Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Curiga Kepada Loren dan Rizal


__ADS_3

Anton baru saja sampai di kantornya, ia berjalan dengan buru-buru memasuki lift. Lalu ia keluar dari dalam lift dan langsung menuju masuk ke ruangannya. Di lihatnya Dimas yang sedang duduk di sofa sambil memandangi laptop dengan tatapan tajam. Ia pun segera menghampiri Dimas dan duduk di sampingnya.


Tanpa berkata-kata, Dimas menunjukkan rekaman yang di anggapnya sangat penting untuk mengetahui siapa pelaku yang sengaja membuat Dinda jatuh dari tangga. Dengan teliti, Anton menonton rekaman CCTV yang sudah di siapkan oleh Dimas.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Dimas memandangi Anton.


"Tapi kayaknya aku gak yakin kalau dia pelakunya!" jawab Anton meragukan apa yang telah dia lihat.


Dimas menghela nafasnya, lalu ia menyandarkan kepalanya di sofa sambil melihat ke langit-langit ruangan. Dia sendiri tidak yakin dengan apa yang di lihatnya di rekaman CCTV, tetapi semua bukti tertuju kepada orang yang ia curigai.


Begitupun dengan Anton, ia masih ragu jika menuduh orang begitu saja. Apalagi, di waktu kejadian, CCTV sudah tidak beroperasi. Ia masih yakin jika pelakunya adalah Rizal, karena dia orang satu-satunya yang ada di tempat kejadian.


"Terus, apa kata detektif yang kamu sewa?" tanya Anton menghela nafas.


"Emang dia pelakunya! Siapa lagi kalau bukan dia. Yang bisa kontrol CCTV di lantai sembilan ya kamu, Loren dan ketua team. Aku juga ragu, tapi rekaman CCTV menunjukkan bahwa dia pelakunya!" jawab Dimas dengan yakin.


Ketika mereka sibuk membicarakan rekaman CCTV, tiba-tiba Loren masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Lalu, Anton segera menutup laptopnya dan menyapa Loren. Sedangkan Dimas, memilih untuk keluar dari ruangan. Memberi waktu untuk mereka berdua berbicara.


Loren duduk di samping Anton, lalu ia mengatakan bela sungkawa atas meninggalnya bayi yang di kandung Dinda. Ia tampak sedih dan tidak menyangka jika Dinda bisa jatuh dari tangga darurat. Tangannya meraih tangan Anton dan memberinya semangat agar tidak larut dalam kesedihannya.


"Loren, apakah kamu masih mencintaiku, walaupun kamu tahu kalau Dinda mengandung anakku?" tanya Anton sambil menatap wajah Loren.


"Tentu saja aku masih mencintaimu, walaupun aku sempat benci sama kalian dan anak yang di kandung Dinda. Tapi setelah aku pikir-pikir, Dinda hamil bukan atas kemauan kalian, tapi paksaan dari nenek, jadi aku melupakan rasa sakit hatiku dan memaafkan kalian." jawab Loren dengan harapan Anton juga masih mencintainya.


Anton mengerutkan dahinya, ia heran dengan jawaban yang Loren lontarkan. Bagaimana bisa, Loren bisa memaafkannya semudah itu. Anton memang mengenal Loren yang berkepribadian baik, tetapi Loren sangat pencemburu, hak itu membuat Anton tak yakin jika Loren tidak membenci Dinda ataupun dirinya.

__ADS_1


"Tetapi, cintaku untukmu sudah tidak ada lagi. Semenjak aku tahu Dinda hamil, perlahan aku membuka hatiku untuknya dan aku jatuh begitu dalam di hatinya." tutur Anton yang ingin melihat reaksi Loren.


"Aku tahu, aku juga menyadari hal itu. Kamu tahu, saat itu hatiku sangat sakit sekali. Rasanya aku ingin membalas dendam atas apa yang kalian lakukan kepadaku, tapi aku sadar, jika cinta tak harus memiliki." sahut Loren dengan tatapan kosong.


"Tapi aku masih belum merelakan mu bersama Dinda. Sekarang Dinda sudah tidak hamil, aku berharap cintamu kembali untukku." imbuh Loren menoleh ke arah Anton.


Begitupun dengan Anton, ia juga menoleh ke arah Loren. Dia menatap Loren dengan penuh curiga. Kemudian Anton membuka laptopnya dan menunjukkan rekaman CCTV pada Loren. Dia menyuruh Loren untuk menonton rekaman CCTV TV sampai selesai.


