
Orang yang masuk ke dalam rumahnya Dinda adalah Rizal dan Inah. Mereka berdua berencana untuk membuat kejutan ulang tahunnya Dinda dengan membawa kue ulangtahun. Bukannya memberi kejutan, tetapi mereka berdua yang terkejut melihat adegan suami istri bergulat di atas ranjang.
Rizal dan Inah pun segera membalikkan badannya dan menaruh kue ulangtahun dengan lilin yang masih menyala di atas meja ruang tamu. Dengan raut wajah yang terlihat marah dan kecewa, Rizal pergi keluar meninggalkan rumah Dinda. Sedangkan Inah kebingungan, apa yang harus ia lakukan. Karena sudah tengah malam, mau pergi pun gak ada tujuan. Lalu ia sambil menutup wajahnya berjalan masuk ke kamarnya.
Dinda dan Anton sama sekali tidak menyadari kedatangan Rizal dan Inah. Mereka tetap melanjutkan aktivitasnya, ketika Anton mulai membuka baju Dinda, barulah Anton menutup pintu dan mematikan lampu.
"Din, kamu dengar sesuatu gak?" Tanya Anton yang mendengar seseorang menutup pintu.
"Aku gak dengar apa-apa!" Jawab Dinda.
Tidak ingin melewatkan waktu keromantisan mereka, Dinda pun menyuruh Anton untuk tidak memperdulikan suara yang ia dengar, karena tidak ada orang lain selain mereka di rumah malam itu. Lalu Dinda melingkarkan tangannya di leher Anton dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Entah kenapa dengan Dinda, malam itu hatinya benar-benar senang ketika sang kakak datang kerumahnya dan ingat hari ulangtahunnya. Mungkinkah pertanda benih-benih cinta mulai tumbuh. Bahkan ketika ia tahu jika Anton pergi ke luar negeri, Dinda merasakan rasa rindu di hatinya.
Malam itu adalah malam panjang bagi Dinda dan Anton, tetapi malam yang sangat buruk bagi Rizal. Ia sungguh kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Dinda. Ia mengorbankan waktu dan semuanya demi untuk membahagiakan Dinda, tapi malah Dinda membalasnya dengan pertunjukan yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan.
"Din, kenapa malam ini kamu bersemangat sekali?" Tanya Anton sambil memeluk Dinda dari belakang.
"Aku gak tahu!" Jawab Dinda singkat.
Mereka baru selesai melakukan hubungan suami istri. Anton merasakan ada yang beda dari Dinda. Jika biasanya Dinda hanya memejamkan matanya, tapi kali ini Dinda bersikap lembut dan merespon setiap apa yang Anton lakukan padanya.
Dinda sendiri merasakan malam ini tidak seperti yang sudah-sudah. Tubuhnya rileks, menikmati setiap sentuhan yang di lakukan oleh Anton. Ia lebih sering memandangi wajah tampan sang kakak, sesekali ia mencium bibir Anton dengan lembut. Bahkan, ketika dia mencapai puncak, ia merasakan jauh lebih nikmat dari biasanya.
Anton membalikan badan Dinda hingga posisi mereka saling berhadapan. Dinda tampak malu dan tidak berani memandangi sang kakak. Lalu Anton meraih dagu Dinda agar mereka bisa saling bertatapan.
__ADS_1
"Din, kakak sayang sama kamu!" Ujar Anton menatap Dinda.
"Tetapi rasa sayangku ini lebih dari sayang terhadap kakak dan adik. Tepatnya, aku mulai mencintaimu." Imbuh Anton mengakui perasaannya.
Dinda sedikit terkejut dengan pernyataannya sang kakak. Dia tidak tahu harus menanggapi apa, sedangkan di pikirannya mulai datang bayangan Rizal.
"Mari rawat anak kita bersama-sama. Jika kita seperti ini terus (berhubungan bada), bukankah akan menyakiti Rizal nantinya." Kata Anton sambil mengecup dahi Dinda.
Sebenarnya, tiap kali Dinda melakukan hubungan badan dengan Anton, ia merasa bersalah dengan Rizal. Tetapi dia sendiri tidak bisa menolak ajakan Anton, bahkan dia menikmati setiap apa yang di lakukan Anton terhadap dirinya. Sungguh rumit kisah hidup yang membuatnya melangkah sejauh ini.
Kemudian Anton beranjak dari tidurnya, ia menarik tangan Dinda untuk membantunya duduk. Lalu Anton memakai celana boxer dan ia melilitkan handuk di tubuh Dinda. Mereka berdua pun pergi ke kamar mandi dan mandi besar bersama.
