
Dinda pun sudah sadar, dia melihat sekeliling ruangan dan ia mencari-cari orang yang membuatnya merasa takut. Orang yang dimaksud Dinda adalah ketua team, Lisa. Entah ada hubungan apa dengan rasa takutnya dengan ketua team. Yang jelas dokter mengatakan bahwa Dinda teringat sesuatu yang menyakitkan dimasa lalunya.
Semua orang yang berada didalam kamar saling bertatapan satu sama lain. Mereka heran, masa lalu yang menyakitkan apa yang terjadi antara Dinda dan Lisa? Karena, setahu mereka, ketua team tidak begitu dekat dengan Dinda, bahkan jarang sekali mereka berinteraksi.
"Kalau begitu saya pamit dulu, jangan lupa diminumkan obat yang dari Rumah Sakit," pamit sang dokter.
"Baik Dok, Terima kasih!" sahut Anton yang mengantar dokter sampai ke pintu keluar.
Dinda beranjak dari ranjang, ia berjalan mendekati Rizal dan memeluknya dengan erat. Rizal pun membalas pelukan itu, meluapkan rasa rindunya. Melihat mereka berdua berpelukan, Anton pun murka dan menghampiri mereka berdua. Menyuruh Rizal untuk melepaskan pelukannya.
"Dinda, kamu kan baru saja sadar, kamu harus banyak-banyak istirahat dulu!" suruh Anton, karena kata dokter, Dinda harus banyak-banyak istirahat.
"Kita keluar dulu, biarin Dinda istirahat ya!" ajak Dimas kepada Loren dan Rizal.
"Tapi aku lagi ingin bersama Rizal," rengek Dinda yang tidak mau dipisahkan dari Rizal.
Setelah Rizal memberi penjelasan kepada Dinda, akhirnya Dinda membiarkan Rizal keluar dari kamar. Pada saat itu Anton mencoba untuk menguasai dirinya agar tidak marah, tapi melihat orang yang dicintainya berpelukan dengan laki-laki lain, membuat Anton kesal, marah, kecewa bercampur jadi satu.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Karena Inah sedang menemani Dinda di kamar, Anton pun pergi kedapur untuk membuatkan minuman untuk mereka.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Loren yang menghampiri Anton di dapur.
"Gak perlu, terima kasih. Kamu duduk saja," sahut Anton menolak bantuannya Loren.
"Gak apa-apa, biar aku yang bawa kesana!" Loren merebut nampan dari tangan Anton.
Anton hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Tidak ada yang berubah dari Loren, masih sama seperti yang dulu. Keras kepala, tapi perhatian. Ia tersenyum karena teringat masa-masa dulu ketika Loren yang keras kepala tidak mendengarkannya. Selalu ingin melakukan sesuatu untuk membantu Anton.
"Kira-kira Dinda kenapa ketakutan melihat Lisa?" tanya Dimas.
"Aku yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Dinda dan ketua team, sebelum Dinda jatuh dari tangga," jawab Rizal sambil melipatkan tangannya.
"Aku setuju sama Rizal, karena ketua team juga terlihat ketakutan saat Dinda menunjukkannya! " timpal Loren dengan serius.
__ADS_1
Mereka berempat berunding dengan serius. Karena penasaran, Anton pun berencana akan turun tangan sendiri untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan perusahaannya dan Lisa. Jika dibiarkan berlarut-larut, perusahaannya akan semakin rugi dan berakhir dengan kebangkrutan.
Setelah saling berunding, mereka pun membuat strategi untuk mencari tahu, apakah Lisa adalah orang dibalik jatuhnya Dinda. Selain itu, mereka sudah mengumpulkan semua barang bukti kalau Lisa menyalahgunakan uang perusahaan dan membocorkan rahasia perusahaan kepada lawan perusahaan.
"Kita pamit pulang dulu ya!" kata Loren.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Anton.
"Aku pulang sama Rizal, nanti dia antar aku pulang kerumah kok!" jawab Loren.
Mereka berdua pulang, Anton masuk kedalam kamar. Dilihatnya Dinda sedang mengobrol dengan Inah. Karena Anton masuk ke kamar, Inah pun berpamitan untuk keluar meneruskan aktivitasnya memasak. Ketika Inah keluar dari kamar, Dimas masih duduk di sofa sambil melamun.
Inah mencoba untuk tidak menganggapnya ada, sepertinya Inah masih kesal dengan kejadian di lift kemarin. Dimas yang menyadari keberadaan Inah, ia pun langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Inah yang sedang sibuk di dapur.
