Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Hasil Sidang


__ADS_3

Pagi itu Anton mengajak Dinda ikut ke pengadilan. Dinda yang melihat Lisa pun seketika teringat, jika sebelum jatuh, Lisa merekamnya dan mendorongnya hingga jatuh. Saat itu Dinda hanya diam, mulutnya ingin berteriak memberitahu semua orang jika Lisa mendorongnya, tetapi mulutnya terasa berat untuk dibuka.


Kepalanya mulai terasa sakit. Ketika persidangan berlangsung, Dinda memegangi kepalanya karena benar-benar sakit. Anton yang menyadarinya pun menyuruh Loren untuk membawa Dinda keluar dari ruang persidangan. Karena dia pikir, Dinda terganggu dengan persidangan.


"Sayang, kamu tunggu di luar sama Loren ya!" Anton tersenyum melihat Dinda.


"Iya, kepalaku sakit!" sahut Dinda yang masih memegangi kepalanya.


Loren pun menuntun Dinda keluar dari ruangan. Mereka berdua menunggu di luar, duduk di kursi tunggu. Berangsur, kepala Dinda yang sakit pun tak ia rasa. Karena Loren mengajaknya mengobrol tentangnya dan juga hal-hal yang menyenangkan.


"Aku dengar kamu sama Kak Anton berpacaran?" tanya Dinda mengerutkan dahinya.


"Iya itu dulu, sebelum kalian menikah. Aku pikir Anton sangat mencintaiku, tetapi dia lebih mencintaimu dan memilihmu untuk mengisi hatinya!' jawab Loren.


"Aku dan Anton sudah merencanakan sebuah pernikahan. Walaupun dia sedikit cuek, tetapi aku bisa merasakan bahwa dia sangat mencintaiku. Tetapi semua berubah ketika kalian menikah. Telanjang pun, dia tidak tertarik kepadaku. Hatiku sakit, sakit sekali. Ingin sekali aku mengambilnya dari mu, tapi aku sadar, cintanya sudah tak ada sisa untukku. Karena cinta tak harus memiliki, aku anggap Anton bukan jodohku dan Allah sedang mempersiapkan jodoh untukku," imbuh Loren mengungkapkan uneg-unegnya.


Seketika Dinda langsung memeluk Loren. Dia merasa bersalah karena dirinya, Loren dan Anton berpisah. Walaupun dia tidak ingat sama sekali tentang pernikahannya dengan Anton, tetapi dia bisa merasakan bagaimana rasanya disakiti oleh pria yang ia cintai.


"Maafkan aku ya Kak Loren, aku sudah merebut Kak Anton darimu," Dinda merasa bersalah.


"Kamu gak salah kok, begitupun dengan Anton, dia juga gak bersalah. Kalian di jodohkan dan aku tidak bisa mengalahkan Anton jika dia jatuh hati kepadamu, karena kamu memang istrinya," sahut Loren melepaskan pelukannya.


Loren mengusap rambut Dinda yang sedikit berantakan, dia merasa bangga dengan dirinya sendiri yang bisa mengontrol perasaannya untuk tidak membenci Dinda. Memang ia sempat membencinya, tapi dia menyadari jika membenci seseorang hanya akan melukai dirinya sendiri.


Tiba-tiba Anton marah-marah keluar dari ruang sidang. Dinda maupun Loren pun kebingungan, penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Lalu Loren menghentikan Rizal yang saat itu juga keluar dari ruang sidang.


"Anton kenapa Zal?" tanya Loren penasaran.


"Lisa hanya dijatuhi hukuman 3bulan penjara. Itu gak adil, makanya Anton marah-marah.

__ADS_1


Lalu Loren mengajak Dinda untuk mengejar Anton yang sudah keluar dari gedung pengadilan. Karena Amarahnya, Anton tidak memperdulikan keberadaan Dinda. Sampai diparkiran pun, Anton masih marah-marah tak terkendali. Dinda yang melihatnya pun ketakutan dan hanya bisa diam.


"Kita kemana Bro?" tanya Dimas.


"Antar aku pulang!" jawab Anton dengan nada keras.


Sementara Loren dan Rizal balik ke kantor. Dinda, Anton dan Dimas berada didalam mobil menuju kerumah. Selama diperjalanan, Anton marah-marah dan mengucapkan kata-kata kasar untuk meluapkan amarahnya. Bahkan dia tak memperdulikan Dinda yang saat itu duduk di jok belakang.


Sesampainya mereka di rumah, Inah pun menjadi sasaran amarahnya Anton karena telat membukakan pintu. Inah pun merasa takut, karena baru pertama kali Inah dimarahi Anton. Lalu Anton naik ke atas dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.


