
Sikapnya tak seperti semalam, Anton bersikap dingin ketika di depan Inah dan Simbok. Dinda pun di buatnya bingung, padahal semalam Anton memeluknya, menciumnya dan juga mendengarkan suara detak jantung janin yang ada di perutnya.
Tetapi pagi ini, Anton sama sekali tak mengajaknya berbicara atau sekedar menatapnya. Berkali-kali Dinda melirik ke arahnya, ketika mereka sedang menyantap sarapan. Tapi Anton hanya berkonsentrasi melahap makanannya sendok demi sendok.
"Aku sudah buat appointment sama Dokter klinik, nanti jam 10 aku jemput kamu!" Kata Anton sambil beranjak dari duduknya.
"Iya kak!" Sahut Dinda singkat.
Sambil menunggu kedatangannya Dimas, Anton kemudian duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran. Sedangkan Dinda masih duduk di kursi meja makan, menikmati makanan yang di masak oleh Simbok.
Inah yang juga sedang sarapan pun menyuruh Dinda untuk tidak terlalu banyak makan. Karena, ketika Dinda banyak makan, biasanya dia bermasalah sama pencernaan. Apalagi Dinda makan sama sambal yang cukup pedas.
"Makannya sudah Non! Jangan banyak-banyak, nanti kayak kemarin, perutnya sakit." Suruh Inah.
"Habisnya masakan Simbok enak banget!" Sahutnya yang tak berhenti memasukan ayam goreng ke mulutnya.
Tin!
Suara klakson mobil.
Anton yang mendengar suara klakson pun langsung melipat koran yang ia baca, kemudian tanpa berpamitan kepada Dinda, ia pun keluar dari rumah. Inah pun buru-buru mengejarnya, karena tas kerjanya ketinggalan.
"Den Anton, ini tasnya!" Teriak Inah sambil menenteng tas kerjanya Anton.
"Terima Kasih Mbak, kelupaan!" Ucap Anton.
Dimas yang melihat keberadaan Inah pun langsung menyapanya. Sontak saja Inah terkejut, ketika ia melihat Dimas duduk di jok supir menurunkan kaca jendela. Inah membalas sapaannya dan tersenyum lebar, karena merasa senang bisa melihat Dimas sang pujaan hati.
Setelah Anton pergi bekerja, Dinda kemudian duduk di ayunan belakang rumah sambil berjemur. Tempat yang biasanya sang nenek berjemur setelah sarapan pagi. Walaupun rumah kontrakannya asri, tapi ia merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya sang kakak. Di tambah, banyaknya kenangan-kenangan bersama sang nenek, hal itu menambah rasa nyamannya.
__ADS_1
*****
Dinda baru saja selesai mandi dan berganti baju. Lalu ia keluar dari kamarnya sambil membawa buku kehamilannya. Baru saja ia turun, Dinda mendengar suara klakson mobil. Dinda pun langsung keluar dari rumahnya. Di lihatnya mobil sang kakak sudah berada di depan gerbang.
Setelah berpamitan kepada Inah dan Simbok, Dinda pun keluar dari pintu gerbang. Lalu ia membuka pintu mobil, di lihatnya Dimas yang duduk di kursi supir. Lalu ia menoleh ke belakang, di lihatnya sang kakak dan Loren yang saling bersandar satu sama lain.
"Kak Dimas, kak Loren, apa kabar?" Sapa Dinda yang merasa Canggung.
"Kabar baik, makin cantik saja kamu Din." Sahut Dimas memuji.
Kemudian Dimas melajukan mobilnya, sementara Anton dan Loren mulai bercanda, sesekali terdengar Loren tertawa kegelian karena Anton menggelitiknya. Dinda bisa melihat mereka dengan jelas melalui spion dalam mobil. Ada perasaan aneh ketika melihat Anton dan Loren bermesraan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di klinik. Dinda turun dari mobil dengan di bantu oleh Dimas. Sedangkan Anton dan Loren turun dari mobil secara bersamaan. Seperti tak mau di pisahkan, mereka berdua pun saling bergandengan tangan.
Bahkan di dalam klinik, ketika sedang menunggu. Anton dan Loren tak henti-hentinya memperlihatkan kemesraan mereka. Sedangkan Dinda dan Dimas duduk bersebelahan, sesekali mereka mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan karena menunggu giliran untuk di panggil.
"Nyonya Dinda Kirana!" Panggil seorang suster.
Kebetulan pagi itu tidak terlalu banyak orang yang berkunjung ke klinik, jadi Dinda tidak terlalu canggung. Kemudian Anton dan Dinda memasuki ruangan Dokter. Sebelum di periksa, Dokter memberikan pertanyaan kepada Dinda seputar kehamilannya. Setelah selesai, Dokter menyuruh Dinda untuk berbaring di ranjang pasien.
