Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Pesan Dari Siapa?


__ADS_3

Sudah seminggu lebih Dinda tidak ikut pergi ke kantor dengan Anton. Mungkin karena semua karyawan sudah tahu bahwa dirinya dan sang kakak sudah menikah. Entah karena malu atau memang sedang tidak ingin ikut pergi, tetapi yang jelas untuk sementara ini dia tidak mau datang ke kantor.


Hari ini dia berpamitan dengan sang kakak jika dirinya akan pergi ke rumah kontrakannya untuk mengambil barang-barangnya yang masih di sana. Anton melarangnya, tetapi Dinda masih tetap ingin kesana untuk berpamitan kepada yang punya rumah. Sehingga Anton menyuruh Dimas untuk mengantarkannya.


Dengan di temani Inah, Dinda siang itu di antar oleh Dimas pergi ke rumah kontrakannya. Sesampainya dia di sana, Dinda mengemasi semua barang-barangnya dengan di bantu Inah dan Dimas.


Karena yang punya rumah kontrakan tidak di rumah terpaksa mereka menunggu.


"Yang punya kontrakan gak di rumah nih! Kak Dimas ajak Mbak Inah jalan-jalan saja dulu. Biar saling kenal satu sama lain." suruh Dinda kepada Dimas.


"Mbak Inah mau gak jalan-jalan?" tanya Dimas.


"Terserah Mas Dimas saja!" sahut Inah malu-malu.


Baru saja Dimas dan Inah mau pergi, tiba-tiba Yuki datang. Dimas pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Inah yang tadinya semangat pun berubah menjadi sedikit kecewa. Dinda sendiri terkejut melihat kedatangannya, padahal dia tidak memberitahu kepada Yuki, bahwa dirinya sedang di kontrakan.


"Kok kamu tahu kalau aku di sini?" tanya Dinda heran.


"Tadi kak Anton buat status, terus aku chat dia dan dia bilang kalau kamu lagi di kontrakan. Kebetulan tadi aku ada di sekitar sini, jadi aku mampir dah!" jawab Yuki menjelaskan.


Karena kesibukannya kuliah, Yuki memang jarang datang menemui Dinda. Tetapi walaupun jarang ketemu, mereka sering ngobrol melalui telepon dan curhat. Apalagi sekarang kehamilan Dinda menginjak enam bulan, dia tak lagi bisa keluyuran kesana kemari, karena Anton melarangnya.


Dimas pun menyapa Yuki, begitupun Yuki juga membalas sapaan dari Dimas. Sedangkan Inah memilih untuk pergi ke dapur dan memainkan ponselnya. Ia merasa tidak pantas duduk bareng mereka. Karena ketika mereka mengobrol tentang hal ini dan itu, Inah tak begitu paham.


"Mbak Inah kemana?" tanya Dinda sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Tadi dia ke belakang." jawab Yuki.


Dinda kemudian beranjak dari duduknya dan mencari keberadaan Inah. Karena Inah sedang duduk menyendiri sambil bermain ponselnya, Dinda pun menyadari kalau Inah merasa dirinya berbeda status. Padahal Dinda sendiri tidak pernah membedakan statusnya dengan siapapun. Dia menganggap Inah sebagai kakak perempuannya.

__ADS_1


Kebetulan, di waktu yang sama, pemilik kontrakan pun pulang. Lalu Dinda dan Inah menemuinya untuk mengembalikan kunci rumah, sekalian berpamitan. Dinda membawa semua perabotan yang ia beli sebelumnya dan yang di belikan oleh Yuki.


"Yuki, ayo mampir ke rumah." ajak Dinda kepada Yuki.


"Lain kali saja Din! Takut di Mama ngomel." tolak Yuki yang memang tidak boleh pulang telat oleh sang Ibu.


Bersyukur Yuki tidak mau kerumahnya, karena sepertinya Yuki tertarik sama Dimas. Dari cara ia berbicara dan logatnya, Dinda bisa paham dengan sang sahabat jika ia tertarik dengan Dimas. Salah Dinda sendiri pernah menjodohkannya dengan Dimas.


Semua itu karena Dinda tidak mau Inah kecewa. Apalagi tadi Dimas gak jadi ngajak Inah jalan-jalan, karena kedatangan Yuki. Pasti Inah kecewa banget. Dinda pun merasa bersalah akan hal itu.


"Kak berhenti sebentar!" suruh Dinda kepada Dimas.


"Kenapa Din?" tanya Dimas menghentikan laju mobilnya.