"Dinda, Inah, aku balik ke kantor dulu, karena ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Kalian jangan khawatir, Anton kalau marah memang begitu, nanti kalau dia lelah juga diam sendiri," kata Dimas berpamitan.


"Iya Mas, hati-hati dijalan!" sahut Inah.


Dinda dan Inah mendengar benda pecah, Dinda pun langsung naik keatas. Dibukanya pintu dan dilihatnya Anton sedang marah-marah tak terkendali. Dinda yang melihat itu pun menjadi takut, tetapi dia memberanikan diri untuk menghampiri Anton yang saat itu duduk dilantai.


Dinda meraih pipinya Anton dengan kedua telapak tangannya, lalu dia mencium bibirnya agar Anton kembali tenang. Dan benar saja, beberapa detik Dinda menciumnya, rasa amarahnya Anton pun mereda. Anton membalas ciumannya Dinda dengan lembut penuh kehangatan.


"Maafkan Kakak, Kakak sangat kecewa Din!" sahut Anton yang langsung memeluk Dinda dengan erat.


Mereka berdua berpelukan dengan posisi Anton yang masih duduk dilantai. Saat itu Anton benar-benar kecewa atas keputusan hakim yang tidak sesuai harapannya. Bagaimana tidak kecewa, Lisa sudah merugikan perusahaannya dan membocorkan rahasia perusahaan, hanya dihukum 3 bulan kurungan penjara.


Sebisanya, Dinda menghibur Anton agar tidak marah lagi. Dia mempererat pelukannya, sesekali Dinda mencium leher Anton sambil memberi candaan. Hal itu membuat Anton tersenyum geli.


"Sudah, Kakak gak boleh marah lagi! Kalau Kakak marah-marah lagi, aku mau pergi saja!" ancam Dinda sambil memandang Anton.


"Iya maafin aku sudah membuatmu ketakutan, aku sudah gak marah lagi kok!" sahut Anton mencolek hidung Dinda.


Anton pun berdiri dan menggendong Dinda seperti anak kecil. Lalu Anton menidurkan Dinda di atas ranjang. Mereka berdua saling bercanda dan sesekali Dinda menggodanya. Mungkin karena kecapekan dan suasana hatinya sedang tidak bagus, Anton memilih untuk rebahan.

__ADS_1


Melihat Anton tak menanggapi godaannya, Dinda pun tengkurap di atas tubuh Anton. Dia memandangi wajah Anton yang saat itu sedang memejamkan matanya. Wajah yang hampir sempurna tanpa noda, hidung mancung dan bibir merah merona. Dinda pun tersenyum, menyadari jika suaminya sangat tampan.


"Wajah Kakak seperti aktor yang biasa aku tonton di drama Korea!" Tutur Dinda sambil meraba hidung Anton.


"Tapi kamu tidak pernah membuatku spesial seperti di drama Korea," sahut Anton masih dengan matanya yang terpejam.


"Mulai saat ini aku akan membuat Kakak orang yang paling spesial!" kata Dinda mencium ringan bibir Anton.


Mendapat ciuman dari Dinda, Anton pun merubah posisinya dengan menindih tubuh Dinda. Dia membalas ciumannya dengan agresif. Dinda melingkarkan tangannya di leher Anton, agar ciuman mereka tak segera berakhir.


Tok Tok Tok


Disaat mereka berdua senang menikmati ciuman mereka, seseorang mengetuk pintu. Terpaksa mereka menyudahi aktivitasnya. Dinda turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.


"Maaf Non, makan siangnya sudah siap!" kata Inah.


"Iya Mbak, nanti kita turun," sahut Dinda tersenyum.


"Ya udah, aku turun dulu ya Non!" pamit Inah.


Baru saja Dinda menutup pintu, tiba-tiba Anton memeluknya dari belakang. Ia mencium leher Dinda hingga membuatnya kegelian. Anton membisikan kata-kata, bahwa dirinya sangat mencintai Dinda. Lalu Anton mengajak Dinda untuk turun makan siang.


Mereka berdua pun keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan bersamaan. Inah yang melihat Anton yang tidak marah lagi, membuatnya lega.


"Bertahun-tahun aku disini, baru hari ini melihat Den Anton marah-marah kaya tadi!" ujar Inah sambil tersenyum.


"Maaf Mbak Inah, tadi emosi. Untung ada Dinda yang memadamkan api amarahku!" sahut Anton sambil mencium pipinya Dinda.


"Nah gitu dong akur, dilihatnya kan enak!" kata Inah dengan gemas.

__ADS_1


Mereka pun memakan makan siang mereka sambil mengobrol tentang hasil persidangan yang hanya menghukum Lisa selama tiga bulan. Simbok yang tak tahu apa-apa pun ikut kesal atas hasil keputusan hakim.


Bersambung...


__ADS_2