
Loren berjalan memasuki ruang kantornya. Ia melihat ke arah Rizal dengan tatapan tajam. Ingin sekali ia menanyainya, tentang apa yang terjadi dengan Dinda, karena Rizal lah orang yang berada di sana ketika Dinda mengalami kecelakaan. Semua orang menyalahkannya, jadi Loren tidak mau tinggal diam. Apalagi, Anton sudah mengancamnya untuk melaporkan Loren ke pihak yang berwajib.
Mendapat tatapan tajam dari Loren, membuat Rizal menjadi salah tingkah. Hal itu membuat Loren sedikit mencurigai Rizal, ia meyakini jika Rizal adalah orang di balik jatuhnya Dinda dari tangga. Kali ini Loren membiarkan Rizal bernafas lega, karena dia mengurungkan niatnya untuk mengintrogasi Rizal, karena pekerjaannya sedang menumpuk.
"Zal, tolong bantuin aku mengecek ini." panggil Loren kepada Rizal yang saat itu sedang terlihat gugup.
"Oh o ok Mbak!" sahut Rizal gugup.
Rizal dengan kegugupannya beranjak berjalan menghampiri Loren untuk mengambil berkas yang akan ia cek. Tatapan tajam Loren tak henti-hentinya memandangi Rizal. Tatapan yang penuh dengan kecurigaan. Loren tidak mau gegabah, ia ingin mencari pelakunya dengan tangannya sendiri. Dia sudah muak, karena semua orang menyalahkannya, padahal dirinyalah korban patah hati karena Dinda dan Anton.
"Kamu kenapa gugup begitu?" tanya Loren sambil menyodorkan berkas.
"Tidak apa-apa mbak!" jawab Rizal yang mencoba membuang rasa gugupnya.
"Kamu kenapa kemarin dua hari gak masuk kerja?" tanya Loren masih dengan tatapannya.
Rizal terdiam sejenak, sepertinya ia sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan.
"Maaf Mbak, kemarin aku tidak enak badan." jawab Rizal yang langsung kembali ke tempat duduknya.
Sikap Rizal benar-benar aneh. Hari ini adalah hari pertama Rizal masuk ke kantor setelah kejadian jatuhnya Dinda dari tangga. Tidak ada keterangan dari Rizal atas tidak masuknya ia ke kantor. Di tambah sikapnya yang aneh, membuat Loren ingin segera mengintrogasi nya.
*****
Anton dan Dimas pulang ke rumah untuk mandi dan istirahat. Wajah Anton benar-benar kacau, bengkak karena kebanyakan menangis. Ia berjalan menaiki anak tangga tanpa berkata sepatah katapun, sedangkan Dimas duduk di sofa menghela nafas panjangnya. Hal itu membuat Inah penasaran dengan apa yang terjadi. Kemudian Inah memberanikan diri untuk menghampiri Dimas dan menanyakan kepadanya tentang hal apa yang membuat Anton menangis.
"Den, den Dimas!" panggil Inah yang berdiri di hadapan Dimas.
"Hmm kenapa?" tanya Dimas yang menyandarkan kepalanya di sofa hingga ia hanya bisa melihat langit-langit rumah.
"Sepertinya den Anton habis menangis. Memangnya kenapa?" tanya Inah penasaran.
__ADS_1
Dimas kemudian memandang ke arah Inah, ia menyuruh Inah duduk di sampingnya. Inah pun nurut saja dan menghadap ke arah Dimas dengan tatapan serius. Inah siap mendengarkan apa yang akan di katakan olehnya. Tetapi Dimas malah tersenyum melihat raut wajah Inah yang sedang serius. Dimas merasa terkesima melihat wajah Inah yang menurutnya sangat imut.
Inah pun memprotes atas sikap Dimas yang terlihat bergurau. Lalu Dimas berhenti tersenyum dan meminta maaf kepada Inah. Sebelum memberitahu Inah, Dimas berpesan kepada Inah untuk tidak menangis. Inah pun menjadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Dan Inah menyuruh Dimas agar cepet memberitahunya.
"Dinda di rawat di ruang ICU dan dia koma." kata Dimas memberitahu.
"Tidak mungkin, tadi pagi non Dinda masih baik-baik saja." sahut Inah tak percaya, tapi Dimas tidak mungkin berbohong.
Tak seperti perkataannya beberapa menit yang lalu, jika dirinya tidak akan menangis. Tetapi pada nyatanya, Inah pun menangis sesenggukan. Air matanya membasahi pipinya dan Dimas membantu mengelap air matanya. Karena tak kunjung berhenti menangis, Dimas pun menarik tangannya Inah dan memeluknya. Ia berusaha untuk menenangkan Inah.
