
Senyum cerah menghiasi wajah Dinda pagi itu. Masih tidak menyangka, jika dirinya sudah menjadi seorang ibu. Ia pun tersenyum geli sambil memandangi bayinya yang masih tertidur pulas di ranjang bayi. Dengan hati-hati Dinda menurunkan kakinya dan rasa perih, ngilu di bagian bawah masih terasa. Tetapi, ia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan pergi ke kamar mandi yang berada didalam ruangannya.
"Sayang! Kenapa kamu tidak menungguku sampai aku datang!" protes Anton yang langsung menghampiri Dinda di dalam kamar mandi.
"Sudah gak tahan mau buang air kecil!" Dinda memberi alasan.
Anton membantu membersihkan bagian bawah Dinda dengan hati-hati. Ia juga membantu memakaikan pembalut wanita untuknya. Setelah selesai, Anton menyuruh Dinda untuk menggosok giginya dan mencuci wajahnya. Dinda tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat serius.
Dengan pelan, Anton menuntun Dinda keluar dari kamar mandi dan membantunya duduk di pinggir ranjang. Lalu Anton menyiapkan makanan untuk Dinda yang ia beli dari sebuah restoran. Makanan yang menunjang berbagai kebutuhan gizi untuk Dinda dan membuat produksi ASI melimpah. Sendok demi sendok, Anton menyuapi Dinda dengan telaten. Dinda yang tidak menyukai masakan itu pun mencoba menolak, tetapi Anton terus memaksanya untuk makan sayur katuk.
"Aku mau makan sendiri," rengek Dinda seperti anak kecil.
"Biar aku suapin, kalau kamu makan sendiri pasti gak habis!" sahut Anton yang masih tidak berhenti menyuapi Dinda.
"Kak Anton mulai nyebelin deh!" celetuk Dinda.
Seketika Anton berhenti menyuapi Dinda, lalu ia memberikan sendoknya agar Dinda makan sendiri. Tetapi, karena melihat raut wajah Anton yang terlihat kecewa, Dinda pun menyuruhnya untuk berlanjut menyuapinya. Anton menjelaskan kepada Dinda, dengan makan makanan yang ia siapkan akan menghasilkan ASI yang berkualitas baik.
Setelah selesai makan, mereka berdua pun berdiskusi untuk memberikan nama pada bayinya. Untuk urusan nama, Dinda mempercayakan sepenuhnya pada Anton. Hanya saja, Dinda menyarankan Anton untuk tidak menggunakan nama yang kebarat-baratan. Yang terpenting nama anaknya memiliki makna dan arti yang sangat bagus dalam Islam.
"Bagaimana kalau kasih nama Afzal Athallah Kusuma," Anton memberi nama untuk anaknya.
"Artinya apa Kak?" tanya Dinda penasaran.
"Afzal artinya yang terbaik dan Athallah artinya karunia dari Allah. Jika digabung artinya karunia dari Allah yang paling baik," kata Anton menjelaskan.
"Kalau Kusuma, apa artinya? Bukankah itu nama belakangnya Kakak?" tanya Dinda lagi.
__ADS_1
"Kusuma sebenarnya memiliki arti bunga. Tetapi disini aku hanya mengambil akhir dari namaku saja dan tidak memiliki arti," pungkasnya.
Dinda pun setuju dengan nama yang diberikan oleh Anton, karena memang kehadiran bayinya adalah karunia dari Allah yang tak mereka sangka. Suatu hal yang harus disyukuri Dinda bisa hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Mengingat kehamilannya yang begitu sulit dan tak ada harapan, Dinda pun pasrah hingga Allah memberikan kepercayaan kepada mereka berdua diberikan momongan.
Karena Dinda dan bayinya sehat, hari ini dokter pun mengijinkan mereka untuk pulang. Sebelum pulang, dokter terlebih dulu memastikan jika mereka berdua benar-benar sehat. Selain itu, dokter juga memberikan beberapa vitamin untuk Dinda, karena Dinda memiliki riwayat darah rendah.
*****
"Kenapa Kakak beli baju banyak sekali!" protes Dinda yang melihat baju bayi Afzal tertata rapi di atas ranjang.
"Gak apa-apa! Kan biar gonta-ganti," sahut Anton tersenyum gemas.
"Iya, tapi gak sebanyak itu Kak!" keluh Dinda menggelengkan kepalanya.
Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Dinda dibuat terkejut oleh sang suami dengan barang-barang dan baju yang telah Anton persiapkan untuk Afzal. Seharusnya seorang ibu yang bersemangat untuk belanja, tetapi Anton malah yang bersemangat berbelanja membelikan semua kebutuhan sang buah hati.