"Apa menurutmu tentang rekaman itu?" tanya Anton penuh curiga.


"Bagaimana bisa CCTV tidak berfungsi dua jam sebelum Dinda terjatuh dari tangga? Padahal yang bisa mengakses CCTV di lantai sembilan hanya aku, kamu, ketua team." imbuh Anton menuturkan.


Loren terdiam sejenak, seperti orang yang sedang berfikir. Mungkin dia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan dari Anton.


Kring Kring Kring


Baru saja Anton ingin memberi pertanyaan kepada Loren, tetapi ponselnya berdering. Panggilan dari Inah. Ia pun mengangkat panggilan itu dan Inah menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit, karena Dinda teriak kesakitan. Dengan segera Anton menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya.


"Aku mau ke rumah sakit, kamu urus pekerjaanku." pamit Anton keluar dengan buru-buru.


"Tapi....." kata Loren yang tak sempat selesai berbicara dan Anton sudah keluar dari ruangan.


Loren pun mendengus kesal, dia tidak tahu harus berekspresi. Entah dia harus senang atau sedih atas meninggalnya janin yang di kandung Dinda. Yang jelas ia merasa sedikit senang. Karena janin Dinda sudah meninggal, setidaknya dia masih ada kesempatan untuk merebut hati Anton.


Sedangkan Anton yang baru sampai di lobby pun melihat Dimas yang sedang di duduk di sofa sambil meminum kopi. Dia menghampirinya dan mengajak Dimas untuk pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Dim, kami ikut aku pergi ke rumah sakit!" ajak Anton buru-buru.


"Memangnya kenapa?" tanya Dimas yang langsung beranjak dari duduknya.


"Kata Mbak Inah, Kepala Dinda sakit dan sekarang dia teriak-teriak kesakitan." jawab Anton menjelaskan sambil berjalan.


Anton melemparkan kunci mobilnya kepada Dimas, lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Dengan segera Dimas menyalakan mesin mobil dan melakukannya ke arah rumah sakit dengan kecepatan sedang. Karena menurut Anton terlalu lambat, akhirnya Dimas menambah kecepatan lajunya.


Di sepanjang jalan Anton tak bisa berhenti memikirkan siapa pelaku yang sebenarnya. Sekarang ia mencurigai Loren dan Rizal, tetapi jika Rizal pelakunya, bagaimana bisa tahu jika CCTV sedang tidak berfungsi. Sedangkan Loren sudah jelas-jelas tahu kode untuk membuka CCTV. Hal itu benar-benar membuat Anton pusing.


Sesampainya Anton di parkiran rumah sakit, dia dan Dimas segera berlari menuju ke ruangannya Dinda. Dengan nafas yang memburu, Anton membuka pintu kamar di mana Dinda di rawat. Di lihatnya Dinda yang sudah tertidur lelap dan seorang suster mengecek selang infusnya.


"Kenap dengan Dinda sus?" tanya Anton menghampiri Dinda.


"Sepertinya pasien mencoba mengingat ingatannya yang ia lupa. Karena benturan keras di kepalanya, jadi ada beberapa kejadian yang ia lupakan. Tapi bapak tidak perlu khawatir, tadi Dokter sudah memberi obat kepada pasien." jawab suster jaga sambil menulis laporannya.


Dinda tertidur lelap karena dokter memberinya obat penenang dan juga penahan rasa sakit. Kemudian sang suster berpamitan untuk keluar. Anton terduduk lemas di samping Dinda, ia tidak tega melihat Dinda yang sudah menderita. Kehilangan janinnya dan sekarang merasakan sakit di kepalanya.


Inah yang tadinya duduk di sofa, ia pun beranjak dan berjalan menghampiri Anton. Ia menceritakan kepada Anton, penyebab rasa sakit kepala yang di alami Dinda barusan.


"Tadi non Dinda mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia terjatuh, karena dia tidak mau jika den Anton menyalahkan Rizal. Non Dinda yakin kalau Rizal tidak akan tega mencelakainya. Dan non Dinda yakin jika ia jatuh hanya kecelakaan atas ketidak hati-hatiannya." kata Inah memberitahu.


Dengan posisi duduk di kursi, Anton menundukkan kepalanya dan meremas rambutnya. Pertanda jika saat itu ia sedang stress dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di sisi lain dia ingin mencari pelakunya, tapi di sisi lain Dinda bersikukuh bahwa dia jatuh karena kecelakaan biasa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2