Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton Lembur, Dinda kedatangan tamu


__ADS_3

Loren menatap mereka berdua dengan penuh curiga. Terlebih, Dinda terlihat habis menangis, hal itu membuat Loren mengerutkan dahinya. Dengan penuh rasa penasaran, Loren pun masuk kedalam pantry dan membuat kopi instan kesukaannya.


"Kamu darimana saja? Dari tadi aku mencari mu," tanya Dinda tersenyum.


"Aku baru dari toilet. Ngomong-ngomong, kenapa kamu mencari ku?" tanya Loren balik.


"Aku merasa bosan, jadi kalau ada kerjaan, kamu bisa berikan kepadaku," jawab Dinda sambil melirik kearah Rizal.


Karena kopi yang diminum Rizal sudah habis, ia pun keluar dari pantry tanpa berkata apa-apa. Dinda dan Loren pun ikut keluar. Mereka berdua mengobrol tentang pekerjaan yang akan Dinda kerjakan.


Dari tempat kerjanya, Rizal memperhatikan Dinda tanpa mengedipkan matanya. Sesekali ia tersenyum sinis, mengingat apa yang baru saja ia lakukan kepada Dinda di pantry. Ia mengusap bibirnya dan tatapan matanya tak terlepas dari Dinda.


"Okay, aku akan mengerjakan ini semua!" kata Dinda beranjak dari duduknya.


"Jika ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa tanyakan langsung kepadaku," Loren memberitahu.


Dinda berjalan masuk kedalam ruangannya Anton. Sambil membuka-buka file yang ada ditangannya. Lalu ia Dinda duduk di depannya Anton. Sepertinya Anton tidak menyadari kedatangannya Dinda, karena dia sibuk dengan laptopnya.


Sementara di luar ruangan, Loren beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Rizal yang saat itu sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan bolpoin di tangannya.


"Apa yang kamu lakukan kepada Dinda?" tanya Loren dengan nada kesal.


"Tidak ada urusannya denganmu!" jawab Rizal mengacuhkan Loren.


"Kamu orang satu-satunya yang menyuruhku untuk melupakan Anton dan sekarang apa yang kamu lakukan kepada Dinda, pecundang!" kata Loren meninggalkan Rizal.


Tampaknya Rizal tidak menyukai perkataan Loren yang mengatakan bahwa dirinya pecundang. Kali ini Rizal memilih diam dan membiarkan Loren begitu saja. Karena hari itu, ia benar-benar tidak ingin berantem dengannya.


Antara marah dan cemburu menyatu jadi satu. Loren kemudian membuka rekaman CCTV dari komputernya. Ia menonton rekaman itu dan dilihatnya Rizal sedang mencium Dinda dengan agresif di pantry. Hal itu membuatnya tambah marah. Karena takut Anton melihat rekaman itu, Loren pun menghapusnya.


"Dasar Playboy! Sudah mencium ku tanpa ijin, sekarang mencium istri orang tanpa malu! Benar-benar pecundang!" gumam Loren sambil melihat tajam kearah Rizal.

__ADS_1


"Kenapa sih Din, kamu selalu berada ditengah-tengah kebahagiaanku!" imbuhnya dalam hari.


*****


"Sayang, dari tadi kamu lihatin laptop terus apa gak capek?" tanya Dinda yang mulai bosan.


"Maaf sayang, hari ini aku harus menyelesaikan proyek dengan perusahaan X. Jadi maafkan Kakak, kalau Kakak mengacuhkan mu," jawab Anton tanpa menoleh ke arah Dinda.


"Iya, tapi ini makanannya di makan dulu, kalau sudah dingin nanti gak enak!" rengek Dinda.


Mendengar rengekan Dinda, Anton pun menutup laptopnya dan menghampiri Dinda yang saat itu sedang duduk di sofa. Anton pun duduk disebelahnya dan mengambil makanannya yang dipesankan oleh Dinda beberapa menit yang lalu.


"Memangnya pekerjaan yang diberikan Loren sudah selesai?" tanya Anton sambil memakan makanannya.


"Sudah selesai dari tadi," jawab Dinda sambil memanyunkan bibirnya.


Ketika mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan Rizal masuk kedalam ruangan membawa berkas untuk Anton tandatangani. Seperti sengaja, Anton pun menyuapi Dinda di depan Rizal.