Setelah selesai mandi, Dinda langsung berganti pakaian, sedangkan Anton yang masih memakai boxer sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, berjalan menuju ke ruang tamu. Karena dia mau ambil sesuatu di kopernya yang terletak di dekat sofa ruang tamu.
"Dinda! Ini siapa yang bawa kue?" Panggil Anton kepada Dinda.
Kue ulangtahun dengan tercetak nama Dinda di atasnya dan lilin yang sudah habis terbakar. Dinda pun merasa bingung atas keberadaan kue tersebut, karena ia merasa tidak ada seorangpun di rumah.
Dengan ragu Dinda menyuruh Anton untuk mengecek keberadaan Inah. Lalu Anton mengetok kamar Inah dan tak lama kemudian Inah membukakan pintu untuknya.
"Mbak Inah di rumah?" Tanya Dinda yang berdiri di belakang Anton.
"Iya Non, tadi rencananya mau buat kejutan buat ulangtahun Non Dinda, tapi malah....." Jawab Inah yang tidak mau melanjutkan bicaranya.
"Jadi yang bawa kue itu kamu?" Tanya Anton.
__ADS_1
"I-iya Den, tadi lupa mau masukin ke kulkas." Jawab Inah ragu.
Melihat raut wajah Inah yang gak seperti biasanya, Dinda pun merasa ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya. Lalu dengan perasaannya yang tak enak, Dinda mengambil ponselnya yang berada di atas meja makan dan memasukkan kue itu kedalam kulkas. Kemudian Anton mengajaknya untuk segera tidur, karena malam itu sudah jam dua pagi.
Mereka berdua tidur di atas ranjang dengan posisi Anton memeluk Dinda dari belakang. Ada rasa nyaman yang di rasakan oleh Dinda. Tetapi, ketika ia hendak membalikan badannya, tiba-tiba bayangan Rizal muncul di kepalanya. Hal itu membuatnya merasa bersalah dan tidak bisa tidur sepanjang malam, hingga terdengar suara Adzan.
Dinda beranjak dari ranjang, di lihatnya Anton yang masih tertidur pulas. Ia segera keluar dari kamarnya dan menemui Inah.
"Mbak Inah, semalam kamu lihat aku sama kak Anton?" Tanya Dinda yang teringat semalam pintu kamarnya tidak tertutup ketika ia dan Anton berciuman.
"Iya lihat Non! Makanya, kalau mau gitu-gituan tuh di tutup pintunya!" Jawab Inah memprotes dengan kesal.
Baru saja Inah ingin bercerita kejadian semalam, Anton sudah keluar dari kamar. Inah pun mengurungkan niatnya dan segera pergi untuk melaksanakan Ibadah Sholat. Begitupun dengan Dinda yang langsung mengambil air wudhu.
Anton dan Dinda Sholat berjamaah. Setelah selesai Sholat, Dinda langsung terserang rasa kantuk yang teramat. Lalu Anton menyuruhnya untuk segera tidur, karena dia tidak ingin calon buah hatinya kenapa-kenapa jika Dinda kurang tidur.
Sementara Anton keluar dari kamar, ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tetapi ada sebuah kotak yang mencuri perhatiannya. Yaitu kotak susu ibu hamil yang terletak di Buffett dapur.
"Dinda minum susu ya Mbak?" Tanya Anton kepada Inah yang saat itu sibuk berada di dapur.
"Iya Den, itu yang beliin Rizal. Setiap hari dia kesini, buatin susu buat Non Dinda." Jawab Inah keceplosan.
Sontak saja Inah menutup mulutnya rapat-rapat. Inah tidak mau ada keributan gara-gara dirinya. Lalu Anton pun tidak jadi minum air, dia berjalan menghampiri Inah. Ia menyuruh Inah untuk menceritakan semua apa yang dilakukan Rizal dan Dinda, semenjak kepindahannya dari rumah.
Inah yang melihat wajah Anton berubah menjadi dingin pun merasa takut, ia tahu kalau Anton sedang marah pasti menakutkan. Awalnya Inah tidak mau bercerita, tetapi karena Anton terus mendesaknya, Inah pun menceritakan semua apa yang di lakukan Dinda dan Rizal, termasuk kedatangan Rizal semalam.
__ADS_1
Anton tersenyum sinis ketika Inah memberitahunya, bahwa Rizal melihat dia dan Dinda berciuman. Setidaknya hal itu menjadi bukti bahwa Anton dan Rizal tidak bisa di pisahkan. Dan Rizal akan pergi dengan sendirinya, tanpa ia susah-susah mencari cara untuk memisahkan Dinda dan Rizal.
Bersambung....