"Habis uang berapa ini semua Kak? Haduh... kalau lihat barang banyak begini aku jadi ingat anak-anak yang kelaparan!" gerutu Dinda.
"Tapi gak berlebihan seperti ini Kak! Beli sesuai kebutuhan, bukan kemampuan!" celetuk Dinda.
Bukan karena pelit, tetapi Dinda tidak suka membeli barang-barang yang tidak terlalu berguna. Ia pikir, bayi akan tumbuh dengan cepat dan juga tidak memerlukan baju banyak. Kalau membeli baju bayi terlalu banyak, beberapa bulan kemudian tidak akan terpakai dan bagi Dinda itu hanya buang-buang uang. Daripada buang-buang uang, lebih baik uang itu digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan.
Karena selama Dinda memiliki butik, 80 persen penghasilan dari butik ia santun kan untuk yayasan panti asuhan. Mungkin karena kedermawanan Dinda, sehingga Allah mempermudahkan dirinya mendapatkan buah hati.
"Iya iya, lain kali aku gak akan beli barang-barang yang tidak begitu penting," kata Anton agar Dinda berhenti menasehatinya.
"Ya sudah, aku mau istirahat! Mumpung Afzal tidur, semalam aku gak bisa tidur karena setiap tiga jam harus menyusuinya," ucap Dinda yang terus menguap.
__ADS_1
"Iya sayang, cepetan bobo! Nanti aku kasih tahu Mbak Sri, kalau kamu ingin makan Ayam goreng Ok?" ujar Anton tersenyum.
Anton kemudian menghampiri Dinda yang saat itu sudah merebahkan badannya di atas ranjang. Dengan mesra Anton memeluknya dari belakang. Dibisikkannya sebuah kata-kata yang membuat Dinda merasa tersentuh. Dengan segera Dinda membalikkan badannya dan mengecup bibir manis sang suami. Dengan mesra mereka saling bertautan satu sama lain.
Baru saja mereka berdua sedang menikmati waktu berduaan, tiba-tiba Afzal terbangun dan menangis. Dengan segera Dinda beranjak dari ranjang dan menyusuinya. Anton merasa khawatir ketika Dinda tidak hati-hati saat berjalan, karena dia tahu kalau bagian bawah Dinda dijahit dan masih sakit.
"Kalau jalan hati-hati sayang, kata Dokter kan biar jahitannya gak lepas!" tegur Anton yang merasa khawatir.
"Sudah gak begitu sakit kok!" sahut Dinda sambil menyusui bayinya.
"Gak begitu, berarti masih sakit!" gerutu Anton sambil melihat Dinda yang sedang menyusui.
Karena putiknya Dinda pecah-pecah, ia pun meringis kesakitan saat menyusui baby Afzal. Anton yang tidak paham pun mengira kalau Afzal menggigit putiknya Dinda. Karena Dinda terus meringis kesakitan pun membuat Anton merasa khawatir, lalu menyuruh Dinda untuk berhenti menyusui.
"Sayang, Afzal apa menggigit mu? Berhenti dulu menyusui, biar Afzal gak menggigit mu!" suruh Anton memandangi Dinda yang masih meringis.
"Gak digigit Kak! Kayaknya putiknya luka, jadi sakit," sahut Dinda langsung mengganti posisi Afzal ke dada kanannya.
"Kok bisa luka? Coba sini Kakak lihat!" Anton dengan serius melihat putiknya Dinda.
Rupanya, bagian pinggir putiknya Dinda pecah-pecah. Anton pun dengan sigap mencari tahu melalu google bagaimana mengatasi putik yang luka karena menyusui. Lalu Anton mengambil air hangat dan mengompres putiknya Dinda dengan lembut. Mendapat perhatian seperti itu dari sang suami, membuat Dinda merasa terharu.
"Maaf ya sayang, karena menyusui bayi kita dada mu jadi sakit!" kata Anton sambil mengompres putiknya Dinda.
"Sudah kewajiban seorang Ibu Mas dan semua ini 'kan gak sia-sia, karena Allah akan mengucurkan rahmatNya di setiap susu yang diminum Afzal," ujar Dinda tersenyum.
"Iya, tapi aku gak tega melihat kamu kesakitan kayak gitu. Ngelahirin sakit dan sekarang menyusui juga sakit," sahut Anton merasa kasihan.
__ADS_1
Setelah selesai menyusui, Anton menyuruh Dinda untuk istirahat. Sedangkan dirinya keluar dari kamar dan menyuruh asistennya untuk memasakkan kesukaan sang istri.
Bersambung..