Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Jalani Hidup


__ADS_3

Pagi subuh Inah terbangun, ia membuka matanya yang terasa berat. Masih mengantuk, tetapi tetap bangun karena ia harus mengerjakan kewajibannya sebagai seorang Muslimah. Lalu ia membangunkan Dinda yang masih tidur pulas di atas ranjang.


"Non, ayo bangun! Sudah selesai Adzan." Inah membangunkan Dinda.


"Iya Mbak!" Sahut Dinda dengan malas.


Walaupun masih mengantuk, Dinda memaksakan dirinya untuk bangun. Kemudian dia dan Inah pergi keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Mereka berdua Sholat bareng.


Setelah Sholat, hati Dinda merasa tenang. Mereka berdua menyempatkan diri untuk membaca surah Yasin bersama. Kemudian, Inah mengambil ponselnya dan di lihatnya 32 kali panggilan tak terjawab dari Anton. Ia pun terkejut dan segera memberitahu Dinda tentang hal itu.


"Non, Den Anton semalam menelpon ku berkali-kali sampai 32kali. Mungkin dia khawatir dengan Non Dinda." Kata Inah memberitahu.


"Biarin saja Mbak, blokir nomernya atau Mbak Inah ganti nomer saja. Nanti aku beliin ok!" Sahut Dinda.


"Gak usah Non, tak blokir saja!" Ujar Inah.


Karena di dalam kulkas tidak ada apa-apa, ingin sarapan pun tidak ada yang di makan. Bahkan mau masak juga belum ada perabotan. Terpaksa Dinda menelpon Rizal untuk memberitahunya rumah makan terdekat.


Tetapi tak lama kemudian, Rizal datang dan membawa sarapan untuk Dinda dan Inah. Yang membuat Dinda terharu, Rizal datang tidak hanya membawakannya sarapan, tetapi juga susu khusus untuk ibu hamil dan vitamin. Hal itu tak pernah terpikirkan oleh Dinda untuk mengonsumsi susu atau vitamin.


"Izal, Kenapa kamu bawa susu segala, ada vitamin juga." Kata Dinda sambil membaca komposisi susu dan vitamin tersebut.


"Kebetulan rumahku kan dekat minimarket yang buka 24jam, aku mampir beli ini. Sengaja aku beli yang ukuran 400g, kamu coba dulu susunya, kalau gak cocok kamu bilang ke aku, nanti aku cari merek susu yang lain." Ujar Rizal sembari menyiapkan sarapan untuk Dinda.


Bersyukurnya Dinda memiliki kekasih seperti Rizal. Perhatian dan juga perduli terhadapnya, hal itu membuat Dinda semakin mencintai Rizal. Terlebih, Rizal mau menerima Dinda apa adanya. Jika di pikir-pikir, laki-laki mana yang mau menerima seorang gadis yang sudah hamil. Apalagi usia Rizal masih belasan tahun, dia bisa mencari gadis yang masih belum menikah.


Entah apa yang membuat Rizal bisa sangat mencintai Dinda, hingga ia menutup hati dan matanya untuk gadis lain. Jika karena kecantikan Dinda, di luar sana masih banyak gadis yang lebih cantik dari Dinda. Dengan wajah tampannya, Rizal tidak akan kesulitan mencari gadis cantik. Toh pada kenyataannya, banyak gadis-gadis cantik dan juga kaya mengejarnya, tetapi pilihannya tetap pada Dinda.

__ADS_1


"Nanti kita ke supermarket ya! Kita beli perabotan untuk masak dan beberapa barang yang kamu butuhkan." Ajak Rizal sambil memandangi Dinda makan.


"What! Kamu gak kerja? Kalau kamu gak masuk kerja nanti kak Anton curiga sama kamu Zal. Kamu jangan pikirin aku, kan ada mbak Inah." Tolak Dinda.


Karena Dinda tahu kalau Rizal mengantarnya beli barang, itu artinya Rizal akan membayar semua apa yang ia beli. Dinda sendiri tidak ingin uangnya Rizal habis untuk dirinya, Ibu dan adik-adiknya jauh lebih membutuhkan daripada Dinda.


Inah yang juga sedang makan pun hanya bisa melirik ke kanan dan ke kiri, memandangi mereka berdua. Ia merasa iri dengan hubungan mereka, apalagi Rizal yang juga terlihat tulus mencintai Dinda.


"Tapi kamu sedang hamil, kamu gak boleh kecapekan! Ok, kalau gitu setelah aku pulang kerja, aku antar kamu belanja. Untuk makan siang nanti, aku pesanin kamu grabfood." Tutur Rizal yang masih tidak menyerah.