"Saya taruh sini," kata Rizal yang mau meninggalkan ruangan.


Rizal pun duduk menunggu Anton selesai makan. Sesekali Rizal melirik kearah Dinda, begitupun dengan Dinda. Ia masih kesal dengan kejadian yang terjadi di pantry tadi siang. Dinda tidak marah dengan Rizal, tetapi ia hanya kesal.


Setelah makanannya habis, kemudian Anton menghampiri Rizal. Ia membuka berkas dan mulai menandatangani satu per satu. Walaupun umur Rizal paling muda di perusahaan, tetapi dia paling berpengaruh dalam perkembangan perusahaan.


"Hari ini kamu bisa lembur?" tanya Anton memandangi Rizal.


"Tidak, aku tidak bisa lembur. Ada banyak hal yang harus aku lakukan!" jawab Rizal dengan tegas.


"Okay, kalau begitu kasih tahu Loren untuk lembur hari ini!" suruh Anton.


Rizal pergi begitu saja, setelah berkasnya ditandatangani oleh Anton. Memang dia terlihat tidak sopan, tetapi Anton sendiri tidak mau menegurnya, karena Rizal cukup loyal pada perusahaannya.

__ADS_1


*****


Waktunya pulang kerja,


"Sayang! Maaf ya, hari ini aku lembur nih! Banyak pekerjaanku yang belum selesai," kata Anton sambil memeluk Dinda.


"Kira-kira, Kakak pulangnya jam berapa?" tanya Dinda yang sudah mulai bosen di kantor.


"Paling lambat jam sembilan. Karena ini urgent, aku gak bisa kerjain di rumah, tolong maafin Kakak ya!" jawab Anton yang semakin erat memeluk Dinda.


Tak lama kemudian, Loren pun masuk kedalam ruangan sambil membawa beberapa berkas. Loren juga memberitahu, siapa-siapa saja yang hari itu lembur. Karena tidak hanya Anton yang lembur, Dinda pun berpamitan kepada sang suami untuk pulang lebih dulu.


Dinda berencana untuk memasak makanan kesukaan Anton, karena sudah lama dia tidak masak untuk sang suami.


"Kalau begitu, aku pulang dulu naik taksi online ya! Aku mau masak makan malam buat kamu," Dinda berpamitan.


"Gak boleh, biar asisten aku saja yang antar kamu pulang!" sahut Anton sambil mengecup kening Dinda.


Hari itu Anton benar-benar sibuk, karena perusahaannya baru menerima kerjasama dengan perusahaan besar lainnya. Sehingga, ia membiarkan Dinda untuk pulang lebih dulu. Dia tahu, kalau saat itu Dinda sudah mulai bosan. Jadi, ia membiarkan Dinda melakukan hal yang ingin dia lakukan.


Dengan diantar oleh asistennya Anton, Dinda pun sampai juga di rumah. Ia membuka pintu gerbang rumahnya. Lalu ia segera berganti baju dan mulai memasak, makanan yang disukai sang suami. Dengan penuh semangat, Dinda bernyanyi-nyanyi kecil sambil memasak.


"Akhirnya, makanan kesukaan suamiku selesai juga! Waktunya untuk meneleponnya!" kata Dinda sambil berlari mengambil ponselnya.


"Menyenangkan sekali bisa masak buat suami," Dinda meraih ponselnya yang ia taruh di meja makan.


Belum sempat ia memencet nomernya Anton, tiba-tiba terdengar suara bell pintu berbunyi. Tanpa melihat dulu siapa yang datang, Dinda pun langsung membukakan pintu untuk orang yang memencet bell tersebut. Karena ia pikir yang datang adalah Anton, sang suami.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Dinda sedikit takut.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku kesini, yang jelas aku ingin menghabiskan waktu denganmu!" jawabnya dengan santai.

__ADS_1


Dinda yang merasa ketakutan pun langsung menutup pintunya, tetapi belum sampai pintu tertutup, orang itu sudah menahan pintunya. Orang itu lebih kuat dari Dinda dan dengan sekali dorong, pintu pun terbuka dengan sempurna. Dan orang itupun masuk kedalam rumah Dinda.


Bersambung...


__ADS_2