
Setelah selesai membayar semua administrasinya dan juga menebus obat yang diresepkan boleh dokter. Anton langsung mengajak Dinda pulang ke rumah dengan menggunakan Taksi Online. Dinda sangat senang, karena sebentar lagi akan bertemu dengan sang nenek, pikirannya.
Senyumnya tak berhenti mengembang ketika ia sedang didalam mobil. Rasa cintanya terhadap sang nenek begitu besar, karena nenek adalah ibu pengganti baginya. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Dinda keluar dari mobil dengan dibantu oleh Anton.
"Non Dinda, akhirnya Non Dinda pulang juga!" sapa Inah di gerbang pintu masuk.
"Mbak Inah, nenek di mana?" tanya Dinda yang sedang berjalan menuju pintu utama.
Deg!
Inah tidak tahu harus menjawab apa, ia pun menoleh kearah Anton, tetapi Anton sepertinya tidak mau menjawab pertanyaannya Dinda.
"Nenek........" panggil Dinda kepada sang nenek sesaat ia masuk kedalam rumah.
"Non Dinda......" sahut simbok memeluk Dinda dengan erat.
Dinda terdiam sejenak, ia tidak begitu ingat dengan wajah sang nenek tapi dia ingat dengan bentuk badan nenek yang ramping. Yang membuat Dinda tambah kebingungan, karena nenek terlihat jauh lebih muda. Dalam kebingungannya, Dinda membalas pelukannya simbok.
"Nenek kok gak jenguk aku di rumah sakit?" tanya Dinda dengan manja.
"Maaf Non....." sahut simbok mencoba menjelaskan, tetapi di stop oleh Inah.
Inah memberi isyarat kepada ibunya, agar berpura-pura menjadi nenek. Karena di keadaan Dinda yang sekarang, tidak memungkinkan jika memberitahunya kalau nenek sudah meninggal. Inah juga menyuruh simbok memanggil Dinda 'sayang' bukan 'non' untuk kedepannya.
Anton pun menyetujui idenya Inah. Bukan berniat untuk membohongi Dinda, tapi mereka lakukan demi kesehatan Dinda yang kata dokter tidak boleh membuat Dinda stress.
"Sayang, kamu lapar tidak? Nenek dan Inah sudah masakin buat kamu." tanya simbok memperlihatkan makanan kesukaan Dinda di atas meja makan.
"Kenapa ayam goreng, aku pengenya daging kambing!" protes Dinda merengek.
Ternyata lupa ingatan membuat Dinda jadi lupa makanan kesukaannya. Ia lebih memilih makanan yang biasanya ia tidak suka.
"Sekarang adanya ini, kita makan ini dulu. Nanti kakak belikan kamu sate kambing untuk makan malam," rayu Anton tersenyum pada Dinda.
"Non Dinda mau makan apa saja bilang ke Inah ya, nanti Inah masakin ok!" imbuh Inah bersemangat.
__ADS_1
Merasa diperlakukan spesial, Dinda pun merasa senang. Dan mereka semua pun makan siang bersama. Setelah makan siang, Anton mengajak Dinda naik keatas. Dia berencana untuk memandikan Dinda yang sudah berminggu-minggu tidak mandi. Lagi pula Dinda sudah selesai nifas.
"Kamu duduk disini dulu ya, kakak siapkan air hangat!" suruh Anton yang masuk ke kamar mandi.
Dinda berjalan melihat-lihat isi kamar. Dia tidak melihat satu pun foto pernikahan di dinding atau dimeja nakas. Hal itu membuatnya mengerutkan dahinya dan kecewa diwaktu bersamaan.
"Kamu kenapa Din, kok cemberut gitu?" tanya Anton yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kok gak ada foto pernikahan kita yang dipajang di dinding atau meja?" tanya Dinda cemberut.
"Karena kakak gak suka ada foto didinding. Ayo kita mandi dulu!" jawab Anton mengajak Dinda mandi.
Dinda nurut seperti anak kecil. Anton membantu dia membukakan bajunya, tetapi Dinda menolak. Ada rasa malu jika ia telanjang didepan laki-laki, karena ia masih merasa kalau dirinya masih perawan.
"Aku mandi sendiri saja! Aku malu dilihatin," rengek Dinda menutup dadanya dengan tangan.
"Kenapa malu, aku ini suamimu Din!" Anton mengingatkannya.
Sebelum berendam di bathtub, Anton terlebih dahulu mengajarinya mandi besar. Dinda benar-benar merasa malu, hingga ia tidak berani membuka matanya. Karena Dinda memejamkan matanya, ia tidak tahu kalau Anton sudah tidak menggunakan baju satupun di badannya.
