ini!" kata Loren memberitahu.
"Duduk dulu, baru jelaskan!" suruh Dimas dengan serius.
Loren dengan detail menjelaskan laporan yang ia bawa dan memberitahu hasil setiap kejanggalan pada laporan tersebut. Mereka berdua, Dimas dan Loren yakin jika ada orang dalam yang ingin menghancurkan perusahaan. Entah siapa, mereka berdua juga tidak tahu. Lalu mereka berdua bersepakat untuk menyelidikinya.
__ADS_1
Diwaktu yang sama, ketua team masuk kedalam ruangan. Dia berjalan menghampiri mereka berdua. Tanpa berkata apa-apa, ketua team menyodorkan sebuah amplop warna putih di meja yang bertuliskan, 'surat pengunduran diri". Seketika, Dimas dan Loren menatap wajah ketua team yang bernama Lisa.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengungkapkan diri? Apakah gajinya kurang atau ada sesuatu yang tidak membuatmu nyaman?" tanya Dimas ingin tahu.
"Suami menyuruhku berhenti bekerja dan fokus merawat anak," jawab Lisa yang menunjukkan ekspresi tidak seperti biasanya.
Dimas dan Loren menaruh curiga kepada Lisa, karena tiba-tiba ia mengundurkan diri ketika perusahaan sedang mendapat masalah. Padahal baru dua bulan yang lalu, gajinya dinaikkan oleh Anton sepuluh persen, karena Lisa bekerja dengan baik.
Tidak ada larangan untuk mengundurkan diri, tetapi Dimas meminta Lisa untuk menunggu penggantinya, kurang lebih dua Minggu. Untung saja Lisa menyetujui permintaan Dimas. Ia pun akan menunggu dua Minggu untuk keluar dari perusahaannya Anton.
Lalu Lisa pergi keluar dari ruangan. Dimas pun menyuruh Loren untuk tidak memberitahu siapapun tentang masalah perusahaan.
"Kamu rahasiakan masalah perusahaan dari siapapun, kita mulai selidiki letak permasalahan dari perusahaan." pinta Dimas dengan serius.
"Okay, tapi bolehkan aku ajak Rizal, karena dia pandai dalam hal ini." sahut Loren yang ingin Rizal ikut menyelidiki.
"Terserah kamu, tapi jangan sampai masalah ini diketahui oleh ketua team!" pesan Dimas.
"Bagaimana laporan bulan kemarin dan bulan ini?" tanya ketua team penasaran.
"Tidak ada masalah, naik seperti bulan-bulan lalu. Bahkan ada peningkatan dalan penjualan." jawab Loren dengan santai.
Mendapat jawaban dari Loren, team ketua pun langsung pergi ke tempat kerjanya. Sedangkan Loren semakin curiga, kalau ada sesuatu yang terjadi dengan ketua team.
*****
Di rumah sakit, di waktu jam jenguk. Anton duduk di sebelah Dinda sambil mengatakan sesuatu di dekat telinga Dinda. Dengan harapan Dinda mendengar kata-katanya. Setiap hari Anton selalu membisikan kata-kata di telinga Dinda dan dia juga melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tujuan agar Dinda merespon dan mendengar suaranya.
"Dinda, kakak disini sedang menunggumu bangun. Sudah lebih dari seminggu kamu tidur, kakak sudah rindu dengan canda tawamu. Bangunlah, kita akan pergi kemanapun yang kamu inginkan," kata Anton sambil memegang tangan Dinda.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak merindukan kakak?" imbuh Anton bertanya.
Air matanya tak berhenti membasahi pipinya
Ketika Anton mengecup punggung tangan Dinda, tiba-tiba jemarinya Dinda bergerak dan Anton yang terkejut segera memanggil suster penjaga dan memberitahunya, bahwa jari Dinda bergerak.
"Sus, tadi tangannya bergerak!" Anton memberitahu suster.
"Kami akan periksa kondisi pasien terlebih dahulu ya Pak, jadi kami mohon Bapak untuk menunggu diluar." sahut sang suster dan menyuruh Anton untuk menunggu diluar.
Sesaat setelah Anton keluar dari ruangan, seorang dokter masuk untuk memeriksa Dinda. Ada perasaan senang di hati Anton, karena Dinda sudah bergerak. Itu artinya Dinda akan segera bangun dari tidur panjangnya. Anton tak henti-hentinya memanjatkan doa, agar Dinda cepat sadar.
Dengan gelisah Anton mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Dari balik kaca, Anton bisa melihat jika sang dokter masih belum selesai memeriksa.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Anton yang melihat dokter baru saja keluar dari ruangan.
"Keadaan istri Anda membaik!" jawab sang dokter.
Dokter menjelaskan tentang kondisi Dinda yang membaik. Karena kerusakan otaknya tidak begitu parah dan akan sembuh dengan seiringnya waktu. Dokter juga berpesan kepada Anton, agar tidak terlalu khawatir. Karena dari pihak rumah sakit sudah memberikan obat-obatan yang terbaik, untuk membatu penyembuhan selaput otaknya Dinda yang membengkak.
Setidaknya Anton bisa bernapas lega mendengar perkembangan Dinda yang terus membaik. Ia berharap Dinda segera sadar dan cepat sembuh dari sakitnya. Setelah selesai menjelaskan, dokter pun berpamitan untuk memeriksa pasien lainnya.
"Den, bagaimana keadaan Non Dinda?" tanya Inah dengan tiba-tiba.
"Ah, Mbak Inah ngagetin saja!" Anton tampak terkejut karena tiba-tiba Inah datang dari arah belakang.
"Alhamdulillah, tangan Dinda sudah mulai bergerak." jawab Anton tersenyum sambil memandangi Dinda dari balik kaca.
Inah datang kerumah sakit mengantarkan makan malam untuk Anton dan sekalian membawakan pakaian ganti untuknya. Karena sudah dua hari Inah tidak datang menjenguk.
__ADS_1
Bersambung....