Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Beberapa Bulan Kemudian


__ADS_3

Saling memahami dan mengerti satu sama lain, hingga membuat hubungan mereka berdua terhindar dari perselisihan. Betapa bersyukurnya mereka berdua bisa melewati masa-masa sulit yang penuh dengan dramatis. Kini kehamilan Dinda sudah menginjak sembilan bulan dan sudah waktunya Dinda melahirkan. Dengan setia Anton menemani Dinda di rumah sakit bersalin. Melihat Dinda mengerang kesakitan membuat Anton tidak sanggup untuk melihatnya.


"Tarik nafas dan keluarkan perlahan," seorang dokter kandungan memandu Dinda.


"Aku gak kuat Dok!" kata Dinda yang mulai kelelahan karena mengejan.


"Nyonya Dinda pasti bisa! Ayo sekali lagi, tarik nafas dan kejankan!" suruh dokter lagi.


Selama lima jam dalam ruang persalinan, akhirnya Dinda melahirkan seorang bayi laki-laki mungil yang imut dan menggemaskan. Rasa sakit yang Dinda rasakan terbayar sudah oleh tangisan bayinya yang terdengar nyaring di ruang persalinan. Raut kebahagian terpancar dari wajah Dinda dan Anton. Tak henti-hentinya mereka memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas diberikan-Nya kemudahan dalam melahirkan buah hati mereka.


Anton dengan sigap menggendong bayi laki-laki yang belum ia beri nama itu. Suara Adzan ia lantunkan tepat di telinga kanan sang bayi. Tangis kebahagiaan pun terlihat jelas di wajah Dinda. Ia masih tidak percaya, bahwa ia telah melahirkan bayinya secara normal. Dinda merasa menjadi seorang wanita yang sempurna.


"Nyonya Dinda, saatnya menyusui bayinya ya!" kata dokter memposisikan bayi di dada Dinda.


"Apa harus sekarang menyusuinya Dok?" tanya Dinda yang merasa malu menyusui di depan para dokter dan suster, walaupun mereka semua perempuan.


"Iya, karena ASI pertama mengandung Kolostrum. Kolostrum kaya akan sel darah putih yang mampu melawan infeksi bakteri dan virus. Jadi, kolostrum sangat disarankan untuk diberikan pada bayi sejak ia lahir dan kemudian dilanjutkan dengan ASI eksklusif hingga 6 bulan," terang dokter sambil membersihkan bagian bawah Dinda.


Tak terasa air mata menetes di pipinya. Melihat sang bayi yang sedang menyusu. Hal itu mengingatkan dirinya dengan perjuangan mereka berdua. Perjuangan yang dramatis dan penuh suka duka. Pertengkaran yang membuat mereka berdua semakin lebih dewasa. Perhatian yang mereka selalu terapkan, hingga mereka berdua menyadari, betapa pentingnya saling perhatian, mengerti dan melengkapi satu sama lain.


Tangannya membelai lembut rambut Dinda dan tangan satunya mengelus tubuh mungil sang bayi. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Anton berjanji pada dirinya untuk selalu membahagiakan mereka berdua, karena mereka adalah prioritasnya.


"Kakak kenapa menangis?" tanya Dinda yang masih menyusui.

__ADS_1


"Tangis ini adalah tangis kebahagiaan, aku bersyukur memiliki kalian berdua!" jawab Anton mengecup kening Dinda.


"Terima kasih, Kakak sudah menemaniku saat melahirkan, padahal Kakak 'kan takut sama darah," kata Dinda memandangi Anton.


"Sudah jadi kewajiban seorang suami menemani istrinya yang sedang melahirkan. Melihatmu berjuang, membuatku tidak takut lagi dengan darah!" sahut Anton tersenyum penuh haru.


Dokter dan para suster yang berada di ruang persalinan pun merasa iri dengan keromantisan mereka berdua. Hingga membuat salah satu seorang suster ingin segera menikah dan mendapatkan suami seperti Anton. Mungkin mereka hanya melihat sisi keromantisan dari Anton dan Dinda, tetapi mereka tidak melihat bagaimana mereka berdua berjuang untuk sampai pada titik dimana mereka berdua telah mencapai sebuah harapan dan memiliki buah hati.


Pada hakekatnya, membina rumah tangga membutuhkan pengorbanan dan perjuangan dikedua belah pihak. Bersama-sama menghempaskan badai dan gelombang yang menerpa di pernikahan. Tanpa adanya kerjasama, rumah tangga tidak akan pernah berdiri kokoh. Perhatian dan pengertian sangat diperlukan dalam membina rumah tangga.


"Maaf Pak, saatnya memindahkan pasien di ruang inap," kata suster memberitahu.


