
Dinda merasa perutnya semakin membuncit dan sudah dua bulan ia belum juga datang bulan. Ia pun iseng mampir ke apotek untuk membeli tes kehamilan. Sebenarnya tidak ada harapan baginya untuk hamil. Karena dia berfikir perutnya membuncit karena akhir-akhir ini dia terlalu banyak makan.
"Maaf Kak, bisa saya bantu?" tanya karyawan di apotek.
"Aku mau beli tes kehamilan, beri aku tiga dari merk yang berbeda ya Mbak," sahutnya tersenyum ramah.
"Ini Kak, totalnya Rp 180.000 ya Kak!" kata penjaga kasir.
Dinda kemudian membayar tes kehamilan itu dan segera keluar dari apotek yang jaraknya tidak jauh dari butiknya. Dilihatnya mobil Anton yang sudah terparkir di depan butiknya dan Dinda pun segera menghampirinya.
"Kamu dari mana saja Din?" tanya Anton khawatir.
"Tadi aku ke apotek sebentar, beli ini," jawabnya sambil memperhatikan botol minuman pada Anton.
"Beli minuman kok di apotek, padahal ada minimarket. Ya sudah, ayo pulang!" ajak Anton membukakan pintu untuk Dinda.
Dinda sengaja tidak memberitahu Anton jika dirinya membeli tes kehamilan. Ia tidak mau melihat Anton heboh, karena belum tentu dia hamil. Karena Anton sangat sensitif jika berhubungan tentang kehamilan, seperti yang Dinda tahu, jika sang suami ingin sekali memiliki momongan.
Sesampainya Dinda di rumah, ia mengeluarkan daging dari kulkas. Lalu ia naik ke atas untuk mengganti pakaiannya. Tiba-tiba ia teringat dengan tes kehamilan yang baru saja ia beli. Lalu Dinda mengambil satu dan mulai meneteskan urine ke tespek tersebut. Dengan sabar Dinda menunggu hasilnya dan betapa terkejutnya Dinda ketika melihat dua garis merah pada tespek tersebut.
"Dinda, kamu ngapain di kamar mandi lama amat?" tanya Anton mengetuk pintu.
"Sebentar!" sahutnya yang langsung membereskan tespek itu dan memasukkannya di kantong bajunya.
Jantung Dinda masih berdegup kencang. Antara percaya dan tidak, tetapi setahunya jika ingin lebih akurat dalam pengecekan kehamilan dengan tespek, sebaiknya dilakukan ketika bangun tidur. Ia pun berencana akan melakukan pengecekan dengan tes kehamilan sekali lagi.
"Ada apa Kak?" tanya Dinda yang terlihat gugup.
"Gak ada apa-apa, soalnya kamu lama banget di kamar mandi tanpa suara," jawab Anton dengan memainkan ponselnya.
"Ya sudah, aku masak dulu ya," kata Dinda yang langsung keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Dinda masih gugup, dia tidak bisa berkonsentrasi memasak. Pikirannya masih memikirkan hasil dari tespek yang menunjukkan dua garis merah, yang artinya dia hamil. Dia tidak ingin memberitahu Anton terlebih dahulu tentang hasil tespek nya, sebelum dokter mengatakan jika dia hamil. Karena dia tidak bisa berkonsentrasi, ia pun hanya memasak satu jenis makanan.
"Dinda, kamu sebenarnya kenapa, dari tadi kelihatan gugup gitu?" tanya Anton menuruni anak tangga.
"Aku gak kenapa-kenapa! Kakak saja berlebihan lihatnya," jawab Dinda sambil menaruh makanan di meja makan.
"Tumben masaknya cuma satu macam," ujar Anton yang langsung duduk di kursi meja makan.
Dinda tidak menanggapi perkataan Anton. Pikirannya blank tidak bisa berpikir apapun. Ia dengan segera mengambilkan nasi untuk Anton dan mereka berdua mulai makan. Selama mereka makan, Dinda hanya diam dengan tatapan kosong. Hal itu membuat Anton merasa heran.
*****
Fajar sebelum Adzan berkumandang, Dinda lebih dulu bangun dan mengambil alat tes kehamilan dari dalam tasnya. Lalu ia masuk kedalam kamar mandi untuk menggunakan alat tes kehamilan tersebut dan dengan cemas ia menunggu sampai ada hasilnya. Dilihatnya dua garis merah pada tespek tersebut.
"Sayang, jam berapa kok kamu sudah bangun?" tanya Anton yang terbangun karena Dinda terlalu keras menutup pintu kamar mandi.
"Maaf Kak, sudah membuatmu terbangun. Kakak tidur lagi, belum waktunya salat Subuh," jawab Dinda menyuruh Anton tidur lagi.