Ketika Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG, Anton berdiri di samping Dinda. Melihat janin yang berukuran 14cm, membuat Anton tidak sabar untuk menantikan kelahirannya. Apalagi setelah ia tahu, jika janin yang ia di kandung Dinda berkelamin perempuan. Anton pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Di ciumannya punggung tangan Dinda dan bibirnya tak berhenti mengucapkan kata-kata syukur. Dinda yang melihat ekspresi sang kakak pun ikut tersenyum, entah ia harus senang atau sedih. Dinda tidak tahu apa yang harus ia jelaskan kepada sang anak kelak, jika dia dan sang kakak bercerai.
"Bayi Anda sehat. Tapi berat badannya kurang dan berat badan Ibu juga kurang. Usahakan jangan banyak berfikir yang bisa memicu stres. Karena sangat berpengaruh dengan tumbuh kembang janin." Kata Dokter menjelaskan.
"Suami juga jangan buat istri stress ya! Sebisa mungkin harus bisa membuat istri nyaman. Jika untuk melakukan hubungan suami istri, di anjurkan seminggu dua kali, maksimal tiga kali. Karena berhubungan intim bermanfaat buat Ibu hamil." Imbuh Dokter.
Dinda dan Anton saling bertatapan, seakan-akan tidak menyetujui dengan perkataan Dokter. Tetapi ia seorang Dokter dan lebih tahu mana yang terbaik untuk kehamilannya. Jika ingin melihat janinnya tumbuh kembang dengan baik, mereka harus mendengarkan apa kata Dokter.
__ADS_1
Setelah selesai semua, Dinda dan Anton keluar dari ruangan. Loren menyambut Anton dengan kemesraan, seperti tidak memperdulikan keberadaan Dinda dan orang di sekitarnya. Kemudian mereka pergi ke administrasi dan menebus vitamin yang di berikan oleh dokter.
Karena jarak kantor dan klinik cukup dekat, Anton pun mengajak Dinda untuk pulang ke kantor. Lagian di kantor ada ruang untuk istirahat, jadi Dinda bisa istirahat di sana. Kalaupun Dinda pulang ke rumah juga tidak melakukan apa-apa.
"Kita pulang ke kantor saja Dim!" Suruh Anton yang saat itu sudah duduk di jok belakang dengan Loren.
"Antar pulang Dinda dulu lah! Kasihan Dinda, pasti dia capek." Sahut Loren.
"Kan di kantor ada tempat istirahat, lagian di rumah dia gak ngapa-ngapain!" Kata Anton.
Dinda hanya bisa diam mendengar Anton dan Loren berargumen. Terlihat jelas mereka berdua lengket bak kumbang dan bunga. Hal itu benar-benar membuat perasaan Dinda tidak baik. Terlebih Loren yang suka nyosor tak kenal tempat.
Sesampainya mereka di kantor, Dinda turun dari mobil, begitupun dengan mereka. Kebetulan saat itu, waktunya makan siang. Anton berniat untuk mengajak Dinda makan, tapi ia mengurungkan niatnya. Karena ia pikir, makanan di kantin tidak mencukupi kebutuhan Ibu hamil.
Anton menyuruh Dimas dan Loren untuk makan di kantin, sedangkan dirinya dan Dinda naik ke atas menuju ruangannya. Sebelum masuk ke dalam ruangan, mereka bertemu dengan Rizal. Dinda tidak menyapa, dia hanya menunduk dan berpura-pura tidak melihat Rizal.
"Apa hubunganmu dengan Rizal lagi gak baik?" Tanya Anton sejenak setelah masuk ruangannya.
"Yah... seperti yang kakak lihat!" Jawab Dinda sambil menghela nafas.
Dinda pun duduk di sofa dan mengangkat kakinya di atas sofa, karena ia merasa kakinya mudah lelah. Sedangkan Anton memesan makanan melalui aplikasi online. Memesan makanan yang sekiranya baik untuk Ibu hamil.
Kemudian Anton menghampiri Dinda, ia duduk di sebelahnya. Lalu ia mengambil photo hasil USG Dinda. Mulutnya tersenyum lebar, perasaannya tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Yang jelas saat itu, dia merasakan bahagia. Tak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Sayang, kamu gak makan dulu?" Tanya Loren yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Aku sudah pesan makanan tadi. Dimas kemana?" Jawab Anton berbalik bertanya.
"Biasalah, habis makan ya ngerokok dia!" Jawab Loren yang duduk di sebelah Anton.
__ADS_1
Sungguh, perasaannya tidak baik-baik saja ketika melihat sang kakak bermesraan dengan Loren. Apalagi Loren tak henti-hentinya bermanjaan dengan sang kakak di depan matanya. Dinda pun memilih untuk pergi ke ruang istirahat, sepertinya dia sudah tak sanggup lagi melihat mereka berduaan bermesraan.
Bersambung...