Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Over protective


__ADS_3

"Kenapa sih Kakak gak pernah ngerti perasaanku? Aku tahu, Kakak khawatir dengan ku tapi gak seharusnya Kakak melarang ku melakukan ini dan itu. Aku bukan anak kecil yang gak bisa menjaga diriku sendiri!" keluh Dinda dengan kesal.


"Maafin Kakak Din! Kakak gak mau terjadi apa-apa denganmu dan calon bayi kita," ujar Anton yang merasa khawatir.


"Khawatirnya Kakak itu terlalu berlebihan, hal itu membuatku gak nyaman Kak!" sahut Dinda yang mulai marah.


Pagi itu Dinda ingin pergi ke butik, karena ada pelanggan yang ingin memesan gamis dengan desainnya. Tetapi Anton melarangnya, karena perut Dinda mulai membesar dan dia ingin Dinda hanya diam di rumah saja tanpa melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa lelah. Bagi Dinda, rasa khawatir sang suami terlalu berlebihan, sehingga membuatnya tidak nyaman. Apalagi dia sekarang memiliki asisten yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi, inginnya Anton tak perlu khawatir lagi.


Karena Dinda terus memprotesnya, akhirnya Anton pun terpaksa mengantar Dinda pergi ke butiknya. Ingin rasanya Anton marah dengan Dinda, karena dia tidak pernah mendengarkannya, tetapi jika ia marah, Dinda malah semakin menjadi. Maka dari itu, Anton memilih untuk mengalah demi kedamaian mereka berdua.


"Jangan capek-capek dan jangan telat makan, minum susu dan vitaminnya!" ujar Anton menghawatirkan Dinda.


"Iya iya sayang, hati-hati dijalan ya!" sahut Dinda tersenyum puas.


"Mbak Sri, jaga Dinda baik-baik ok! Ingatkan dia untuk makan, kalau dia capek suruh istirahat," suruh Anton kepada asistennya Dinda.


"Baik Den, jangan khawatir! Sri siap menjalankan tugas dari Anda!" kata Sri dengan yakin.


Setelah Dinda masuk kedalam butik, Anton segera melajukan mobilnya pergi ke kantor. Dengan perasaannya yang khawatir, Anton tak berhenti mendoakan Dinda, agar dia dan bayinya selalu dalam keadaan sehat. Rasa khawatir yang berlebihan itu dikarenakan, Anton pernah kehilangan calon buah hatinya, maka dari itu, ia sangat protektif sekali terhadap Dinda.


Sesampainya Anton di kantor, ia langsung masuk kedalam ruangannya dan menyalakan laptopnya. Bukan untuk bekerja, melainkan melihat apa yang dilakukan sang istri di butik. Dia diam-diam memasang CCTV di butik tanpa sepengetahuan Dinda. CCTV yang super kecil, sehingga tidak ada orang yang menyadari jika disudut ruangan atas dipasang CCTV. Sampai tahap itulah rasa khawatir yang dirasakan Anton.


Tok Tok Tok


"Masuk!" suruh Anton.


Ceklek!

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Anton tanpa memalingkan tatapannya dari laptop.


"Nanti siang ada meeting dengan perusahaan Z dan ini materinya," jawab Loren sambil menyodorkan berkas di meja.


"Siang ini aku gak bisa meeting, kamu saja yang menanganinya!" kata Anton serius.


Loren nampaknya semakin kesal dengan sikap Anton yang tidak bertanggungjawab. Karena sudah sebulan lebih dia jarang masuk kerja dan semua pekerjaannya dilimpahkan semua kepadanya. Selain itu, pertemuan penting dengan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengannya pun sering ia lewatkan. Hal itu memicu terjadinya ketidak harmonisan dalam bekerja sama.


Semua itu dikarenakan dirinya yang begitu khawatir dengan Dinda. Kalau Dinda tak keberatan, dia ingin sekali melewatkan waktu bersama sang istri seharian sampai Dinda melahirkan. Sehingga ia bisa menjaga dan mengontrol setiap apa yang dilakukan dan yang dimakan oleh Dinda. Tetapi, karena Dinda memprotesnya, jadi Anton tidak bisa melakukan sesuai dengan keinginannya.


"Hari ini pokoknya kamu harus pergi meeting! Kalau tidak, jangan salahkan aku jika perusahaan Z memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan kita!" kata Loren dengan nada agak tinggi.


"Ok ok! Aku akan pergi meeting, puas!" sahut Anton dengan nada kesal.


