Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton dan Loren bernostalgia


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?" tanya Anton yang baru selesai makan siang.


"Seperti awalnya, mereka berasumsi bahwa dari rekaman CCTV terlihat kalau Loren yang melakukannya, tapi tidak ada bukti yang pasti kalau Loren benar-benar mencelakai Dinda. Sepertinya hal ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan kebetulan ada kesempatan, jadi pelaku sudah lebih dulu menyingkirkan barang bukti!" jawab Dimas menjelaskan.


Huh!


Anton membuang nafasnya dengan kasar. Ia yakin kalau ada seseorang dibalik jatuhnya Dinda. Tetapi dua kali ia menyewa detektif, tetapi kedua kalinya gagal mencari dalangnya. Secerdas apa pelakunya, hingga para detektif kelas atas tak mampu mengungkap kejahatan yang hanya berada dilingkup kantor.


"Bagaimana dengan gerak-gerik Lisa, dua jam sebelum kejadian?" tanya Anton yang mencurigai Lisa sejak kemarin.


"Detektif sudah melihat semua karyawan, dua jam sebelum CCTV tak berfungsi dan mereka tidak menemukan kecurigaan sama sekali, kecuali sama Loren," jawab Dimas menjelaskan.


"Awalnya aku juga curiga sama Loren, tapi sepertinya bukan dia pelakunya!" ujar Anton memberantakkan rambutnya.


Dimas menyarankan Anton untuk menyelesaikan masalah perusahaan terlebih dahulu, karena perusahaannya di ambang kebangkrutan. Lagipula Dimas sudah melaporkan Lisa ke polisi, beserta barang bukti. Hanya tinggal menunggu waktu, polisi datang dan menjemput Lisa untuk dibawa ke kantor polisi dan memenjarakannya.


Di dalam keputusasaan, Anton mulai pasrah. Ia tidak mau larut dalam keterpurukan, tidak dianggap sebagai suami dan juga kehilangan calon bayinya. Kini ia sedang dihadapkan dengan masalah baru, yaitu perusahaannya yang mulai bangkrut.


"Ok! Kita selesaikan dulu masalah perusahaan!" tuturnya dengan nada rendah.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kita serahkan semua masalah ini kepada Sang Pencipta!" sahut Dimas menyemangati Anton.


*****


waktunya pulang kerja,


Anton menyuruh Dimas untuk pulang lebih dulu, karena dia ada janji untuk makan malam dengan Loren. Lagipula Anton mulai lelah dengan sikap Dinda terhadapnya, jadi ia berencana untuk pulang telat mengindari bertemu dengan sang istri.


"Kamu jadi mentraktirku makan?" tanya Loren yang tidak yakin.


"Jadi lah! Tapi kita naik taksi Online, karena mobilku dibawa Dimas," jawab Anton yang baru keluar dari ruangannya.


Senyum Loren melebar, ia terlihat sedang dengan ajakan dari Anton. Memang dia sudah lama merindukan masa-masa berdua dengan Anton. Kemudian mereka berdua keluar dari area kantor dan menaiki taksi yang mereka pesan melalui online.


"Kamu yakin, mau mengajakku ke restoran yang biasanya?" tanya Loren yang masih tak percaya.


"Kenapa bawel mu gak ilang-ilang sih!" Anton mencubit pipi Loren dengan gemas.


"Ih.. sakit tau!" protes Loren sambil mengelus pipinya.

__ADS_1


Dari tatapannya tak bisa bohong, jika Loren benar-benar bahagia mendapat perlakuan dari Anton seperti dulu lagi. Kenangan-kenangan dimasa pacaran terlintas dibenaknya. Sehingga senyumnya begitu lebar dan Anton pun menyadari senyuman itu.


"Jangan senyum-senyum terus, gigimu kering tuh!" ledek Anton kepada Loren.


"Apa sih! Habisnya sikapmu mengingatkan waktu kita pacaran," Loren tertawa kecil.


Sesampainya mereka di restoran, Anton langsung menyuruh Loren memesan makanan yang ia sukai. Loren yang tidak mau menyia-nyiakan waktunya dengan Anton pun, segera memesan makanan. Karena ia berencana, setelah makan malam, Loren mau mengajak Anton menonton di bioskop.


*****


Dimas baru saja sampai di rumahnya Anton. Ia langsung pergi ke kamarnya dan mandi. Kemudian, ia keluar dari kamar untuk menyantap makan malamnya yang sudah di siapkan oleh Inah.


"Mas, Den Anton belum pulang?" tanya Inah sambil mengambilkan nasi untuk Dimas.


"Belum! Dia ada janji sama Loren," jawab Dimas duduk di kursi meja makan.


