Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Salah Paham


__ADS_3

Dengan rasa khawatir, Dinda mencari keberadaan Rizal. Para karyawan pun merasa heran dengan tingkahnya yang terburu-buru, bahkan dia hampir menabrak kursi. Tetapi setelah mengelilingi setiap sudut ruangan, dia tidak mendapatkan Rizal di mana-mana. Padahal pagi itu, jam sudah menunjuk ke angka 7.50 artinya sepuluh menit lagi akan mulai bekerja.


Di telponnya berkali-kali, tetapi Rizal tidak mengangkat panggilannya. Ia semakin khawatir jika semalam Rizal mendengar apa yang ia lakukan dengan sang kakak. Tidak ada seorang karyawan pun yang menegurnya atau sekedar menanyainya. Semua pada sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Bukannya mereka tidak perduli, tetapi mereka tahu jika Dinda sedang mencari Rizal.


Pikirnya, Rizal benar-benar marah dengannya karena mengetahui hubungannya dengan sang kakak. Tak ada harapan lagi untuknya untuk hidup bersama Rizal. Dinda pun merasa lemas seketika, lalu ia masuk ke dalam ruangan sang kakak dengan raut wajah tanpa semangat.


"Kamu kenapa Din?" Tanya Loren yang saat itu sedang mengobrol dengan Anton.


"Gak apa-apa kak!" Jawabnya sambil duduk di kursi kerja.


Anton pun merasa heran dengan sikap sang adik. Biasanya kalau Dinda sudah pasang wajah lesu seperti itu, tandanya ia sedang ada masalah. Ia pun segera berdiri dan menghampiri Dinda untuk menghiburnya. Loren yang tadinya duduk di sofa dengan Anton pun merasa kesal. Ia merasa kalau Anton lebih perduli dengan Dinda daripada dirinya.


Karena merasa kesal, Loren pun segera keluar dari ruangan tanpa berpamitan. Bahkan Anton sepertinya tidak memperdulikan Loren ketika ia keluar dari ruangannya.


"Kenapa dengan muka lesu mu itu?" Tanya Anton yang duduk di meja kerjanya Dinda.


"Tau ah!"Jawab Dinda sambil melipat tangannya.


Anton yang tidak ingin melihat adiknya kesal pun langsung menarik dagu Dinda dan meluncurkan sebuah ciuman ringan di bibirnya dan Dinda membalas ciumannya dengan agresif.


Di saat yang bersamaan, Loren masuk ke ruangan karena ponselnya ketinggalan. Tetapi mereka berdua sedang menikmati ciuman bibir, sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Loren.


Tidak ingin mengganggu mereka, Loren pun langsung menutup pintu dan keluar. Dia pura-pura tidak melihat dan ia berjalan menuju ke toilet.


Apa yang ia khawatirkan selama ini benar-benar terbukti. Matanya tidak menangis, tetapi hatinya sedang menangis merasakan lara hatinya. Dia sudah rela berkorban perasaan, tetapi ujung-ujungnya dia yang tersakiti. Hingga rasa sakit hatinya berubah menjadi dendam.


"Saat ini kalian bisa bersenang-senang di atas penderitaan ku! Tunggu saja pembalasan dari rasa sakit hatiku ini!" Batin Loren memandang cermin di toilet.


Loren keluar dari toilet, ia kembali untuk mengambil ponselnya di ruangan Anton. Ia tidak melihat Anton dan Dinda di ruangan, Loren tahu kalau mereka berdua sedang di ruang istirahatnya Anton. Tanpa memperdulikan apa yang mereka lakukan, Loren pun segera mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan.


Tak lama kemudian, Dinda keluar dari ruang istirahat, karena ponselnya berdering. Dengan penampilan yang acak-acakan, ia menerima panggilan dari Rizal.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak masuk kerja?" Tanya Dinda dengan manja.


"Maaf Din, aku lagi gak enak badan!" Jawab Rizal.


Setelah beberapa menit mereka mengobrol, Anton keluar dari ruang istirahat. Dia membantu Dinda merapikan pakaiannya. Ketika Anton tahu Dinda sedang mengobrol dengan Rizal, rasa ketidaksukaannya pun muncul. Entah rasa cemburu atau apa, Anton sendiri tidak tahu.


Panggilan pun selesai, Dinda merasa bersalah ketika ia terus bermesraan dengan sang kakak, tetapi Rizal di rumah sedang sakit.


*****


Waktu pulang kerja, Loren pura-pura sakit. Ia meminta Anton untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sementara Dinda tidak ikut dengan mereka, ia pulang ke rumah. Entah kenapa Loren berpura-pura sakit, mungkin ada sesuatu yang ia rencanakan.


