Menikah Dengan Kakak Angkat

Menikah Dengan Kakak Angkat
Anton Canggih


__ADS_3

Suasana hatinya jauh lebih tenang, menikmati kesunyian dengan menyibukkan diri menulis sebuah novel tentang kehidupannya. Raut wajahnya berseri, walau perutnya terasa mual ingin mengeluarkan semua makanan yang ia makan. Itu hal yang lumrah yang di alami ibu yang sedang hamil muda.


Untuk mengurangi rasa mual-mual, Dinda keluar dari kamarnya dan berolahraga ringan. Tetapi cara itu tidak berhasil untuk menenangkan perutnya yang mulai meronta ingin mengeluarkan isinya. Ia pun keluar rumah, ia berjalan mondar-mandir di depan rumah. Tiba-tiba matanya melihat sebuah pohon dengan buahnya yang bergelantungan.


"Mbak Inah!" Panggil Dinda bersemangat.


"Ada apa Non." Sahut Inah sambil berlari keluar rumah.


"Tuh ada mangga muda, bikin rujak yuk!" Ajak Dinda merayu.


"Ini masih terlalu pagi Non, nanti kalau agak siang. Lagian kita tidak punya pisau sama alat buat bikin sambalnya" Ujar Inah.


Karena memang pagi itu masih jam sembilan pagi, tetapi keinginan Dinda untuk makan rujak tak bisa ia tahan. Akhirnya dengan terpaksa, Dinda memetik mangga sendiri. Karena dia tidak punya pisau, ia pun memecahkan mangga dengan batu.


Inah yang melihatnya pun merasa kasihan, lalu ia berpamitan kepada Dinda untuk mencari pasar terdekat. Lalu Dinda memberinya beberapa lembar uang seratus ribu untuk membeli barang-barang yang di butuhkan.


"Mbak Inah gak apa-apa nih pergi sendiri?" Tanya Dinda khawatir.


"Iya gak apa-apa Non." Jawab Inah dengan percaya diri.


Lalu Inah masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian, tak lupa ia mengambil ponselnya. Ketika ia sedang mengecek jam di ponselnya, ia melihat sebuah pesan singkat dari sang Ibu. Inah pun dengan segera membuka pesan itu.


"Inah, kalau kamu memberitahu ku Dinda ada di mana, aku akan bantu kamu untuk dekat dengan Dimas." Isi pesan itu.


Ternyata pesan itu bukan dari sang Ibu, melainkan dari Anton. Dia senang ketika melihat pesan itu, karena Anton menjanjikan dia supaya dekat dengan Dimas, laki-laki pujaan hatinya. Tetapi di sisi lain dia tidak mau menjadi pengkhianat, yang mengkhianati Dinda yang sudah memohon kepadanya untuk tidak memberi tahu Anton atas keberadaannya.


Untung saja Inah lebih memilih untuk berpihak kepada Dinda, jadi dia mengabaikan pesan itu dan kemudian Inah menelpon sang Ibu untuk tidak meminjamkan ponselnya kepada Anton atau memberitahu sesuatu kepadanya.


Inah pun pergi dan bertanya pada tetangga letak pasar. Ternyata tidak begitu jauh dari rumah, membutuhkan waktu sekitar 10 menit jika berjalan kaki. Beruntung tetangga itu baik hati, Inah pun di antar oleh tetangga itu dengan menggunakan sepeda motor.

__ADS_1


*****


Bukan Anton namanya kalau dia tidak punya cara untuk mencari keberadaan Dinda. Dia menggunakan ponsel barunya untuk menghubungi Inah. Anton sengaja tidak menghubungi Dinda, karena dia tahu kalau Dinda tidak akan meresponnya dan tentu saja dia tidak menyalakan GPS nya agar tidak terlacak siapapun.


Pertama yang ia lakukan melacak keberadaan Inah, kebetulan Inah menyalakan GPS nya, jadi Anton bisa tahu dimana ia berada. Setelah ia tahu keberadaan Inah, Anton pun segera menuju ke tempat di mana Inah berada.


"Anton, kamu mau kemana?" Tanya Loren.


"Aku mau pergi, tolong kamu urus pekerjaanku." Jawab Anton berjalan menuju ke arah lift.


Loren tampak kesal dengan sikap Anton yang mulai cuek lagi dengannya. Rasa sakit di hati yang tersisa, membuatnya tidak rela menyerah begitu saja. Apalagi, cintanya terhadap Anton terlalu dalam, dia berkali-kali mencoba untuk tidak memikirkan Anton, tetapi tetap saja tidak bisa.


Anton baru saja sampai di sebuah pasar, ia terus mengecek keberadaan Inah melalui ponselnya. Sekitar 15 menitan ia mengelilingi pasar, akhirnya Anton melihat Inah yang sedang berdiri di depan toko penjual cobek. Dengan senyum penuh kemenangan, Anton pun menghampirinya.


"Mbak Inah.... Apa kabar?" Sapa Anton sambil melambaikan tangannya.


