
Dua Minggu setelah mengumpulkan barang bukti. Anton menyewa seorang pengacara yang sudah berpengalaman. Selain itu, ia memiliki barang bukti sebuah rekaman Vidio yang dibuat oleh Lisa dan dikirimkan ke orang pesuruhnya, yaitu pak Haikal pemilik perusahaan A, lawan bisnisnya Anton.
Barang bukti itu ia dapat dari seorang detektif yang ia sewa untuk menyelidiki pak Haikal. Entah dengan cara apa hingga detektif itu bisa mendapatkan rekaman tersebut.
"Aku sudah bayar mahal Anda, jadi aku mau kasus ini cepat selesai dan pelaku dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya!" kata Anton kepada pengacaranya.
"Saya akan melakukan yang terbaik! Karena barang bukti sangat kuat, sudah pasti pelaku akan menerima hukuman yang setimpal," sahut sang pengacara dengan yakin.
Setelah mereka berdiskusi, sang pengacara berpamitan untuk pergi. Pada saat yang bersamaan, Dinda datang dengan membawa bekal makan siang untuk Anton. Dinda hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya, saat ia berpapasan dengan pengacara.
Anton segera beranjak dari duduknya, ketika ia melihat kedatangan Dinda. Dengan rasa khawatirnya, ia menghampiri Dinda dan memeluknya.
"Kamu kenapa kesini sendirian? Kalau terjadi apa-apa sama kamu bagaimana?" Anton yang merasa khawatir jika ada suruhannya pak Haikal.
"Aku tadi sama Mbak Inah, tapi dia pulang lagi, karena Simbok sedang sakit!" Dinda melepas pelukannya.
"Aku pikir kamu sendiri! Terima kasih, sudah membawa bekal untuk suami tercinta!" kata Anton seraya mengambil tentengan tas di tangannya Dinda.
Dengan segera Anton menarik tangan Dinda dan mereka berdua duduk di sofa. Dinda mulai membuka bekal makan siang yang ia bawa dan menyuapi Anton seperti anak kecil.
Bersyukur, setelah beberapa masalah yang mereka hadapi, perlahan satu persatu bisa diselesaikan. Walaupun Anton sendiri belum puas, karena pak Haikal belum ia jebloskan ke dalam penjara. Ia tak pernah habis pikir jika lawan bisnisnya bersaing dengan hal kotor. Padahal, beberapa kali Anton bertemu dengan Haikal dan Anton menilai jika dia orang yang baik. Tetapi nyatanya, atas kelakuannya Anton kehilangan calon buah hatinya dan mengakibatkan Dinda hilang ingatan.
"Ini yang masak kamu atau Mbak Inah?" tanya Anton dengan nada meledek.
"Hari ini aku yang masak, 100 persen gak ada campur tangan Mbak Inah! Memangnya kamu gak bisa membedakan rasa masakan ku sama masakannya Mbak Inah apa?" Dinda merajuk sambil melipat tangannya di dada.
"Tentu saja aku bisa! Maaf ya, tadi aku cuma becanda sayang," Anton meminta maaf karena melihat Dinda memasang wajah dinginnya.
Jika dulu Anton yang selalu memasang wajah dinginnya, sekarang Dinda yang bersikap dingin. Karena rasa cintanya buat Dinda sangat besar, sehingga Anton dengan sendirinya bersikap lembut terhadapnya.
Kini akhirnya Anton mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari Dinda. Walaupun Dinda belum sepenuhnya pulih, tetapi ia tidak bisa menutupi sikapnya, bahwa dirinya juga sangat mencintai Anton.
__ADS_1
*****
Praaak!
Rizal melempar berkas di mejanya Loren sampai terdengar oleh karyawan yang lain. Rizal memprotes, karena dia selalu menerima berjasa yang bukan pekerjaan.
"Ya! Kamu bisa lebih sopan gak!" bentak Loren beranjak dari duduknya.
"Kamu tahukan, pekerjaanku disini apa? Beberapa bulan aku sudah mengerjakan pekerjaan yang tak seharusnya aku kerjakan dan aku tidak pernah protes. Sekarang perusahaan sudah mulai stabil, jadi kembalikan pekerjaanku seperti semula!" tanya Rizal sambil melipat tangannya di dada.
"Kamu kan digaji untuk bekerja! Ya, terserah perusahaan mau memberi pekerjaan apa kepadamu! Kalau sudah tidak nyaman bekerja disini, mengundurkan diri saja!" sahut Loren yang terbakar amarah oleh ucapan Rizal.
Tanpa berpikir panjang, Rizal kemudian kembali ke tempatnya dan mengemasi barang-barangnya. Loren yang melihat dia pun langsung panik dan berlarian menghampiri Rizal untuk mencegahnya pergi.