"Kenapa kamu jadi marah sama aku? Situ gak pergi juga gak apa-apa, perusahaan juga milik kamu, terserah kamu mau ngapain! Repot amat!" kata Loren keluar dari ruangannya Anton.


Setelah ibunya sembuh dari operasi, Rizal kembali bekerja di perusahaan. Ia merasa berhutang budi dengan Anton, sehingga Rizal menerima permintaan dari Anton untuk kembali bekerja di perusahaannya. Selain itu, Rizal hanya menerima gaji 70%, sedangkan 30% ia gunakan untuk mencicil hutangnya dengan Anton. Sebenarnya, Anton tidak memintanya untuk mengembalikan uang untuk mengoperasi ibunya, tetapi karena Rizal tidak mau berhutang budi, maka dari itu, ia lebih memilih mengembalikan uang Anton dengan mencicilnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rizal menghampiri Loren.


"Kesel aku sama Anton! Semenjak Dinda hamil, dia jadi paranoid gitu. Semua pekerjaan dilimpahkan sama aku, sampai aku gak punya waktu buat libur," jawab Loren mengeluh.


"Nanti kalau proyek yang aku tangani selesai, aku bantuin kamu deh! Jangan cemberut gitu dong, jelek tau!" kata Rizal becanda.


Karena Rizal sebulan terakhir ini memang sedang menangani proyek dengan perusahaan X, jadi dia jarang berada di kantor, ia lebih banyak bekerja di perusahaan X. Baginya hal itu tidak masalah, karena dengan begitu, gajinya bisa dua kali lipat dan mendapat bonus ketika proyek sudah selesai.


*****

__ADS_1


"Maaf, bisa saya bantu. Anda ingin mencari baju model apa?" tanya Dinda pada seorang laki-laki yang baru masuk kedalam butiknya.


"Aku mau mencari gamis buat Mama ku," jawab laki-laki itu sambil memilih-milih gamis.


"Sebelah sini, biasanya Ibu-ibu lebih suka model seperti ini," kata Dinda memberitahu.


Tiba-tiba laki-laki itu terdiam menoleh kearah Dinda dan menatapnya penuh protes. Dinda yang mendapat tatapan itu pun balik menatapnya. Dinda mengira jika dirinya melakukan kesalahan, jadi dia agak membungkukkan kepalanya untuk meminta maaf. Dan laki-laki itu tersenyum kecil melihat Dinda bersikap seperti itu. Kemudian orang itu melihat-lihat gamis yang lainnya.


"Biasanya wanita Ibu-ibu suka yang model seperti ini Kak," kata Dinda sambil mengambilkan beberapa gamis yang ia desain sendiri.


"Kamu pikir Mama ku sudah tua?" tanya laki-laki itu yang terlihat kesal.


"Hah! Maksud saya cuma memberitahu, bukan menganggap Mama Anda tua," jawab Dinda dengan gugup.


Laki-laki itu terdiam dan mengambil beberapa gamis yang menurutnya cocok dengan selera sang ibu. Sementara Dinda memilih pergi ke kasir untuk menghindari jika laki-laki itu tersinggung dengan ucapannya. Dinda hanya ingin membantunya, karena dia pikir pelanggannya seorang laki-laki dan ingin merekomendasikan beberapa gamis yang mungkin sesuai dengan yang dia cari. Tak disangkanya, laki-laki itu malah mengira jika Dinda menganggap ibunya sudah tua.


Siang itu, para karyawannya sedang pergi untuk makan siang, begitupun dengan Siti. Sehingga, hanya ada Dinda seorang yang menjaga butiknya.


"Maaf tadi aku bersikap angkuh, karena aku tidak terima jika Mama ku dianggap tua," kata laki-laki itu sambil meletakkan beberapa baju gamis di meja kasir.


"Oh, tidak apa-apa! Saya yang minta maaf jika sudah menyinggung perasaan Anda," sahut Dinda tersenyum manis.


"Kelihatannya kamu masih muda, berapa usiamu?" tanya laki-laki itu.


"Saya umur 20 tahun," jawab Dinda singkat.


Setelah selesai membayar gamis yang ia beli, laki-laki itu pun langsung pergi. Bisa menjual dagangannya sendiri, Dinda pun tampak tersenyum puas. Ia merasa kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Apalagi sekarang ia semakin jago dalam mendesain gamisnya sendiri, Dinda pun semakin bersemangat dalam bekerja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2