"Arrrgh... kenapa kamu ikut disini?" teriak Dinda bertanya.
"Karena aku suamimu, kita sudah terbiasa mandi seperti ini," jawab Anton memberitahu.
"Tapi kamu gak boleh telanjang seperti ini, ini sangat memalukan!" protes Dinda sambil mendorong tubuh Anton untuk menjauh darinya.
Anton yang sangat merindukan Dinda tidak mau menjauh darinya, ia malah menempelkan badannya dengan Dinda. Perlahan kekuatan Dinda menurun dan disinilah Anton mulai mencium bibir Dinda dengan lembut. Tidak ada perlawanan lagi, mereka berdua sama-sama menikmati ciuman mesra di bathtub.
Puas saling berciuman bibir, Anton pun mulai menggosok badan Dinda. Mereka bisa melihat badan mereka masing-masing yang tanpa busana. Masih ada rasa malu, tapi Dinda tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menikmati setiap sentuhan tangan Anton yang membersihkan badannya.
"Ayo kita ganti baju!" ajak Anton dan menyuruh Dinda untuk keluar dari bathtub.
"Dingin banget!" keluh Dinda yang kedinginan.
Anton langsung melilitkan handuk pada tubuh Dinda dan ia juga melilitkan handuk pada dirinya sendiri. Lalu Anton membopongnya keluar dari kamar. Dengan telaten, Anton mengeringkan rambut Dinda yang basah. Setelah selesai mengeringkan rambut, mereka memakai baju tidur.
__ADS_1
Siang itu karena sudah waktunya Salat, Anton pun mengajari Dinda untuk Salat. Bersyukur Dinda tidak lupa gerakan atau bacaan Salat. Kemudian, setelah selesai Salat, mereka berdua tidur siang di atas ranjang berdua.
*****
Di sore hari,
"Mbak Inah, aku ingin makan martabak manis!" pinta Dinda yang sedang menuruni anak tangga.
"Baik Non, aku belikan martabaknya ya!" sahut Inah yang saat itu sibuk di dapur.
"Aku belikan lewat aplikasi Online saja Mbak, biar kamu gak capek-capek keluar," Tutur Anton yang duduk di sofa ruang tamu.
Sambil menunggu martabak datang, Dinda ngerecohin Inah di dapur dan mengganggunya. Lalu Dinda memeluk simbok dari belakang. Ia melarang simbok memasak dan menyuruhnya duduk saja sama Anton. Lalu Dinda membantu Inah, tetapi bukannya membantu, Dinda malah mengganggu Inah. Untung saja Inah sabar.
TingTong TingTong
"Biar aku saja Mbak yang buka!" kata Anton yang ia pikir pesanan martabaknya datang.
Ternyata bukan martabak, orang-orang kantor datang menjenguk Dinda. Dimas, Loren, Rizal dan ketua team yang datang. Anton pun mempersilahkan mereka masuk.
Dinda yang melihat mereka datang, tiba-tiba di syok dan menunjuk ketua team dengan jari telunjuknya. Kepalanya mulai sakit dan dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Dinda kamu kenapa?" Anton teriak menghampiri Dinda, begitupun mereka.
"Dia orangnya....." Dinda menangis sambil menahan rasa sakit.
Mereka semua merasa bingung karena Dinda menunjuk-nunjuk ketua team. Karena sakit yang teramat, Dinda pun tidak sadarkan diri. Lalu dengan rasa khawatir yang teramat, Anton menelepon dokter untuk datang kerumah memeriksa Dinda. Sedangkan ketua team tampak gugup, ia pun berpamitan pulang.
"Aku pulang dulu ya, suamiku menelepon, katanya anakku rewel," pamit ketua team dengan kegugupannya.
"Oh, ya sudah kalau gitu Mbak, hati-hati ya!" sahut Loren.
Sementara Anton menidurkan Dinda di kamar sang nenek. Anton dan Rizal tampak khawatir, sedangkan yang lainnya hanya bisa berdiri sambil melipatkan tangan mereka di dada. Dalam diam Dimas berfikir, karena dia merasa aneh dengan sikap Lisa. Apalagi, ketika Dinda menunjuk-nunjuknya. Dimas berfikir, jika ada sesuatu yang diingat Dinda tentang kejadian yang membuatnya trauma.
Tak lama kemudian, dokter pun datang dan memeriksa Dinda.
__ADS_1
Bersambung....