Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Tanda-tanda Kehamilan


__ADS_3

Dinda tertawa penuh kemenangan, ketika ia berhasil keluar dari rumah, tanpa ada masalah yang serius. Ia berlari ke pertigaan gang dekat rumahnya. Ia melihat Rizal yang berdiri di dekat motornya, menunggu kedatangan Dinda.


Dengan bersemangat, Dinda menambah kecepatan larinya, sehingga membuatnya kecapekan. Senyumnya melebar di saat Rizal meraih tangannya.


"Kenapa kamu musti lari?" Tanya Rizal sambil mengelap keringat Dinda dengan tangannya.


"Karena takut ketahuan nenek dan kakak!" Jawabnya yang masih kecapekan.


Takut ketahuan, Rizal dan Dinda segera pergi dari sana. Rizal memberi Dinda helmet dan menyuruhnya untuk berpegangan erat. Terlihat senyum nakal Dinda dan ia pun langsung memeluk Rizal dari belakang.


Rizal yang masih polos pun terkejut, karena mendapatkan pelukan dari seorang gadis yang ia cintai untuk pertama kalinya. Dengan segera, Rizal melajukan motornya dengan kecepatan 60 km/jam.


Sesampainya mereka di rumah Yuki. Dinda mematikan ponselnya, karena dia tidak mau sang kakak mengganggunya. Dan tak lama kemudian, ponsel Yuki pun berdering, ketika mereka sedang sibuk membuat dekorasi pesta ulangtahun.


"Din, kakak mu telpon nih!" Kata Yuki menyodorkan ponselnya ke arah Dinda.


"Gak usah di angkat! Matiin ponselmu!" Sahut Dinda menyuruh Yuki mematikan ponselnya.


"Nanti kalau teman-teman pada telpon gimana? Takutnya mereka lupa jalan kerumah ku." Ujarnya.


"Ya sudah, abaikan saja!" Kata Dinda yang tidak perduli dengan sang kakak.


Akhirnya tidak ada suara telpon di ponsel Yuki. Mereka pun dengan bersemangat mendekor dinding-dinding dengan balon dan juga beberapa gambar yang di gambar oleh Yuki. Karena memang Yuki memiliki hobi menggambar anime Jepang.


Sesekali Rizal dan Dinda saling curi perhatian. Seakan Dinda lupa dengan statusnya yang sudah punya suami, bahkan sedang memprogram untuk kehamilannya. Kisah kasih anak remaja memang menyenangkan, begitulah yang di rasakan mereka berdua. Serasa dunia ini hanya milik mereka berdua, hingga tanpa mereka sadari, Yuki menatap mereka berdua dengan tatapan heran.


"Din, kakak mu menelpon ku juga!" Kata Rizal memberitahu.


"Jangan di angkat!" Suruh Dinda sambil mengambil ponsel Rizal untuk memastikan kalau yang telpon sang kakak.


Selang beberapa menit, ponsel Rizal pun berdering, tanda ada pesan masuk.


"Eh kunyuk! Kalau kamu tidak mengangkat telpon ku, Hari Senin kamu jangan masuk kerja! Kalau kamu mau mengangkat panggilan ku, ku angkat kau jadi karyawan tetap!" Isi pesan dari Anton.


Karena ponsel Rizal masih di tangan Dinda, jadi yang membuka pesan itu adalah Dinda. Ia pun hanya membacanya dan mengabaikan pesan itu. Lalu Dinda mengembalikan ponsel kepada Rizal, tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk. Dengan segera Dinda mematikan panggilan itu.

__ADS_1


Rizal pun merasa khawatir jika nanti Anton marah kepadanya karena tidak mengangkat panggilan darinya. Lalu, Rizal mengecek pesan singkat dari Anton. Dia semakin khawatir karena isi pesan singkat itu dengan nada mengancam. Ketika Rizal ingin membalas pesan dari Anton, tiba-tiba Anton mengiriminya pesan singkat lagi.


"Kunyuk! Jangan harap kamu bisa kerja di lain perusahaan, karena aku akan blacklist nama kamu!" Isi pesan kedua Anton.


"Din, aku telpon kak Anton ya! Kalau dia sampai pecat aku, nanti kita ketemuannya jadi susah!" Kata Anton.


"Okay dah! Tapi jangan bilang kalau kita di rumah Yuki, bilang saja kita jalan di luar. Kalau enggak, dia pasti kesini!" Ujar Dinda.


Tut...Tut...Tut...


Rizal menelpon Anton.


"Kasih tahu aku sekarang juga, kalian sedang di mana? Kirim alamatnya melalui pesan singkat, sekarang juga!" Kata Anton mematikan panggilannya.


Rizal yang tidak mau ambil resiko pun langsung mengirimkan alamat lengkap rumah Yuki, tanpa menjelaskan apa yang mereka lakukan di sana.


"Din, sorry! Aku kasih tahu kakak mu, kalau kita sedang di sini." Kata Rizal memberitahu.


"Kenapa kamu kasih tahu dia? Yakin dah, dia bakal membuat ulah!" Timpal Dinda dengan cemberut.


