
Seperti yang di sarankan Anton, hari itu Dimas pulang ke rumah orangtuanya. Ia akan membicarakan dengan orangtuanya, jika dirinya sudah ingin menikah. Sedangkan Anton mengurus perusahaannya sendiri, dengan dibantu oleh Loren.
"Bagaimana keadaan Dinda, Ant?" tanya Loren.
"Alhamdulillah, dia sudah mendingan. Sakit kepalanya juga sudah jarang," jawab Anton sambil menanda tangani berkas-berkas.
"Syukurlah, berarti Dilla sudah ingat kalau kamu suaminya?" tanya Loren ingin tahu.
"Sebenarnya dia belum ingat semua, tapi Alhamdulillah dia sudah menerima aku sebagai suaminya," jawab Anton tersenyum.
Loren ikut senang mendengar perkembangan Dilla yang membaik. Ia pun keluar dari ruangan ketika berkas-berkas yang ia bawa sudah ditandatangani oleh Anton. Loren sudah melepas Anton sepenuhnya, berharap kelak ia akan menemukan orang yang tepat untuknya.
Baginya, saat ini Loren sedang menikmati kesendiriannya. Sepulang kerja ia sering main keluar dengan teman-temannya dan mengisi waktunya dengan melakukan hal-hal yang ia suka.
"Kamu kenapa minum obat lagi?" tanya Loren pada Rizal yang melihat Rizal memasukkan obat kedalam mulutnya.
"Bukan urusanmu!" jawab Rizal dengan ketus.
"Kamu sekarang kenapa sih! Lihat penampilanmu, sudah kayak anak nakal tau!" kata Loren gondok hati.
Memang banyak perubahan pada diri Rizal. Dari segi penampilan dan juga karakter. Rizal lebih banyak diam dan berpenampilan cool. Mungkin karena keadaan yang membuatnya berubah seperti itu. Image sebagai laki-laki polos sudah tak terlihat dari dirinya.
Bisa dibilang, perubahan Rizal ada kaitannya dengan suasana hatinya yang selalu dikecewakan oleh Dinda. Kini dia memilih untuk melepaskan Dinda dan menjalani hidupnya dengan karakter barunya. Diumur yang sudah 20 tahun, ia sedang mencari jati dirinya.
"Malam ini Pak Anton mengundang kita makan malam!" Loren memberitahu Anton.
"Cuma makan malam, Ibuku juga bisa masak buat aku!" celetuk Rizal dengan angkuh.
"Setidaknya kita menghargai orang lain. Terserah, kamu mau datang apa enggak, bodo amat!" sahut Loren yang tak kalah dingin.
Entah kenapa Rizal juga bersikap Dingin dan tak sopan terhadap Loren. Padahal, sebelumnya mereka cukup dekat seperti kakak dan adik. Mungkin Rizal akan bersikap seperti itu dengan semua orang atau mungkin hanya kepada orang yang ia kenal saja.
*****
Kring Kring Kring
__ADS_1
Suara ponselnya Anton berdering. Dia yang sedang sibuk langsung mengangkat panggilan itu, karena nama Dinda tertera dalam layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, sayang..." Anton mengangkat ponselnya.
"Walaikumsalam, kakak cepetan pulang! Ada orang yang mengirim bangkai ke rumah!" Dinda menyuruh Anton pulang dengan ketakutannya.
"Ok, ok! Kakak akan segera pulang, kamu jangan takut!" kata Anton yang sedikit terkejut.
Anton yang sedang banyak kerjaan pun langsung memanggil Loren dan Rizal. Dia menyuruh Loren untuk membantunya mengerjakan semua pekerjaannya. Kemudian Anton berpamitan kepada Loren, kalau dia akan pulang.
Beruntung, Anton memiliki karyawan seperti mereka. Selain kecerdasan mereka berdua, Loren juga yang paling Loyal dalam bekerja. Jadi, Anton tidak begitu khawatir meninggalkan perusahaan.
"Sayang! Dinda, kamu dimana?" Anton memanggil Dinda.
"Dia ada dikamar Inah Den!" sahut simbok yang saat itu sedang menyiapkan makan siang.
Anton langsung pergi ke kamarnya Inah dan melihat Dinda yang sedang ketakutan dipeluk Inah. Melihat Anton datang, Dinda pun langsung beranjak dan memeluknya. Dinda menangis, karena dia sangat takut.
"Bangkainya sudah dibuang?" tanya Anton pada Inah.