Mereka kemudian menunaikan salat Tahajjud bersama dan juga salat Subuh ketika Adzan berkumandang. Setelah selesai salat, Dinda kemudian turun kebawah untuk menyimpan sarapan buat Anton, sementara Anton pergi mandi.
"Kak, nanti Kakak sibuk gak?' tanya Dinda sambil memasak.
"Memangnya kenapa?" tanya Anton balik.
"Kalau gak sibuk, temani aku ke Dokter kandungan ya!" ajak Dinda.
Tentu saja Anton akan meluangkan waktunya untuk mengantar Dinda, walaupun dia sangat sibuk. Karena memang sudah lama dia ingin mengajak Dinda untuk berkonsultasi tentang program kehamilan buang mereka rencanakan. Dengan semangat Anton langsung memeluk Dinda dari belakang dan menciuminya.
Betapa senang dan semangatnya Anton, ketika Dinda mengajaknya pergi ke dokter. Setidaknya, Dinda mau berusaha untuk melakukan program kehamilan. Angan-angannya sudah dipenuhi dengan bayangan seorang bayi mungil yang lucu. Bahkan, ketika Anton sedang sarapan, bibirnya tersenyum tanpa henti.
"Sayang, ayo cepetan berangkat, sudah jam delapan nih!" panggil Anton tidak sabar.
__ADS_1
"Iya, iya! Semangat amat ya!" sahut Dinda menuruni anak tangga.
"Kan janjiannya ketemu Dokter jam delapan, lha sekarang jam delapan kita masih di rumah!" ujar Anton membawakan tasnya Dinda.
Beruntung, jarak klinik dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Tetapi, ketika mereka sampai klinik, pasien nomer dua sudah lebih dulu masuk, karena mereka sudah telat. Terpaksa, mereka mengantri diurutan kedua. Dengan gelisah Dinda memainkan tangan Anton dan sesekali ia melihat pintu ruangan sang dokter yang tak kunjung terbuka.
Sesaat setelah pasien keluar dari ruangan, seorang suster memanggil nama Dinda. Sontak saja, Anton langsung membantu Dinda untuk berdiri dan berjalan masuk kedalam ruangan dokter.
"Nyonya Dinda kenapa tidak datang di appointment kemarin?" tanya dokter sembari menulis sesuatu.
"Kemarin lagi malas Dok," jawab Dinda jujur.
Setelah selesai mengecek tekanan darah dan juga menimbang berat badan. Dinda kemudian berkonsultasi dengan dokter dengan apa yang ia alami.
"Dok! Saya sudah dua kali melakukan tes kehamilan dengan tespek dan hasilnya positif dan sudah dua bulan aku tidak datang bulan, apa kemungkinan saya hamil ya Dok?" tanya Dinda dengan serius.
"What! Kamu tidak pernah cerita sama aku, tentang hal itu," protes Anton yang terkejut.
"Aku gak cerita sama Kakak, karena Kakak orangnya heboh!" ujar Dinda melirik kearah suaminya.
Dokter pun tersenyum melihat mereka berdua berargumen. Apalagi melihat ekspresi Anton yang terkejut campur senang, hal itu semakin membuat sang dokter tidak bisa menahan tawanya.
"Ok ok! Kalian berargumen di rumah saja ya! Kalau memang Nyonya Dinda sudah melakukan tes kehamilan sampai dua kali dan hasilnya positif, kemungkinan besar Nyonya Dinda hamil. Tetapi, sekarang kita lakukan pemeriksaan USG dulu, untuk memastikan Nyonya Dinda hamil atau tidak," ucap dokter.
Dinda pun akhirnya menjalani pemeriksaan USG dan Anton dengan setiap menemani Dinda. Sungguh bahagianya Anton saat itu, ketika dokter mengatakan bahwa Dinda sudah hamil delapan Minggu. Dinda menangis bahagia melihat embrio yang tumbuh didalam rahimnya. Begitupun dengan Anton yang juga menangis bahagia atas kehamilan sang istri.
"Selamat untuk kalian berdua, yang sebentar lagi akan menjadi orangtua," kata dokter memberi selamat.
"Terima kasih, Dok!" sahut Anton yang masih menangis bahagia.
Sebelumnya, dokter mengatakan jika Dinda sulit untuk hamil lagi, hingga membuat Dinda sedikit putus asa. Tetapi, disaat Dinda sudah berhenti berharap, Allah memberinya kehamilan yang tak ia sangka. Mereka berdua pun sangat bersyukur atas karunia-Nya dan akhirnya Anton bisa menikmati hasil dari kesabarannya.
__ADS_1
Bersambung...