"Ok, kalau kamu maunya begitu." Sahut Dinda yang tidak bisa menolak ajakan Rizal.


Setelah sarapan Dinda selesai, Rizal berpamitan untuk pulang, karena dia harus pergi bekerja. Sedangkan Dinda membantu Inah membersihkan ruangan dan memindahkan barang-barang yang menurutnya tidak penting.


*****


Di dalam kekesalannya, tiba-tiba ia tersenyum. Sepertinya ia baru saja mendapatkan ide untuk mencari tahu keberadaannya Dinda.


"Simbok, kesini sebentar!" Panggil Anton.


"Iya Den, ada apa Den Anton." Sahut Simbok berjalan menghampiri Anton.


"Aku pinjam ponselmu sebentar." Kata Anton.


Tanpa bertanya untuk apa, Simbok langsung berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Ponsel jadul, hanya bisa untuk mengirim pesan singkat dan telpon saja. Tetapi ponsel itu akan di jadikan Anton untuk sarana mencari keberadaan Dinda.


Simbok memberikan kepada Anton, lalu dengan segera Anton membuka layar ponsel tersebut. Sepertinya Anton pernah menggunakan ponsel jadul, sehingga ia tidak mendapat kesulitan saat mencoba mengakses ponsel tersebut.

__ADS_1


Dengan senyum penuh kemenangan, Anton mengetik sebuah pesan. Entah kepada siapa ia kirimkan pesan itu. Yang jelas, saat itu Anton terlihat senang. Setelah pesan itu terkirim, Anton menghapusnya, agar Simbok tidak tahu apa yang ia lakukan.


"Terima Kasih yaa Mbok...." Ucap Anton sembari memberi ponselnya ke Simbok.


"Buat apa Den, kok pinjam ponselku?" Tanya Simbok.


"Cuma untuk mengirim pesan Mbok! Nanti pulsanya aku ganti, Ok!" Jawab Anton bersemangat.


Kemudian Anton mengambil tas kerja dan kunci mobilnya, ia mengendarai mobilnya dengan perasaan senang. Perasaan yang berbeda dari semalam, jika semalam ia menangis sesenggukan seperti anak kecil, tetapi pagi itu ia tersenyum bahagia. Entah apa yang membuatnya bahagia.


Sepertinya ia bahagia karena janin yang ada di kandungan Dinda benar-benar anaknya dan ia tahu cara untuk mencari keberadaan Dinda. Setelah ia menemukan Dinda, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyakitinya lagi dan akan selalu membuatnya bahagia, seperti janjinya dulu.


Sesampainya ia di kantor, Anton langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat Loren yang sudah menungguinya sedari tadi. Loren masih tidak terima atas keputusan Anton yang sudah memutuskan hubungan dengannya.


"Anton, dimana hati nurani mu? Kamu bukan anak remaja lagi, kamu sudah dewasa, tetapi kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu anak remaja yang dengan mudahnya mengambil keputusan!" Kata Loren berjalan mendekati Anton.


"Oren, aku hanya tidak mau menyakitimu lebih jauh lagi. Sekarang Dinda sedang hamil anak ku, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja!" Tutur Anton menjelaskan.


"Tapi itu bukan anakmu kan! Kamu bilang itu anaknya Rizal. Biarkan Dinda bahagia dengan Rizal, toh kamu juga tidak mencintainya!" Sahut Loren kesal.


"Aku yakin, janin itu anakku Ren! Kemarin aku hanya salah paham saja. Maafin aku, aku gak bisa lanjutin hubungan kita." Kata Anton sambil memeluk Loren yang mulai menangis.


Di sini, sebenarnya Loren juga tersakiti. Anton pun menyadari hal itu. Karena Anton tidak ingin menyakiti Loren lagi, makanya Anton ingin mengakhiri hubungan mereka. Tetapi Loren tidak mau hubungannya dengan Anton berakhir, bahkan ia bersedia menjadi istri ke-dua Anton.


Sejauh ini Loren tidak tahu jika Anton mulai menyukai Dinda, ia pikir Anton melakukan hal itu karena tekanan dari Almarhumah sang nenek, hingga membuat Dinda hamil. Dan ia mengira, Anton hanya ingin bertanggungjawab atas janin yang di kandung Dinda.


Maka dari itu, Loren bersedia untuk menjadi istri kedua Anton. Dia yakin suatu saat nanti Anton akan mencerahkan Dinda, karena Anton sangat mencintainya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2