Kemudian Anton naik keatas dan mengecek bangkai apa yang dikirimkan. Perlahan Anton membuka pintu kamarnya dan dilihatnya sebuah kotak tergeletak di lantai. Dia segera membukanya dan tercium bau busuk. Selain itu banyak belatung yang memakan bangkai tersebut.
Beruntung, Dinda menutup kembali kotak tersebut, sehingga belatung-belatung itu tak keluar dari tempatnya. Lalu, Anton mengambil gambar dari kotak tersebut untuk barang bukti nanti jika dibutuhkan. Sayangnya, tidak ada nama pengirim.
"Tadi yang ngirim barang itu ojek online atau Pak pos Mbak?" tanya Anton yang membakar kotak tersebut.
"Yang ngirim Pak Gojek Den!" jawab Inah.
"Ok Mbak, terima kasih ya kamu sudah jagain Dinda," kata Anton.
Sepertinya memang ada orang yang sedang meneror dia dan Dinda. Kali ini Anton tidak mau kecolongan lagi. Bagi Anton, hal itu benar-benar masalah serius. Dia tidak bisa mendiamkan hal itu berlarut-larut, karena dia khawatir jika Dinda mengalami trauma lagi.
Dengan segera, Anton menghubungi orang-orang handal yang disewa Dimas sebelumnya. Selain itu, Anton akan menemui pemilik mobil yang menabrak mobilnya tempo hari. Karena sebenarnya, pemilik mobil tersebut adalah rekan bisnisnya yang sangat dekat dengannya.
"Den, Non, sebaiknya kalian makan dulu?" suruh simbok yang sudah selesai menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Aku gak mau makan! Keinget bangkai yang tadi!" kata Dinda yang masih ketakutan.
"Gak boleh begitu dong sayang! Bangkainya sudah kakak bakar dan sekarang kamu makan dulu, soalnya kan harus minum obat!" Anton merayu Dinda agar mau makan.
Akhirnya dengan rayuan mautnya, Dinda pun mau makan. Walaupun hanya makan sedikit, yang penting Dinda bisa minum obat.
Setelah selesai makan siang, Anton menyuruh Inah untuk membersihkan kamarnya. Karena dia khawatir jika ada belatung yang keluar dari kotak. Inah mengganti sprei dan Anton membersihkan lantai dengan mesin pembersih. Anton juga mengeluarkan barang-barang yang tidak dibutuhkan di dalam kamar.
"Yakin sudah bersih?" tanya Dinda yang masih ragu masuk kedalam kamar.
"Sudah aku bersihkan semuanya sayang, kamu jangan takut!" jawab Anton sambil menyemprotkan pewangi ruangan di setiap sudut.
"Ih... jangan banyak-banyak!" protes Dinda yang merasa bau pewangi ruangan itu sangat menyengat.
Untuk merilekskan Dinda yang masih takut, Anton pun menyuruh Dinda untuk istirahat siang. Tetapi, karena Dinda masih ketakutan, jadi Anton menemaninya sampai Dinda tidur.
Namanya laki-laki normal, setiap dekat dengan sang istri pasti ingin lebih dari sekedar berpelukan. Tapi tak masalah, toh mereka sudah halal jadi tidak ada larangan bagi mereka untuk melakukan hubungan yang lebih hangat.
"Kakak, pelan-pelan! Bajuku robek nih!" protes Dinda karena mendapat serangan dari sang suami.
"Ini juga pelan, makanya bantuin buka bajunya!" sahut Anton yang masih sibuk membuka kancing bajunya Dinda.
Mungkin dengan cara melakukan hubungan suami-istri, dapat menetralkan pikiran. Karena memang melakukan hubungan suami-istri istri dapat menghilangkan rasa stress.
Selesai melakukan hal itu, seperti biasanya, mereka langsung mandi berdua. Dengan begitu, Dinda melupakan kejadian yang tadi. Ia lebih rileks, rasa takut dan khawatir menghilang dari benaknya.
"Sini aku bantuin mengeringkan rambutmu!" kata Anton menyuruh Dinda duduk di depan meja rias.
"Tak terasa rambutku sudah panjang banget, aku mau potong segini ah!" Dinda menandai dengan tangannya.
"Tidak boleh! Wanita itu bagusnya berambut panjang, apalagi kalau pakai jilbab hmm bakal cantik banget deh!" ujar Anton melarang Dinda memotong rambutnya.
Setelah rambutnya kering, Anton menyuruh Dinda untuk tidur siang. Sedangkan dirinya membuka laptopnya dan membuka email yang dikirimkan oleh Loren.
Bersambung...
__ADS_1