"Dekat lagi sama Loren, nanti kayak dulu lagi!" imbuh simbok yang juga sedang duduk.


Saat itu Dinda menuruni anak tangga, ia mendengar semua percakapan mereka. Melihat Anton belum pulang membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia diam-diam berjalan menuju kemeja makan.


"Loren itu siapa?" tanya Dinda yang sudah duduk.


"Dia dulu pacarannya Anton!" jawab Dimas keceplosan, dengan spontan Dimas menutup mulutnya.


Dinda hanya manggut-manggut mengerti dengan ucapannya Inah. Sedangkan Dimas dan Inah saling bertatapan. Mereka khawatir jika Dinda marah jika tahu Anton dan Loren pernah berpacaran.


Setelah mereka selesai makan malam, Dinda kembali ke kamarnya. Simbok juga pergi ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Dimas membantu Inah membersihkan meja makan dan mencuci piring.


"Inah, kamu sudah bilang ke Simbok belum, kalau aku akan segera melamar mu?" tanya Dimas.


"Belum Mas, nanti saja kalau kamu memang sudah benar-benar akan melamar ku," jawab Inah yang masih meragukan kesungguhan Dimas.


"Kamu masih ragu ya sama aku? Minggu depan aku janji akan melamar mu," ujar Dimas meyakinkan Inah.


Inah hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Senang, tapi masih dibayang-bayangi latar belakang keluarganya Dimas yang kaya raya. Sedangkan dirinya hanyalah anak seorang asisten rumah tangga yang tidak punya cukup materi.


Suara Adzan berkumandang, Inah pun menyuruh Dimas untuk segera pergi ke Masjid. Lalu Dimas segera mengambil perlengkapan untuk Salat dan segera pergi ke Masjid.


"Siapa Loren sebenarnya?" tanya Dinda pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena penasaran, Dinda pun mencari-cari nama Loren di sosial media yang berteman dengan Anton. Tak menunggu lama, Dinda pun menemukan profil Loren di sosial media. Dia membuka album yang disimpan oleh Loren.


Betapa terkejutnya Dinda ketika melihat foto Anton bersama Loren sedang bermesraan. Ia yakin kalau Anton dan Loren memang punya hubungan spesial.


"Oh... ternyata mereka pacaran, pasti sekarang mereka sedang berdua-duaan!" gumam Dinda.


*****


Sudah jam sepuluh malam, Anton tak kunjung pulang. Dinda mulai gelisah, tak tenang. Dia sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri, seharusnya dia senang jika Anton bersama Loren, jadi dia bisa bersama Rizal. Tapi entah alasan apa, keterlambatan Anton pulang membuat Dinda sedikit kesal.


Ceklek!


Anton baru saja pulang, lalu ia membuka baju kerjanya dan menaruhnya di ranjang kotor. Sedangkan Dinda berpura-pura sudah tidur. Lalu Anton masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan ganti baju. Dinda pun mengambil ponselnya di atas nakas untuk mengecek jam.


"Kamu belum tidur?" tanya Anton yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


"Sudah! Kebangun gara-gara kamu brisik!" Jawab Dinda sedikit ketus.


"Oh maaf! Lanjutkan tidurmu, aku gak akan menimbulkan kebisingan!" suruh Anton.


Sepertinya Anton sedikit cuek dengan Dinda. Kemudian Anton duduk di kursi kerjanya dan membuka laptopnya.


Kring Kring Kring...


Ponselnya Anton berbunyi dan Anton segera mengangkat panggilan itu. Ternyata panggilan itu dari Loren, Dinda yang tak bisa tidur pun mendengarkan percakapan mereka.


"Berisik tau!" protes Dinda dengan nada kesal.


"Maaf, karena ada hal penting!" sahut Anton yang langsung mematikan panggilannya.


"Penting apaan! Janjian kencan lagi juga!" gumam Dinda dengan kesal.


Anton yang sedikit mendengar perkataan Dinda pun segera menoleh ke arah Dinda. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Dinda.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Anton heran.


"Gak ada! Cepetan tidur, jangan brisik terus!" jawab Dinda dengan ketus.


Karena Anton tidak mau mengganggu Dinda lagi, Ia pun segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang sebelah Dinda dengan posisi membelakanginya. Dinda yang masih bisa tidur pun menarik semua selimut, sehingga Anton tidak kebagian selimut.

__ADS_1


Anton tak menghiraukan apa yang dilakukan Dinda. Bahkan ia terlihat tak peduli, karena merasa capek, Anton pun segera memejamkan matanya dan tertidur pulas.


Bersambung....


__ADS_2