Dinda pulang dengan menggunakan taksi online. Sesampainya ia di pertengahan jalan, ia ingat kalau Rizal sedang sakit. Kemudian ia menyuruh driver untuk memutar arah. Ia berencana untuk menjenguk Rizal, mumpung sang kakak tidak ada di rumah.


Sekitar 30 menitan, Dinda sudah sampai di depan rumah Rizal. Dia tahu alamat rumah Rizal karena waktu masih sekolah, Ia dan Yuki sering main ke rumahnya.


"Assalamualaikum......" Salam Dinda.


"Wallaikum Sallam" Sahut Rizal.


"Ibu sama adik-adikmu kemana Zal?" Tanya Dinda yang memang terlihat sepi.


"Mereka pergi kerumah nenek, sudah dua hari mereka minap di sana." Jawab Rizal.


"Kamu sakit, tapi sendirian di rumah. Terus, gimana makan mu?" Kata Dinda bertanya lagi.


"Aku masak nasi sendiri dan lauknya beli di warung depan sana." Jawabnya tersenyum.


Dinda merasa kasihan dengan Rizal. Jadi malam itu, sebelum ia pulang ke rumah, Dinda berencana untuk memasak buat Rizal untuk makan malamnya.


Dinda sengaja tidak membicarakan tentang kejadian semalam, karena dari raut wajah Rizal tidak ada tanda-tanda kalau dia marah, berarti semalam Rizal tidak mendengar apa-apa.

__ADS_1


Malam itu Dinda pulang malam, karena ia terlebih dahulu masak untuk Rizal. Kebersamaannya dengan Rizal membuat Dinda lupa waktu. Tak terasa, setelah mereka makan malam, mengobrol kesana kemari, hingga jam dinding menunjuk ke arah angka sembilan. Walaupun ia tidak melakukan apa-apa, tapi Dinda merasa nyaman ketika bersama Rizal.


*****


Anton yang baru saja sampai di rumah, mencari keberadaan Dinda, tetapi Inah memberitahunya bahwa Dinda belum pulang. Dengan raut wajah kesal, Anton segera menelpon Dinda.


"Kamu lagi dimana? Sudah malam begini belum pulang!" Tanya Anton melalui sambungan telepon.


"Maaf kak, aku di rumah Rizal. Soalnya dia sedang sakit." Jawab Dinda jujur.


Karena sudah larut malam, Anton menyuruhnya untuk tetap di rumah Rizal dan ia segera menjemputnya. Dengan menahan amarahnya, Anton mengendarai mobilnya menuju alamat rumah Rizal yang baru saja di kirim oleh Dinda.


Tak lama kemudian, Anton sampai di depan rumah Rizal. Dinda membuka pintu dan Anton memaksa untuk masuk. Di lihatnya rumah tampak sepi, sedangkan Rizal baru saja keluar dari kamarnya dengan raut wajah sayu, karena memang dia lagi sakit.


"Kamu tinggal sendiri?" Tanya Anton dingin sambil melihat leher Rizal yang tampak merah.


"Tinggal sama ibu dan adik-adikku kak, tapi mereka lagi minap di rumah nenek." Jawab Rizal lirih.


Mengetahui Dinda dan Rizal hanya berduaan di rumah dan ada tanda merah di leher Rizal, Anton pun berpikiran negatif dan tiba-tiba menarik tangan Dinda untuk pulang.


Selama di perjalanan, mereka hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Anton sepertinya sangat marah dengan Dinda. Pikirannya memikirkan tanda merah di leher Rizal.


Sesampainya mereka di rumah, Anton menyuruh Dinda untuk mandi dan tidur di kamarnya sendiri. Malam itu Anton benar-benar marah, apalagi dengan tingkah Dinda yang nakal, membuatnya berpikiran negatif. Di tambah ada tanda merah di leher Rizal, ia yakin bahwa itu ulah Dinda. Seperti yang dilakukan pada dirinya sebelum melakukan hubungan intim.


"Kakak marah sama Dinda?" Tanya Dinda masuk ke kamar sang kakak.


"Aku gak marah, mulai malam ini kamu tidur di kamar kamu sendiri." Jawabnya sambil memainkan ponselnya.


"Tapi kalau nenek tahu gimana?" Tanya Dinda dengan manja.


"Nenek gak bakal tahu, dia gak pernah naik ke atas. Sudah sana keluar, aku mau istirahat." Jawab Anton mengusir Dinda.

__ADS_1


Karena Dinda tahu, kalau sang kakak marah padanya, ia pun tak banyak berbicara dan langsung keluar dari kamar sang kakak. Selama ia tinggal bersama, Anton belum pernah marah seperti itu kepadanya. Sehingga Dinda merasa sedikit kecewa ketika sang kakak marah kepadanya, karena hal sepele.


Bersambung....


__ADS_2