"Baik Sus, silahkan!" sahut Anton yang langsung melepaskan tangan Dinda.


"Pelan-pelan Sus, jangan sampai membentur tembok!" imbuh Anton karena melihat suster sedikit kasar mendorong ranjangnya Dinda.


Suster menyarankan Anton untuk memijit halus perut Dinda. Pemijatan pada ibu paska melahirkan ternyata memiliki efek yaitu, Relaksasi. Wanita melahirkan mengalami stress yang sangat besar baik tubuh maupun psikis, melakukan pemijatan dapat membantu otot tubuh menjadi relaks dan ibu akan menjadi lebih nyaman. Mengurangi stress dan depresi paska melahirkan.


"Sayang, kamu makan dulu ya! Ini aku sudah pesankan makanan yang bagus buat kamu," suruh Anton menyiapkan makanan untuk Dinda.


"Kenapa banyak sekali sayur-sayuran hijau? Aku kan gak suka!" protes Dinda memanyunkan bibirnya.


"Makanan ini bagus buat kesehatan ibu pasca melahirkan, jadi kamu harus makan yang banyak. Ada buah kurma kesukaan mu kok!" Anton menjelaskan kepada Dinda.

__ADS_1


Terpaksa Dinda memakan habis sayur-sayuran itu demi kesehatannya dan juga untuk bayinya. Dengan sabar Anton menyuapinya dan juga mengajak Dinda mengobrol. Benar saja, setelah makan kenyang, tenaga Dinda berangsur kembali. Air susunya juga keluar dengan sendirinya. Tiba-tiba seorang suster datang memberikan si bayi untuk diberikan ASI. Kebetulan, air ASI sudah keluar dengan sendirinya.


Karena belum ahli dalam menyusui, Anton pun membantu Dinda untuk memegang badan bayi agar tidak jatuh dan posisi bayi lebih nyaman ketika menyusu. Senyum Anton mengembang melihat bayi mungil yang ia dambakan selama ini sudah didepan matanya. Anton tidak dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan pada dirinya, bahwa dirinya saat itu merasa paling bahagia.


"Sepertinya dia sudah kenyang," kata Anton mengelus punggung bayi.


"Bagaimana Kakak bisa tahu?" tanya Dinda penasaran.


"Akhir-akhir ini aku banyak menonton YouTube tentang ibu melahirkan dan juga menyusui, jadi sedikit banyak aku tahu ciri-ciri bayi yang sudah kenyang," jawab Anton tersenyum melirik Dinda.


Dengan hati-hati Anton mengambil bayinya dari dada Dinda. Ia hendak menggendongnya dan berencana membuat bayi bersendawa, tetapi karena Anton takut, rencananya pun gagal. Dia mengembalikan bayi ke dada Dinda dan memanggil suster untuk mengajarinya cara menyendawakan kan bayi. Dinda tersenyum gemas melihat tingkah suaminya yang bertingkah seolah-olah mengerti semua.


Suster yang datang pun segera mengajari Anton cara untuk menyendawakan bayi. Lalu Anton mempraktekkan dan sekali praktek langsung membuat bayinya sendawa. Rasa bangga dan puas terhadap dirinya membuat Anton percaya diri, bahwa dirinya bisa menjadi istri dan ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak.


"Wah... suamiku lebih jago rupanya! Ih.. menggemaskan sekali!" puji Dinda kepada sang suami.


"Setelah aku pikir-pikir, membantu istri merawat anak menjadi salah satu kewajiban suami," kata Anton dengan yakin.


"Kenapa Kakak memiliki pemikiran seperti itu?" tanya Dinda mengerutkan keningnya.


"Melihatmu kesakitan saat melahirkan selama berjam-jam, membuatku merasa kerja kerasku bertahun-tahun mencari nafkah, belum sepadan dengan rasa sakit mu. Maafkan aku ya sayang, aku selalu memarahi mu waktu kamu hamil," jawab Anton penuh haru.


Memang tidak semua suami seperti Anton, tetapi setidaknya Dinda berharap kepada laki-laki atau suami harus menghargai seorang istri. Ketika istri hamil, mereka ingin selalu dimengerti, karena hormon membuat emosi ibu hamil naik turun. Dan lagi, ketika ibu hamil tua, mereka tidur pun tak nyaman dan sering bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.

__ADS_1


Ketika mengalami kontraksi, rasa sakit itu hanya ibu hamil yang merasakan betapa sakitnya. Karena seorang laki-laki atau suami tidak akan pernah merasakan sakit yang rasanya seperti kontraksi. Hargailah semua wanita di dunia ini, terutama ibu dan istri kalian.


Bersambung...


__ADS_2