
Setelah meeting selesai, Anton buru-buru pulang kembali ke kantornya. Ia masuk kedalam ruangannya dan langsung membuka laptopnya. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan sang istri selama ia meeting. Sungguh terkejutnya Anton saat dia memutar rekaman CCTV dan hanya melihat Dinda sendirian didalam butik.
Matanya memerah, giginya saling beradu dan jarinya mengepal dengan erat. Pertanda bahwa dia sedang marah. Melihat sang istri begitu akrab dengan pelanggannya, terlebih saat itu hanya ada Dinda didalam butik. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada sang istri atau laki-laki itu mencelakainya. Pikirannya mulai tak jelas dan ia pun berteriak untuk melepas emosinya.
"Kamu kemana saja Sri!" kata Anton gregetan.
"Dan siapa laki-laki itu? Berani-beraninya dia bersikap seperti itu kepada istriku! Ini gak bisa dibiarkan!" gerutu Anton yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Dengan segera ia menutup laptopnya dan keluar dari dalam ruangannya. Kebetulan saat itu Loren ingin masuk kedalam ruangannya, tetapi Anton sama sekali tidak memperdulikan dan pergi begitu saja. Padahal ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Tak bergeming dan terus berjalan dengan buru-buru kearah parkir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Raut wajahnya tampak memerah, karena ia sedang menahan amarahnya.
Sesampainya ia di depan butiknya Dinda, Anton langsung turun dari mobil dan masuk kedalam butik dengan raut wajah yang terlihat marah. Karyawan yang melihatnya pun merasa ketakutan. Dinda yang melihatnya pun tampak terkejut dan langsung berdiri menyambut sang suami.
"Sayang, kamu kenapa kesini?" tanya Dinda menghampiri Anton.
"Jadi alasan kamu ingin tetap bekerja, karena kamu mau cari perhatian dari laki-laki lain!" bentak Anton.
"Maksud Kakak apa?" tanya Dinda kebingungan.
Dengan kasar Anton meraih tangan Dinda dan menariknya keluar dari butik. Anton menyuruh Dinda masuk kedalam mobil dan memanggil asistennya Sri untuk masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan, Dinda hanya terdiam merasa takut. Karena hari itu kali pertamanya melihat sang suami begitu marah sampai membentaknya.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah, Anton meluapkan semua emosinya. Dia membentak dan memarahi Sri, karena membiarkan sang istri sendirian di butik. Karena Anton marah-marah tak terkendali, hal itu membuat Dinda ketakutan dan menangis.
"Mbak Sri! Kamu kenapa membiarkan istriku sendirian di butik? Kalau terjadi sesuatu sama dia bagaimana?" tanya Anton dengan nada tinggi.
"Maaf Den, Non Dinda yang menyuruhku pergi makan siang dengan karyawan butik," jawab Sri ketakutan.
"Bukankah sudah aku katakan berulang kali, kalau kamu tidak boleh meninggalkan istriku sendirian, kecuali kalau kamu mau pergi ke toilet!" kata Anton yang masih dengan nada tinggi.
Dinda yang sudah tidak tahan melihat Anton marah pun langsung naik keatas. Ia masuk ke kamar dan menangis. Menyadari Dinda masuk ke kamar, Anton pun segera naik kelantai atas menyusulnya. Dilihatnya Dinda yang sedang tiduran sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Darimana Kak Anton tahu, kalau aku sendirian di butik?" tanya Dinda penasaran.
"Ya tau, karena aku hm...," Anton gelagapan menjawab pertanyaan dari Dinda.
"Oh, jadi Kak Anton memata-mataiku?" tanya Dinda curiga.
Karena tidak bisa menjawab, akhirnya Anton pun memberitahu Dinda yang sebenarnya, bahwa ia memasang CCTV di butiknya. Lalu Anton mulai marah-marah lagi, ketika ia memperlihatkan rekaman CCTV kepada Dinda. Melihat Dinda yang begitu akrab dengan laki-laki lain, membuat Anton cemburu. Sekali lagi Anton membentak Dinda karena amarahnya saat itu tak terkendali.
"Kenapa kamu terlihat nyaman saat laki-laki itu mengajakmu ngobrol! Apa kamu suka sama dia?" tanya Anton gregetan.