"Ya taulah.. Di jaman canggih ini, apa sih yang gak bisa!" Sahut Anton tersenyum licik.


Karena Inah tidak mau Anton tahu tempat di mana Dinda berada, ia pun sengaja tidak langsung pulang. Ia membiarkan Anton mengikutinya mengelilingi pasar. Bahkan Inah masuk ke dalam pasar ikan, berdesakan dengan banyak orang.


Ketika Anton lengah, Inah berlarian meninggalkan Anton yang masih di dalam pasar ikan. Tetapi tak lama kemudian, Anton pun menemukannya lagi. Hal itu membuat Inah bingung, bagaimana bisa Anton menemukannya secepat itu.


"Mbak Inah jangan main-main gitu dunk! Ayo pulang, aku mau ketemu Dinda." Protes Anton yang sudah tidak tahan dengan bau pasar.


"Den Anton saja gak mau ngakuin anak yang di kandung Non Dinda, kenapa sekarang mau bertemu sama Non Dinda!" Ujar Inah dengan kesal.


"Kemarin-kemarin aku salah mbak, makanya aku mau ketemu sama Dinda dan minta maaf sama dia." Sahutnya penuh rasa bersalah.


Tetapi Inah terlanjur kesal dengan sikap Anton yang seenaknya menyakiti hati Dinda. Apalagi Dinda sudah mengatakan bahwa dirinya akan berpisah dengan Anton setelah ia melahirkan. Itu artinya, Dinda sudah tidak mau melanjutkan pernikahannya dengan Anton.

__ADS_1


Inah tahu banyak dengan hubungannya Anton dan Dinda. Mereka menikah karena terpaksa, bahkan hamil pun karena terpaksa dan tidak ada cinta di antara mereka. Apalagi Dinda masih umur belasan tahun, masa depannya masih panjang. Lagi pula ada Rizal yang sangat sayang kepadanya dan Dinda pun sangat mencintai Rizal. Menurut Inah, Rizal jauh lebih baik untuk Dinda ketimbang Anton.


Kring Kring Kring....


Ponsel Inah berdering.


Panggilan itu dari Dinda. Inah memberitahu kepada Dinda bahwa Anton membuntutinya. Lalu Dinda menyuruh Inah untuk mematikan GPS nya, agar Anton tidak bisa lagi melacak keberadaannya.


Saat itu Anton mendengarkan semua percakapan mereka. Anton tampak kesal ketika ia tahu kalau Dinda menyuruh Inah untuk mematikan GPS nya. Tapi Anton tidak mau menyerah, ia masih sabar menunggu Inah, jika sewaktu-waktu ia pulang dan dia akan mengikutinya.


"Den, sudahlah! Biarkan Non Dinda bahagia sama Rizal. Lagian kemarin kamu kasar sama dia dan sekarang Non Dinda aman sama aku." Kata Inah keceplosan.


"Apa! Sama Rizal? Maksud Mbak Inah, Dinda tinggal sama Rizal?" Tanya Anton terkejut.


"Bu-bukan begitu maksudku Den! Kalian kan tidak saling mencintai, Den Anton sudah punya pacar dan Non Dinda juga punya pacar. Jadi untuk apa Den Anton mencari Non Dinda." Jawab Inah kesal.


Saat itu Anton sedang menahan amarahnya, tidak mungkin ia melepas Dinda begitu saja, karena Dinda sedang mengandung anaknya. Lain cerita kalau Dinda tidak sedang hamil, mungkin Anton akan melepaskan Dinda untuk kebahagiaannya.


"Aku punya alasan kenapa aku ingin bertemu dengan Dinda. Mbak Inah tidak tahu apa-apa, tolong antar aku untuk menemui Dinda." Anton memohon.


"Tapi Den, Non Dinda benar-benar tidak ingin bertemu denganmu. Beri dia waktu, mungkin suatu saat nanti dia mau bertemu dengan Aden. Saat ini biar Non Dinda melepas semua rasa lelah di hatinya. Dia masih bersedih atas meninggalnya nenek, jadi jangan nambahin stres!" Ucap Inah menjelaskan.


Sepertinya Anton mulai mengerti dan mungkin saja Dinda membutuhkan waktu untuk sendiri. Akhirnya, ia pun berpamitan kepada Inah untuk pergi. Dia juga berpesan kepada Inah, agar menjaga Dinda. Jika Dinda mengalami kesulitan, Anton juga menyuruh Inah untuk menghubunginya.


Inah merasa lega setelah Anton pergi. Walaupun sebenarnya ia ingin menyogok Anton untuk membantunya dekat dengan Dimas. Tetapi, setelah ia pikir-pikir, Dimas tidak mungkin menyukainya karena ia hanyalah seorang asisten rumah tangga yang memiliki wajah pas-pasan.


Kemudian, Inah kembali ke tempat penjual cobek. Teringat Dinda yang ingin membuat Rujak dan membeli beberapa perabotan yang di butuhkan, seperti panci untuk merebus mie instan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2