Kemudian Dinda turun dari mobil, ia mengetuk sebuah rumah yang sudah tidak bagus. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya. Dinda mengobrol sebentar dan kemudian balik ke mobil. Lalu ia minta tolong kepada Dimas dan Inah untuk menurunkan barang-barangnya.


"Yuk kak pulang!" ajak Dinda.


"Kamu baik banget sih Din." puji Dimas kepada Dinda.


Karena memang di rumah barang-barangnya sudah ada, jadi daripada di tinggal di kontrakan, lebih baik di berikan kepada orang yang tidak mampu. Tanpa mereka sadari, Rizal yang baru pulang dari kerja melihat apa yang mereka lakukan tadi.


*****


Dinda dan Anton baru saja selesai menunaikan Ibadah Sholat Isya. Lalu mereka berdua rebahan di atas ranjang sambil menonton TV. Tiba-tiba kenangan dengan Rizal terlintas di benaknya. Dinda pun langsung membalikan badannya dengan posisi miring membelakangi sang kakak.


Anton yang menyadari hal itu pun langsung menghampiri Dinda dan mengecupnya di bagian daun telinganya. Lalu Anton memeluknya dari belakang. Ia pikir Dinda kelelahan karena seharian Dinda pergi. Tetapi Anton tersenyum senang, karena Dinda mau balik tinggal bersamanya lagi.


"Sayang, kamu capek?" tanya Anton dengan nada lembut.

__ADS_1


"Gak capek kok!" jawab Dinda.


Karena suara Dinda terdengar sedih, Anton pun menarik tubuh Dinda hingga tubuh Dinda terlentang. Lalu Anton mulai menciuminya dengan lembut. Karena hormon Dinda sedang naik, ia pun membalas setiap ciuman yang di berikan Anton hingga nafas mereka berdua tersengal.


Dinda yang agresif membantu Anton melepaskan kaos warna putih yang ia pakai, Dinda menyentuh bagian perut sang kakak yang sixpack. Melihat sixpack di perut sang kakak, Dinda pun tersenyum nakal sambil mencium leher Anton dan meninggalkan beberapa tanda di sana. Anton memprotesnya, karena besok ia harus meeting.


"Kakak gak suka!" tanya Dinda kecewa.


"Suka, tapi jangan di sini." jawab Anton tersenyum.


Kemudian Dinda kembali membuat tanda di dada Anton. Tak hanya Dinda yang bisa membuat tanda, Anton pun membuat tanda di setiap bagian sensitif milik Dina. Dinda memprotes, tapi dia sangat menikmati apa yang di lakukan sang kakak terhadap tubuhnya.


Setelah selesai berhubungan suami istri, mereka berdua mandi bersama. Selesai mandi Anton membantu Dinda mengeringkan rambutnya dengan teliti dan mengolesi perut Dinda dengan minyak Zaitun. Anton pun menyadari kalau tubuh Dinda terlalu kurus untuk Ibu hamil.


"Sayang, besok kita periksa ya!" ajak Anton yang mulai khawatir.


"Tapi kan belum waktunya periksa kak, lagian kakak besok ada meeting." sahut Dinda.


"Gak apa-apa, kakak bisa cancel meetingnya." imbuh Anton sambil memeluk tubuh Dinda.


Memang dasarnya Dinda memiliki postur tubuh ramping, hamil pun tidak terlalu terlihat. Tetapi tetap saja Anton merasa khawatir. Apalagi menyangkut kesehatan janin dan sang Ibu.


Setelah rambut Dinda kering, Anton pun menyuruh Dinda untuk segera tidur. Karena Ibu hamil harus cukup tidur. Ketika Dinda sudah tidur, Anton mulai berfikir. Karena sejauh ini Dinda tidak memperlihatkan bahwa dirinya mencintainya.


Lalu iseng-iseng Anton membuka ponsel Dinda. Ia membuka isi pesan di ponsel Dinda dan Ia cukup kaget membaca isi pesan tersebut. Lalu ia menghela nafas dalam-dalam menahan emosi. Lalu ia mengembalikan ponsel Dinda ke atas nakas.


Anton tidak bisa tidur setelah mengecek ponselnya Dinda. Ia pun keluar dari kamarnya sambil membawa laptopnya. Ia menuruni anak tangga dan betapa kagetnya dia, saat melihat Inah dengan masker wajahnya dan rambut terurai panjang. Dia pikir melihat kuntilanak, hampir saja Anton terpeleset di tangga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2