"Kakak terlalu berlebihan! Dia itu hanya pelanggan yang sedang membeli gamis. Aku sebagai penjual hanya melayaninya dengan baik, tapi bukan berarti aku suka sama dia!" jawab Dinda sambil menangis sesenggukan.
"Aku gak mau tahu, pokoknya mulai besok kamu tidak boleh pergi kemana-mana!" bentak Anton dengan kesal.
Puas marah-marah, Anton kemudian pergi untuk mandi, karena ia merasa badannya terasa panas. Selesai mandi, perasaannya mulai membaik dan menyesali perbuatannya yang sudah marah dan membentak sang istri.
"Sayang, maafin Kakak yang sudah kasar sama kamu," kata Anton meminta maaf.
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu denganmu," imbuhnya sambil mengelus rambut Dinda.
Dinda tak merespon perkataannya sang suami. Ia membalikkan badannya membelakangi Anton. Saat itu Dinda benar-benar kecewa dengan sang suami, karena sudah bersikap berlebihan. Karena Anton terus meminta maaf kepadanya dan mengganggunya, Dinda pun langsung turun dari ranjang. Ia keluar dari kamar turun kebawah.
Anton pun mengikutinya dari belakang dan menyuruh Dinda untuk berhati-hati saat menuruni anak tangga. Kemudian Dinda masuk kedalam kamar tamu dan mengunci pintunya. Anton pun dibuatnya panik dan menggedor-gedor pintu kamar, tetapi Dinda tak meresponnya.
*****
Tok Tok Tok
"Sayang, kamu belum makan malam. Buka pintunya, ayo makan dulu!" Anton memanggil Dinda untuk makan.
__ADS_1
"Aku gak lapar!" sahut Dinda.
Sebenarnya saat itu Dinda sedang menahan rasa laparnya, tetapi karena dia masih kesal dengan sikap sang suami, ia pun terpaksa menahan rasa laparnya. Sebagai hukuman, agar Anton tak lagi bersikap berlebihan. Semenjak dia ketahuan hamil, Dinda merasa jika Anton terlalu protektif yang membuatnya tidak merasa nyaman.
Dinda senang mendapat perhatian lebih dari sang suami. Tetapi, terkadang perhatian Anton terlihat ekstrim dan paranoid.
"Kakak janji gak akan kasar lagi dan membolehkan kamu melakukan apa saja, tapi sekarang kamu makan dulu!" kata Anton dari balik pintu.
Ceklek!
Dinda langsung membuka pintu, setelah mendengar janji sang suami. Makanan yang dibawa oleh Anton pun langsung ia serobot dan memakannya hingga habis. Anton yang melihat Dinda makan dengan lahapnya pun tersenyum senang.
"Kakak janji gak akan melarang ku melakukan apa saja 'kan!" kata Dinda yang baru selesai makan.
"Iya janji! Tetapi dengan syarat, kalau Kakak akan menemani kamu kemanapun kamu pergi. Dan kalau Kakak ada meeting, kamu harus ikut Kakak! Itu keputusan mutlak, gak bisa diganggu gugat!" sahut Anton tersenyum.
"What! Maksudnya, Kakak akan ikut denganku kemanapun aku pergi?" tanya Dinda memastikan.
Anton tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak sanggup lagi merasakan kekhawatiran yang hampir membuat dirinya gila. Satu-satunya cara adalah membiarkan Dinda melakukan semua apa yang dia inginkan dan selalu berada di sampingnya. Untuk urusan perusahaannya, Anton mempercayakan kepada Loren dan memberinya gaji dua kali lipat.
Saat ini, Dinda dan calon bayinya adalah prioritasnya. Lebih penting daripada harta yang ia miliki. Anton tak ingin membuat Dinda marah dan ingin membahagiakannya dengan caranya.
"Maafkan Kakak, mungkin kamu sangat tertekan dengan sikap Kakak. Melihatmu menangis, hati Kakak terasa sakit. Kakak sangat mencintaimu dan bayi kita dan aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian," kata Anton memeluk Dinda.
"Dinda juga minta maaf, karena sudah membuat Kakak khawatir!" sahut Dinda membalas pelukan sang suami.
Akhirnya, malam itu mereka berbaikan dan saling minta maaf satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1