"Biarin kakak mu kesini lah, aku yakin dia gak akan ngerusak pesta orang! Lagian kan kakak mu ganteng, nanti teman-teman jadi bersemangat." Sahut Yuki tersenyum.


Karena jarak rumah mereka tak terlalu jauh, hanya butuh 20 menit untuk sampai di rumah Yuki. Dengan kesal Anton memasuki rumah Yuki yang pintunya terbuka otomatis.


Dinda yang melihat sang kakak dengan berpenampilan yang kasual, membuatnya kesal. T-shirt dengan warna putih, celana hitam dan di padu dengan sendal jepit warna hitam. Sepertinya memang Anton tidak tahu kalau Yuki sedang ulangtahun.



"Siapa yang ulang tahun?" Tanya Anton yang tidak tahu.


"Ulang tahunku kak! Kakak silahkan duduk." Jawab Yuki sambil mempersilahkan Anton duduk.


Dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana, Anton berjalan dan duduk di sofa ruang tamu. Di lihatnya berkeliling rumah Yuki yang cukup besar, tetapi terasa sepi.


Sementara Dinda tidak perduli dengan sang kakak, sedangkan Rizal menghampiri Anton dan menyapanya. Biar bagaimanapun Anton adalah atasannya, jadi sebisa mungkin Rizal menghormatinya. Setelah Rizal selesai menyapa Anton, ia pun kembali bersama Dinda. Sedangkan Yuki mengambilkan segelas air dingin untuk Anton.

__ADS_1


"Orangtua mu kemana?" Tanya Anton dengan nada dingin.


"Kebetulan Orangtua ku di Jepang kak, ada pekerjaan." Jawab Yuki sambil menaruh segelas air putih di atas meja.


"Gak ada orangtua di rumah, tapi kamu ngadain pesta? Wah... anak jaman sekarang!" Ucap Anton sambil menggelengkan kepalanya.


Yuki pun menggaruk kepalanya yang tidak gatel. Walaupun ini bukan kali pertama Yuki bertemu dengan Anton, tetapi ia merasa malu, karena Yuki sudah sejak dulu menyukai Anton. Jika Yuki sedang main ke rumah Dinda, biasanya ia suka curi-curi pandang kepada Anton.


"Kan ada pak satpam dan asisten rumah tangga kak!" Tanggap Yuki.


"Mana, tadi di depan gak ada pak satpam. Posnya kosong kok!" Sahut Anton berganti melipat tangannya di dada.


"Mereka sedang sarapan di dapur kak, makanya terlihat sepi." Jelas Yuki.


Ketika mereka sedang mengobrol di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara Dinda yang ingin muntah. Anton pun dengan sigap langsung berdiri menghampiri Dinda yang berlarian ke kamar mandi.


Anton membantu Dinda memijit leher Dinda agar dengan mudah mengeluarkan isi dalam perutnya. Rasa khawatir pun menyergap, lalu Anton mengajak Dinda untuk pergi periksa.


"Kaya orang hamil saja kamu Din, pagi-pagi sudah muntah-muntah." Celetuk Yuki yang sedang berdiri di dekat pintu membawa tisu.


Sontak saja Dinda dan Anton menoleh ke arah Yuki secara bersamaan. Hal itu membuat Yuki merasa bersalah, atas ucapan yang asal ucap dari mulutnya. Dia kira ucapannya keterlaluan yang sudah menyamakan Dinda seperti ibu hamil.


Anton kemudian mengajak Dinda untuk pergi periksa. Rizal sedikit kecewa, karena pesta belum juga di mulai tetapi Anton sudah mengajak Dinda pergi. Padahal dia ingin menghabiskan waktunya dengan Dinda tapi, karena Dinda sedang muntah-muntah ia pun harus terima atas perginya Dinda.


"Yuki, aku periksa dulu ya! Sorry gak bisa ikutan pesta. Kepalaku tiba-tiba pusing dan perutku gak enak banget nih!" Kata Dinda berpamitan.


"Gak apa-apa Din, kesehatanmu lebih penting!" Sahut Yuki.


Dinda pun berpamitan kepada Yuki dan Rizal, dia juga minta maaf karena tidak bisa ikut berpesta. Dinda sendiri ingin segera periksa untuk mengetahui dirinya hamil atau tidak. Sepengetahuannya, jika seseorang sedang hamil, dia akan mengalami pusing dan mual-mual dan itu yang di rasakan Dinda saat itu.


Di klinik terdekat, Anton membelokkan mobilnya dan memarkirkan di parkiran. Ia kemudian turun dari mobil dan membantu Dinda keluar dari mobil. Karena Dinda merasa pusing, Anton pun membopong Dinda memasuki klinik tersebut.


"Pasien kenapa?" Tanya seorang Dokter yang sedang praktek.


"Kepala pusing dan perut mual Dok!" Jawab Anton sambil menidurkan Dinda di ranjang pasien.

__ADS_1


Sementara Dokter memeriksa Dinda, Anton di suruh menunggu di luar.


Bersambung....


__ADS_2