Dada yang bidang, membuat Inah merasa nyaman menyandarkan kepalanya di sana. Ia pun berhenti menangis dan mulai mendengarkan detak jantung Dimas. Sedangkan Dimas mengelus rambut halusnya yang ia biarkan terurai. Suara detakkan jantung berubah jadi suara teriakan. Inah pun menyadari jika suara itu suaranya Simbok. Seketika Inah melepaskan pelukannya Dimas dan langsung berdiri.
"Kalian bukan muhrim tapi sudah saling pelukan!" bentak Simbok dengan amarahnya.
"Maaf mbok, tadi den Dimas hanya memenangkan ku, karena aku menangis." Inah mencoba menjelaskan.
Dimas berdiri dan berjalan menghampiri Simbok yang terlihat sedang marah. Lalu ia meraih tangan Simbok dan mulai membicarakan hal yang serius.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Simbok balik yang tidak tahu maksud perkataan Dimas.
Inah tertegun mendengar perkataan dari mulut Dimas. Inah mengerti dengan maksud perkataan yang terlontar dari mulut Dimas, tapi ia ragu dengan apa yang ia dengar. Tidak mungkin semudah itu bagi Dimas melamarnya langsung kepada Simbok. Inah menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa apa yang ia dengar tidaklah nyata.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini semua, tetapi aku serius ingin melamar anak ibu, Inah." kata Dimas menjawab dengan yakin.
Simbok maupun Inah saling bertatapan, tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dimas. Simbok lalu memastikan kepada Dimas, apakah perkataannya bisa di pertanggung jawabkan. Tentu saja dengan yakin Dinda menjawab, bahwa dirinya sangat yakin ingin melamar Inah. Tetapi karena kondisi Dinda yang tidak baik, Dimas pun meminta waktu untuk melamar Dinda dengan resmi.
Entah harus sedih atau senang, Inah menutup mulutnya yang tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Simbok sebenarnya ragu, karena dia tahu jika Dimas pernah menjadi laki-laki yang tidak baik. Karena akhir-akhir ini Dimas menunjukkan sikap baiknya, akhirnya Simbok merestui jika Dimas akan melamar anaknya.
"Inah, cepetan masak! Kasihan den Anton, pasti dia lapar." suruh Simbok kepada Inah.
"Baik Mbok! aku siapkan bahan-bahannya dulu." sahut Inah langsung pergi menuju dapur.
__ADS_1
Sementara Dimas dan Simbok sedang mengobrol di ruang tamu. Inah yang antara percaya dan tidak percaya, memetik sayuran untuk ia masak. Tentu saja Inah senangnya bukan main. Laki-laki yang baginya susah ia gapai, malah datang sendiri untuk melamarnya. Suatu hal yang sangat membanggakan baginya.
Sekitar satu jam lebih, akhirnya makanan yang di masak Inah sudah matang dan siap di meja makan. Batu saja Inah berencana untuk memanggil Anton, tetapi ia sudah berjalan menuruni anak tangga dengan berpakaian rapi.
"Bro! Mau kemana?" tanya Dimas yang masih duduk di sofa dengan Simbok.
"Aku mau jagain Dinda di rumah sakit!" jawab Anton merapikan kaos yang ia kenakan.
Sebelum Anton pergi, Dimas menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu. Anton juga menyuruh Dimas untuk tidur di rumahnya. Karena ia berencana untuk menyetir sendiri. Anton juga berpesan, jika butuh baju ganti ia boleh mengambil baju tidur di kamarnya.
Setelah selesai makan, Anton segera bergegas pergi ke rumah sakit. Sebenarnya, walaupun Anton datang ke rumah sakit, ia tidak bisa menjaga di samping Dinda. Tetapi Anton berpikir jika sewaktu-waktu Dinda sadar, ia siap ada di sana. Lagipula tidak ada salahnya, seorang suami yang selalu ingin di samping sang istri.
"Kamu gak Sholat Maghrib dulu Bro?" tanya Dimas yang juga baru selesai makan.
"Aku Sholat di rumah sakit saja. Lagian belum Adzan, masih ada waktu 15 menit." jawab Anton sambil melihat jam tangannya.
Dengan menyetir sendiri, Anton melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. beruntung, rumah sakit tidak begitu jauh dari rumahnya. Jadi ketika ia sampai di rumah sakit, Adzan Maghrib berkumandang. Anton pun menjalankan Sholatnya terlebih dahulu sebelum melihat Dinda di ruang ICU.
Bersambung...
Hi guys, sahabat setia....
Jika ingin Author crazy up,
Tolong like dan share,
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian.
Like dan komentar kalian membuat Author semangat menulis.
Terimakasih 🙏
__ADS_1