"Inah, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Dimas yang menatap Inah dengan raut wajah iba.
"Aku gak marah! Cepetan mandi, sebentar lagi waktunya salat Maghrib!" jawab Inah dengan nada dingin.
Mendengar jawaban Inah yang dingin, membuat Dimas menjadi lesu. Ia berjalan menaiki anak tangga, dia masuk ke kamarnya Dinda. Lalu Dimas mandi dan berencana untuk pulang kerumah kontrakannya. Setelah selesai mandi, Dimas membawa tasnya dan menuruni anak tangga.
"Aku mau pulang ke kontrakan, Dinda sudah pulang, gak enak aku tidur disini," jawab Dimas.
"Kan ada kamar kosong! Kamu tidur di kamarnya Dinda saja, kan Dinda tidur sama aku! Pokonya kamu gak boleh pulang," Anton pun mengambil tas yang dibawa oleh Dimas dan menaruhnya di kamar Dinda.
Inah hanya melirik kearah Dimas, dia tidak berani mengatakan apa-apa. Ada rasa bersalah, karena sudah bersikap dingin terhadap Dimas. Mungkin karena sikapnya, sehingga membuat Dimas ingin pergi dari rumahnya Anton.
Suara Adzan berkumandang, Anton mengajak Dimas pergi ke Masjid untuk salat berjamaah. Sementara Dinda tertidur dan Inah selesai masak. Inah menghampiri simbok dan mengajaknya untuk salat.
*****
"Dinda, ayo makan dulu!" Anton mengajak Dinda yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dinda mengucek matanya.
__ADS_1
"Sudah hampir jam delapan, semua sudah nungguin kamu," jawab Anton sambil membantu Dinda turun dari ranjang.
Sebelum makan malam, Dinda pergi ke kamar mandi. Anton mengambilkan nasi untuk Dinda. Sedangkan Dimas, Inah dan simbok mulai memakan makanan mereka. Karena biasanya, mereka makan malam sebelum Maghrib atau sesudahnya.
Ketika Dinda datang dan duduk di kursi meja makan, Anton mulai meladeninya dengan sabar. Dinda makan dengan lahap, karena malam itu ia sangat lapar.
"Kalian istirahat saja, biar nanti aku yang beresin!" kata Anton kepada Inah.
"Tapi Den, banyak piring kotor," sahut Inah.
"Gak apa-apa, cuma nyuci piring mah gampang!" ujar Anton tersenyum.
Karena Anton masih ingin berduaan dengan Dinda, makanya dia menyuruh mereka semua untuk istirahat. Dinda masih menikmati makanannya, jadi Anton tak mau mengganggunya. Memang malam itu Dinda makan lebih banyak, daripada biasanya.
Dimas menarik tangan Inah, ia ingin memperbaiki kesalahannya. Tetapi Inah menolak untuk berbicara, ia memilih pergi ke kamar dengan simbok.
"Inah, aku ingin bicara sebentar!" kata Dimas.
"Besok saja, aku capek!" sahut Inah menolak.
"Kalau ada masalah dibicarakan, jangan dihindari. Sana diselesaikan dulu!" timpal simbok yang mendengar perkataan mereka berdua.
Akhirnya, Inah pun pergi untuk berbicara dengan Dimas. Mereka berdua memilih keluar dari rumah dan berjalan kaki memutari perumahan. Di bawah remang-remang lampu, Dimas menggandeng tangan Inah. Kali ini Inah tidak menolak, ia hanya diam dan membiarkan Dimas menggandeng tangannya.
"Inah, Minggu depan aku akan melamar mu," kata Dimas dengan serius.
Langkah Inah terhenti, mereka saling pandang. Inah sangat senang mendengar ucapan Dimas yang akan segera melamarnya. Tapi, ada hal yang membuat Inah khawatir, yaitu keluarganya Dimas. Apakah mereka menyetujui hubungan anaknya dengan Inah?
"Tapi Mas, apakah kamu sudah membicarakannya dengan orangtuamu?" tanya Inah.
"Kamu tidak perlu memikirkan orangtuaku, pasti mereka menyetujui hubungan kita!" jawab Dimas dengan yakin.
Dimas yakin dengan perkataannya, karena dia punya jurus jitu untuk menaklukkan hati orangtuanya. Kemudian mereka berdua makan es krim dan duduk di taman sambil mengobrol.
__ADS_1
Semakin mereka banyak mengobrol, semakin tahu karakter mereka masing-masing. Setidaknya, Dimas sedikit lega karena Inah sudah tidak jutek lagi kepadanya.
Bersambung...