Walau bagaimanapun, Rizal sangat berperan penting dalam membantu menstabilkan perekonomian perusahaan. Dengan kecerdasannya, ia bisa menggaet beberapa investor menjalin kerjasama dengan perusahaan. Biarpun tidak terlihat jelas apa yang ia lakukan untuk perusahaan, karena Dimas yang mengendalikan perusahaan waktu itu. Tetapi Loren tahu betul, jika Rizal bekerja keras untuk perusahaan.
"Rizal, maafin aku! Please, jangan begini! Aku tidak akan memberimu pekerjaan yang bukan pekerjaanmu, promise!" Loren menahan tangannya Rizal.
Saat itu karyawan lain sudah pergi ke kantin, jadi hanya ada Loren dan Rizal di sana. Karena Rizal merasa haus, ia pun pergi ke pantry untuk minum. Sedangkan Loren mengikutinya dari belakang sambil merayu Rizal agar tidak jadi keluar dari perusahaan.
Merasa kesal, karena Loren tak berhenti berbicara. Rizal pun dengan cepat kilat menutup bibir Loren dengan bibirnya. Loren terkejut, tetapi entah kenapa dia membalas ciumannya Rizal. Mereka berdua pun saling berciuman di dalam ruang pantry.
Praaak!
Suara Tupperware jatuh di lantai. Mereka berdua pun berhenti berciuman dan menoleh kearah dimana Tupperware itu jatuh. Dan dilihatnya, Dinda berdiri terkejut melihat Rizal dan Loren berciuman. 2
"Maaf! Anggap saja aku tidak melihat!" kata Dinda yang langsung pergi.
"Dinda!" Rizal memanggil Dinda.
Dinda tak bergeming atas panggilannya Rizal. Dengan terburu-buru, ia masuk kedalam ruangan dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Anton yang melihat Dinda seperti itu pun langsung menanyainya.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Minumnya mana?" tanya Anton yang menghampiri Dinda.
"Aku gak apa-apa, aku lupa ambil minumannya!" jawab Dinda dengan ekspresi wajahnya yang sedikit syok.
Merasa ad yang aneh dengan sikap Dinda, Anton pun membuka laptopnya ketika Dinda masuk kedalam ruang istirahat. Ia mengecek CCTV untuk mencari tahu apa yang membuat Dinda berubah sikapnya dengan tiba-tiba.
Anton mengangguk kepalanya, ia mengerti apa penyebabnya Dinda menjadi seperti itu. Bukan hanya Dinda saja yang syok, tetapi Anton juga terlihat syok. Ia menyimpulkan jika Rizal dan Loren menjalin hubungan. Tetapi Anton masih belum yakin, karena dia tahu jika Loren tidak suka menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda darinya.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Anton yang melihat Dinda membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku gak apa-apa! Aku mau istirahat saja, aku capek!" jawab Dinda dengan nada malas.
Dari sikap Dinda, Anton tahu jika Dinda masih menyimpan rasa untuk Rizal. Tetapi ia tak mau menyerah begitu saja, dia mencoba menggoda Dinda agar ceria lagi. Anton tahu, jika seorang wanita membutuhkan waktu untuk melupakan seseorang yang pernah ia cintai.
"Aku boleh tiduran disini gak?" tanya Anton meminta ijin.
"Boleh!" jawab Dinda singkat.
Anton merebahkan badannya di samping Dinda dan memeluknya dari belakang. Dinda pun membalikkan badannya dan mereka berdua saling berpandangan. Melihat Anton yang tersenyum, membuat hati Dinda luluh. Ia menyadari jika Ia memiliki suami yang sangat mencintainya. Dinda pun langsung memeluk Anton dan menyesali atas sikapnya yang sempat cemburu melihat Loren dan Rizal berciuman.
"Apakah suasana hatimu sudah membaik?" tanya Anton yang hampir kehabisan napas, karena dipeluk Dinda dengan begitu erat.
"Iya, karena melihat wajah tampan mu membuatku melupakan semua rasa kesal ku!" jawab Dinda melepaskan pelukannya dan tersenyum memandangi sang suami.
Dinda pun mendaratkan sebuah ciuman dan dibalas oleh Anton dengan lembut. Seperti sepasang suami-istri yang sedang dilanda kasmaran.
"Jika nanti semua masalah sudah selesai, kamu ingin jalan-jalan kemana?" tanya Anton sambil mengelus rambutnya Dinda.
"Aku gak ingin kemana-mana, seperti ini terus bersamamu, aku sudah senang kok!" jawab Dinda melingkarkan tangannya di pinggang Anton.
Bersambung...
__ADS_1